Pemanfaatan Kantong Plastik Dalam Mencegah Hipotermi Pada Neonatus

Gambar dari uk.gofundme.com

Gustinerz.com | Neonatus adalah bayi berumur 0 (baru lahir) sampai dengan usia 1 bulan sesudah lahir . Masa neonatal adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran (Muslihatun, 2010). Hipotermia telah lama diakui sebagai risiko yang serius bagi bayi baru lahir, khususnya bayi prematur dan bayi berat lahir rendah (Mullany LC, et al, 2010).

Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 36,5 °C suhu normal bayi, baru lahir berkisar 36,5°C – 37,5°C. Hipotermi merupakan masalah yang paling sering terjadi pada bayi dengan BBLR dikarenakan lemak subkutan sangat tipis sehingga mudah dipengaruhi oleh suhu lingkungan (Suradi & Yanuarso, 2009).

Hipotermia menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah, yang mengakibatkan terjadinya metabolik anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen, mengakibatkan hipoksemia dan berlanjut dengan kematian. Dampak dari hipotermi yang akan terjadi pada bayi baru lahir apabila tidak segera ditangani yaitu  hipoglikemia, konsumsi oksigen berlebihan, tertunda transisi sirkulasi janin-ke-neonatal, gangguan pernapasan sindrom, asidosis metabolik, koagulopati, intrakranial hemoragi, sepsis dan bahkan kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk mencegah hipotermia dengan ruang persalinan yang hangat (25°C), pengeringan langsung, dan resusitasi di bawah radiant warmer, kontak kulit ke kulit dengan ibunya, atau inkubator. Hilangnya panas secara evaporasi adalah penyebab utama kehilangan panas pada bayi baru lahir selama 30 menit pertama setelah lahir. Insensible water loss dan barier kulit yang imatur berkontribusi terhadap risiko peningkatan hipotermia pada bayi.

Salah satu alat berteknologi rendah untuk wilayah dengan keterbatasan sumber daya yang dapat dikembangkan adalah penggunaan kantong plastik.  Pembungkus polyethylene atau kantong plastik yang digunakan pada saat lahir dapat mengurangi hipotermia pada bayi prematur dan bayi berat lahir rendah bahkan sangat rendah, karena dapat mengurangi kehilangan panas evaporasi/konveksi, insensible water loss, dan kebutuhan untuk metabolisme produksi panas.

Metode kantong plastik telah dibuktikan efektif dalam beberapa penelitian. Menurut Pranoto & Windayanti (2018) Plastik ini akan mengurangi kehilangan panas karena penguapan dan kemungkinan radiasi tidak dapat melewati penghalang plastik sehingga dapat meningkatkan suhu bayi. Selain itu kantong plastik yang dibungkuskan pada bayi akan menjadi kedap udara sehingga akan mencegah kehilangan panas baik evaporasi, radiasi, konduksi, konveksi sehingga akan menghasilkan panas dan meningkatkan suhu.

Metode konvensional dan metode kantong plastik merupakan teknik pencegahan hipotermi yang hampir sama tetapi ada perbedaan. Jika dalam metode konvensional bayi diselimuti dengan kain dalam metode kantong plastik bayi ditempatkan kedalam plastik polyethylene sampai ke leher. Dibandingkan dengan selimut, plastik lebih mampu meningkatkan suhu bayi karena plastik kedap udara maka bayi tidak mudah terpapar udara sehingga mencegah terjadinya evaporasi, radiasi, konveksi dan konduksi.Pengeringan di bawah infant warmer, menggunakan topi, dan kain efektif untuk bayi mature, tetapi bayi prematur memerlukan tindakan lebih lanjut karena integritas kulit mereka yang memungkinkan peningkatkan kehilangan panas.

Metode kantong plastik dapat digunakan untuk pencegahan hipotermia pada neonatus, baik neonatus prematur maupun BBLR, karena Plastik ini akan mengurangi kehilangan panas akibat penguapan dan kemungkinan radiasi tidak dapat melewati penghalang plastik sehingga dapat meningkatkan suhu bayi. Selain itu kantong plastik yang dibungkuskan pada bayi akan menjadi kedap udara sehingga akan mencegah kehilangan panas baik evaporasi, radiasi, konduksi, konveksi sehingga akan menghasilkan panas dan meningkatkan suhu. < Beranda

Sumber:

  • Analisis Jurnal oleh Rekawandri Hermanto tahun 2018.