Ini Beda Penelitian Non-Eksperimen dan Eksperimental

Gambar: Vecteezy

Melakukan penelitian merupakan salah satu kewajiban seseorang yang sedang menyandang status sebagai mahasiswa baik pada tingkat diploma, sarjana, magister atau doktoral semuanya pasti memiliki tugas penelitian. Bagi seorang mahasiswa diploma atau sarjana yang saat ini sedang mengerjakan karya tulis ilmiah atau skripsi tentunya menjadi pengalaman berarti dalam perkuliahan.

Secara umum, penelitian hanya terdiri dari 2 yakni non-eksperimen dan eksperimental.



Rancangan penelitian non-eksperimen

  1. Rancangan penelitian deskriptif: penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang. Penelitian ini memusatkan pada pemecahan masalah-masalah aktual sebagaimana adanya. Hasil penelitian atau fenomena disajikan secara apa adanya tanpa manipulasi dan peneliti tidak mencoba menganalisis bagaimana dan mengapa fenomena itu bisa terjadi, sehingga jenis penelitian deskriptif tidak memerlukan adanya suatu hipotesis, akan tetapi hasil dari penelitian ini dapat dilanjutkan dengan melakukan penelitian analitik. Jenis penelitian deskriptif dapat dapat dibagi lagi, diantaranya:
    1. Studi kasus: rancangan penelitian yang mencakup satu unit penelitian secara intensif misalnya satu klien, kelompok, komunitas atau institusi. Salah satu keuntungan metode ini adalah pengkajian secara terperinci meskipun jumlah responden sedikit. Misalnya studi kasus tentang asuhan keperawatan klien dengan gangguan apendisitis.
    2. Survei: studi pengumpulan data yang relatif terbatas jumlah sampelnya, tetapi relatif besar jumlah populasi, dengan tujuan utama adalah mengumpulkan informasi tentang variable berdasarkan ruang lingkupnya dan subjektnya. Survei untuk mendapatkan informasi suatu tindakan, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku dan nilai.
  2. Rancangan penelitian korelasional (hubungan/asosiasi): mengkaji hubungan antar variabel dengan melibatkan minimal 2 variabel. Penelitian korelasional dilakukan bila variabel yang diteliti dapat diukur secara serentak dari suatu kelompok subjek. Contoh: hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan klien preoperasi. Cross sectional adalah jenis peneltiian yang menekankan waktu pengukuran/observasi variabel dependen dan independen hanya satu kali pada satu saat.
  3. Rancangan penelitian komparatif: Rancangan ini difokuskan untuk mengkaji perbandingan terhadap pengaruh pada suatu kelompok tanpa adanya perlakuan dari peneliti.
    1. Kohort: penelitian epidemiologis non-eksperimental yang mengkaji antara variabel independen (faktor resiko) dan variabel dependen (efek atau kejadian penyakit). Jenis penelitian ini sering disebut penelitian prospektif. Misalnya, penelitian mengenai pemberian ASI Eksklusif pada bayi yang diikuti selama 2 tahun, kemudian dilakukan observasi kejadian stunting.
    2. Kasus kontro (case control): penelitian ini melakukan pengukuran pada variabel dependen terlebih dahulu (efek, misalnya stunting), sedangkan variabel independen ditelusuri secara retrospektif untuk menentukan ada atau tidaknya faktor yang berperan misalnya ASI eksklusif.

Rancangan penelitian eksperimental

Penelitian eksperimental adalah rancangan penelitian yang digunakan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dengan adanya keterlibatan penelitian dalam melakukan manipulasi terhadap variabel bebas artinya ada perlakukan yang diberikan. Penelitian eksperimen dapat dibagi menjadi 3 yakni:

  1. Rancangan penelitian pra-eksperimental
    1. One-shot case study: melakukan intervensi pada satu kelompok kemudian dilakukan observasi pada variabel dependen setelah dilakukan intervensi. Contoh penelitian, intervensi mobilisasi dini terhadap percepatan penyembuhan luka pasca operasi.
    2. One-group pra-post test design (rancangan pra-pasca tes dalam satu kelompok): Ciri khas dari penelitian ini adalah melibatkan satu kelompok subjek dimana kelompok subjek diobservasi sbeelum dilakukan intervensi, kemudian dilakukan observasi lagi setelah dilakukan intervensi. Misalnya observasi nyeri sebelum dilakukan intervensi relaksasi nafas dalam dan setelahnya dilakukan observasi lagi.
    3. Static-group comparason group: penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari suatu tindakan pada kelompok subjek yang mendapatkan perlakuan, kemudian dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak mendapatkan perlakukan. Subjek penelitian tidak dilakukan observasi diawal.
  2. Rancangan penelitian ekperimen semu (quasi-ecperimental): Rancangan penelitian ini untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok ekperimen. Pemilihan kedua kelompok tidak menggunakan teknik acak. Rancangan ini menggunakan kelompok subjek yang sudah terbentuk sebelumnya. Contoh. Penelitian untuk melihat pengaruh senam nifas terhadap involusi uteri, kelompok responden diambil menjadi 2. Kelompok intervensi dilakukan senam nifas dan kelompok kontrol tidak dilakukan senam nifas, namun responden bisa menjalani terapi yang sudah diprogramkan sebelumnya.
  3. Rancangan eksperimental sungguhan (true-experimental): Rancangan ini untuk mengungkapkan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental yang dipilih dengan teknik acak. Misalnya, peneliti ingin meneliti pengaruh pemberian obat X terhadap penyembuhan penyakit pada kelompok perlakuan yang telah diberikan bakteri penyakit tertentu, kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberi bakteri penyakit tertentu, namun tidak diberikan obat jenis X (sebagai plasebo).

Referensi:

  • Nursalam, 2015. Metodologi penelitian ilmu keperawatan.
  • Diolah dari berbagai sumber ilmiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.