mind-body-soul

Gustinerz.com | Imogene M. King (1995) dalam Alligood (2016) memandang individu adalah unik dan holistik mampu berfikir rasional dan pengambilan keputusan. Betty Neuman (dalam Alligood, 2016) mengubah istilah holistik menjadi wholistik yang makna dan pengertiannya sama, yaitu memandang klien sebagai suatu keseluruhan yang bagian-bagianya saling mempengaruhi dan berinteraksi secara dinamis yang meliputi fisiologis, psikologis, sosiokulturan dan spritual. Sister Callista Roya juga memandang individu secara holistik dalam penerapan teori adaptasi yang dikembangkannya.

Kozier (1995) dalam Salbia (2006) menyatakan bahwa dalam holistik, memandag semua kehidupan organisme sebagai interaksi. Gangguan pada satu bagian akan mengganggu sistem secara keseluruhan. Holistik berkaitan dengan kesejahteraan (wallness) yang diyakini mempunyai dampak terhadap status kesehatan manusia.

Roy mengemukakan pandangan tentang manusia sebagai penerima asuhan keperawatan dlaam kaitannya dengan teori adaptasi, bahwa manusia mahluk bio-psiko-sosial secara utuh (holistik).

Keperawatan komplementer dan alternatif sebagai pengembangan terapi tradisional diintegrasikan kedalam terapi moderen yang berpengaruh pada individu secara keseluruhan yakni dari aspek biologis, psikologis, sosiologis, kulutral, dan spritual. Sehinga terapi komplementer dan alternatif dapat diterapakan dalam pelayanan keperawatan yang memandang individu adalah holistik (bio-psiko-sosio-kultural-spritual). Dalam catatan keperawatan Florence Nightingale menyebutkan pentingnya mengembangkan lingkungan untuk penyembuhan dan pentingnya terapi seperti musik dalam proses penyembuhan (Widyatuti, 2008).

Dalam teori adaptasi yang kembangkan oleh Roy mengungkapkan efektor atau model adaptasi yang terdiri dari empat faktor yaitu:

  1. Fisiologi; teridiri dari: oksigenasi, eliminasi, nutrisi, aktivitas dan istirahat, sensori, cairan dan elektrolit, fungsi syaraf, fungsi endokrin dan reproduksi.
  2. Konsep diri; menunjukan pada nilai, kepercayaan, emosi, cita-cita serta perhatian yang diberikan untuk menyatakan keadaan fisik.
  3. Fungsi peran; menggambarkan hubungan interaksi seseorang dengan orang lain yang tercermin pada peran primer, sekunder, dan tersier.
  4. Saling ketergantungan (interdependen); mengidentifikasi nilai manusia, cinta dan keseriusan. proses ini terjadi dalam hubungan manusia dengan individu dan kelompok.

Intervensi komplementer berkembang di tingkat pencegahan primer, sekunder, tersier dan dapat dilakukan di tingkat individu maupun kelompok. National Cener for Complementary/Alternative Medicine (NCCAM) membuat klasifikasi dari berbagai terapi dan sistem pelyanan dalam lima kategori, yakni;

  1. mind-body therapy: intervensi dengan teknik untuk memfasilitasi kapasitas berpikir yang mempengaruhi gejala fisik dan fungsi berpikir yang mempengaruhi fisik dan fungsi tubuh (imagery, yogo, terapi musik, berdoa, journaling, biofeedback, humor, tai chi, dan hypnoterapy).
  2. Alternatif sistem pelyanan yaitu sistem pelayanan kesehatan yang mengembangkan pendekatan pelayanan biomedis (cundarismo, homeopathy, nautraphaty)
  3. Terapi biologis yaitu natural dan praktik biologis dan hasil-hasilya misalnya herbal, dan makanan
  4. Terapi manipulatif dan sistem tubuh (didasari oleh manupulasi dan pergerakan tubuh misalnya kiropraksi, macam-macam pijat, rolfiing, terapi cahaya dan warna, serta hidroterapi.
  5. Terapi energi: terapi yang berfokus pada energi tubuh (biofields) atau mendapatkan enegeri dari luat tubuh (terapetik sentuhan, pengobatan sentuhan, reiki, external qi gong magnet) terapi ini kombinasi antar energi dan bioelektromagnetik.

Teori-teri keperawatan diatas menjelaskan penting perawat memberikan asuhan keperawatan secara holistik untuk kesembuhan klien atau memenuhi kebutuhan dasar klien.

Penerapan terapi komplementer dan alternatif dalam asuhan keperawatan yang holistik harus didukung oleh pengetahuan atau kompetensi perawat. Misalnya terapi hipnocaring (yang memerlukan kiat atau metode khusus untuk dimanfaatkan dalam proses kesembuhan klien).

Tugas perawat dalam pemberian asuhan keperawatan yang meliputi proses pengkajian, diagnosa, intervensi, penatalaksanaan, dan evaluasi. Pada proses intervensi perawat bisa memilih beragam intervensi komplementer dan altenatif yang bisa digunakan dalam proses penyembuhan klien. Salah satu contoh penerapan terapi komplementer pada klien adalah menurunkan kecemasan dengan terapi hipnocaring (yang sudah diteliti memiliki efektifitas dalam menurunkan berbagaia macam gangguna psikososial yang berdampak pada sisitem tubuh lainya. << Beranda

Prinsip Keperawatan Holistik dalam Terapi Komplementer
Tag pada:    
shares