Desa Hutadaa, Kecamatan Talaga Jaya, Gorontalo, 30 Juli 2026 — Pascabanjir, ancaman terhadap kesehatan masyarakat tidak berhenti ketika air mulai surut. Lingkungan yang masih dipenuhi lumpur, genangan air, dan kotoran dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit. Menyadari hal tersebut, mahasiswa KKN Fakultas Olahraga dan Kesehatan serta Fakultas Kedokteran  UNG turun langsung ke tengah masyarakat melalui kegiatan edukasi dari rumah ke rumah dengan mengangkat tema “Waspada Penyakit Pascabanjir”.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan informasi kesehatan secara langsung dan lebih dekat dengan masyarakat. Edukasi menggunakan leaflet sebagai media penyampaian informasi agar masyarakat lebih mudah memahami langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan setelah banjir. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mengajak masyarakat mengenali berbagai risiko kesehatan yang dapat muncul setelah banjir. Air yang tercemar dapat menjadi sumber penyakit, sementara genangan air berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Kondisi lingkungan yang lembap dan kotor juga dapat mempermudah penyebaran kuman serta meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan. Tidak hanya membahas risiko penyakit, mahasiswa turut mengajak masyarakat menerapkan berbagai langkah sederhana untuk melindungi kesehatan keluarga. Masyarakat diingatkan untuk menggunakan air bersih, merebus air minum hingga matang, mencuci tangan dengan sabun, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan alas kaki, membersihkan genangan air, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan dari lumpur maupun kotoran.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai penyakit pascabanjir, edukasi juga diarahkan pada pemahaman mengenai penggunaan obat secara rasional. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya mampu mencegah risiko penyakit, tetapi juga dapat mengambil langkah yang tepat ketika membutuhkan pengobatan setelah banjir. Penggunaan obat secara rasional juga menjadi salah satu fokus utama dalam edukasi. Mahasiswa memperkenalkan prinsip enam tepat penggunaan obat, yaitu tepat penyakit, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara penggunaan, dan tepat informasi. Masyarakat juga diberikan pemahaman agar tidak mengonsumsi antibiotik secara sembarangan karena penggunaannya harus sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan.

Perhatian khusus diberikan terhadap obat yang mungkin terpapar banjir. Masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan obat yang kemasannya telah basah atau lembap, mengalami perubahan warna maupun bentuk, berjamur, berbau tidak normal, atau memiliki label yang sudah tidak dapat dibaca. Mahasiswa juga menjelaskan pentingnya menyimpan obat di tempat yang kering dan bersih, terhindar dari kelembapan dan sinar matahari langsung, serta jauh dari jangkauan anak-anak. Selain upaya pencegahan, masyarakat juga diberikan informasi mengenai kondisi yang membutuhkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Warga diimbau segera memeriksakan diri apabila mengalami demam tinggi, diare yang terus-menerus atau disertai darah, batuk dan sesak napas yang tidak membaik, maupun luka atau infeksi yang semakin merah, bengkak, atau bernanah. Untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap materi yang diberikan, mahasiswa turut melakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Dalam pelaksanaannya, ibu hamil dan ibu yang memiliki balita diarahkan untuk mengikuti pengisian kedua tes tersebut. Pre-test dilakukan sebelum edukasi untuk mengetahui pengetahuan awal, sedangkan post-test diberikan setelah edukasi untuk melihat pemahaman setelah menerima materi.

Kegiatan berlangsung secara komunikatif. Warga tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi mengenai kondisi kesehatan serta kebiasaan penggunaan obat di lingkungan keluarga. Interaksi secara langsung tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan edukasi yang lebih mudah diterima dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui kegiatan edukasi dari rumah ke rumah ini, mahasiswa KKN Fakultas Olahraga dan Kesehatan serta Fakultas Kedokteran UNG berharap informasi yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga kebersihan lingkungan, memastikan keamanan air dan makanan, menggunakan obat secara tepat, serta segera mencari pertolongan ketika mengalami gejala penyakit menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran kesehatan masyarakat. Dengan hadir langsung dari rumah ke rumah, mahasiswa tidak hanya menyampaikan edukasi, tetapi juga mengajak masyarakat bersama-sama membangun keluarga yang lebih sehat dan tanggap terhadap risiko penyakit setelah banjir.

Leave a Comment