Oleh: Desiana Pratiwi Hantulu (Semester 7/B)

(tulisan ini dilombakan dalam kegiatan Diesnatalis Keperawatan UNG 2020)

Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan sebutan Covid-19 merupakan penyakit yang dilabeli dengan istilah “Pandemi Covid-19”, Hal ini dikarenakan berdasarkan Data Statistik JHU CSSE COVID-19, penyakit ini menyerang hampir 74 juta penduduk diseluruh dunia. Covid-19 disebabkan oleh Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV 2) yang menyerang saluran pernapasan. “Pandemi penyakit saluran napas diakibatkan oleh penyebaran via droplet dan kontak interpersonal” (Jamison dkk, 2017 dalam Darma Yanti dkk 2020).

Ketika WHO (2020) mengumumkan Covid-19 menjadi pandemi global pada 11 maret 2020 lalu, ada keprihatinan yang mendalam pada tingkat keparahan, tingkat penyebaran dan gangguan sosial dan ekonomi terjadi secara Internasional (Wordl Health Organization 2020 dalam Halcomb dkk 2020). Hal ini menjadi dampak tersendiri bagi tenaga kesehatan untuk merawat mereka yang sakit terinfeksi Covid-19 (Madhav et al,. 2017 dalam Halcomb dkk 2020).



Perawat sebagai bagian dari profesional kesehatan terbesar merupakan profesi vital dalam perawatan pada kondisi pandemi Covid-19 (WHO, 2020) perawat merawat langsung pasien dengan jarak dekat dan sering kali terpapar langsung dengan virus SARS-CoV-2 sehingga memiliki resiko tinggi tertular infeksi Covid-19 (Hope et al, 2011). “Laporan awal menunjukkan bahwa tingkat infeksi Covid-19 pada perawat lebih tinggi daripada saat pandemic SARS” (Huang et al, 2020).

Petugas kesehatan terutama perawat telah melakukan tugasnya sehari-hari dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan baik, tetapi belum dipuji sebagai seorang pahlawan di media dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar masyarakat memandang sederhana “Bagian dari pekerjaan”. Tetapi selama masa pandemi Covid-19  dalam 1 tahun terakhir muncul istilah “Pahlawan Kesehatan” (Cox Caitriona, 2020). “Apa yang telah merubah pandangan masyarakat kepada tenaga kesehatan terutama perawat sehingga memberikan label “Pahlawan Kesehatan”? Apakah ada perubahan substansial tentang tindakan menangani Covid-19 yang membenarkan perubahan narasi?”

Dalam masa pandemi Covid-19, resiko bagi tenaga kesehatan terutama perawat jauh lebih besar daripada yang ditemui dalam praktik normal. Selain resiko tertular infeksi, biaya lainnya termasuk ‘kelelahan fisik dan mental’, siksaan yang sulit terkait keputusan triase dan rasa sakit karena kehilangan pasien dan kolega/teman sejawat. Selain itu, biaya emosional karena harus tinggal jauh dari keluarga untuk mencegah penularan infeksi telah diakui oleh para tenaga medis di berbagai media. Pengalaman melakukan perawatan pada kondisi pandemi berpotensi menyebabkan konsekuensi jangka panjang dan pendek bagi diri perawat, lingkungan dan profesi keperawatan (Fernandes dkk, 2020 dalam Darma Yanti dkk 2020). Resiko inilah yang menjadi alasan terkuat untuk membenarkan istilah “Kepahlawanan” untuk tenaga medis terutama perawat yang berkontribusi dalam penanganan Covid-19. Selain itu, tersebar luas penggunaan bahasa militeristik yang memupuk citra staf garis terdepan yang bertindak heroik “Pertempuran” melawan virus Covid-19” (Cox Caitriona, 2020).

Dalam pelayanan kesehatan terutama pada masa pandemi saat ini, peran tenaga kesehatan termasuk perawat sangatlah penting. Perawat memiliki beberapa peran penting, yaitu sebagai caregiver yang merupakan peran utama dimana perawat akan terlibat 24 jam dalam memberikan asuhan keperawatan di tatanan layanan klinik seperti Rumah Sakit. Perawat juga dapat berperan sebagai edukator dimana perawat memberikan edukasi kesehatan kepada pasien, keluarga pasien dan masyarakat. Perawat berperan dalam memperkuat pemahaman masyarakat terkait apa dan bagaimana Covid-19, gejalanya, penularan dan pencegahannya. Selain itu, perawat juga berperan sebagai advokat, dimana perawat bertugas untuk mengurangi stigma pada pasien dan keluarga yang terindikasi Covid-19.

Semua perawat yang saat ini terlibat dalam penanganan pasien Covid-19 telah mengorbankan apa yang kita sebut dengan kepentingan pribadi dan keluarga. Bagaimana tidak, para perawat telah mempertaruhkan keselamatan dirinya pribadi dan menghadapi ancaman tertular virus corona yang bisa berakhir pada kematian. Tercatat, selama penanganan Covid-19, banyak tenaga medis telah gugur dalam menjalankan tugasnya, termasuk 78 orang perawat yang juga meninggal karena terpapar Covid-19. Tingginya beban kerja, langkahnya Alat Pelindung Diri (APD) serta nutrisi yang belum tentu adekuat dapat menurunkan sistem imun tubuh, sehingga resiko tertular virus lebih meningkat  (Cox Caitriona, 2020).

Meskipun perawat memiliki kewajiban profesional dalam penanganan pasien selama masa pandemi, banyak perawat memiliki kekhawatiran mengenai pekerjaannya terhadap dampak pada dirinya sendiri. Terutama kekhawatir terhadap infeksi Covid-19, penularan ke anggota keluarga, stigma tentang pekerjaan dan pembatasan kebebasan pribadi sebagai masalah utama (Hope et al 2011 dalam Darma Yanti dkk 2020). “Konflik situasi pada perawat selama masa pandemi adalah isu logistik yang berhubungan dengan ketersediaan alat pelindung diri (APD)” (Xie et all, 2020).

Perawat menghadapi berbagai permasalahan dalam pekerjaannnya, misalnya kelebihan beban kerja, kesalahan dalam perawatan, citra perawat yang tidak stabil, penurunan motivasi kerja, dan ketidaknyamanan dalam bekerja. Menurut Basu dkk 2012 (dalam Darma Yanti dkk 2020) dalam penelitiannya yang berjudul “Comparative Performance of Private and Public Healthcare System in Low and Middle Income Contries: A Systematic Review” menemukan bahwa setiap fasilitas kesehatan harus efisien, akuntabel dan efektif dengan menyiapkan rencana motivasi petugas kesehatan untuk mengembangkan dan menjamin kepuasan kerja mereka. Sehingga, perawat akan mampu bertahan dengan pekerjaannya dan dapat mengatasi kekurangannya

Pahlawan dimaknai sebagai orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran (KBBI). Pahlawan dapat diperankan oleh siapa saja dalam berbagai bidang, tak terkecuali tenaga medis yang berjuang di garda terdepan dalam menghadapi Covid-19.



Perawat diseluruh dunia terutama di Indonesia berusaha dengan keras meningkatkan profesionalisme dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Bentuk profesionalisme perawat adalah berani mengambil resiko dengan memposisikan diri berada di garda terdepan dalam menangani pandemi Covid-19. Perawat garda terdepan pantas dilabeli dengan istilah “Pahlawan Kesehatan” karena mengingat bahwa mereka memilih untuk merawat pasien Covid-19 walaupun mereka telah mengetahui segala resikonya.

Kata pahlawan memanglah kata yang pantas untuk mengapresiasikan jasa para perawat yang berada di garda terdepan, bagaimana tidak, sesuai dengan sifat “kepahlawanan”  yang lebih memprioritaskan keselamatan orang lain daripada kepentingan pribadi. Sama halnya dengan perawat garda terdepan, mereka memilih untuk merawat pasien covid-19 walaupun mereka tahu bahwa resiko tertular infeksi lebih besar. Maka, sudah sepantasnya pemerintah dan masyarakat memberikan apresiasi tertinggi kepada perawat dalam bentuk mengadaan gaji yang memadai, Alat pelindung Diri yang cukup, pengadaan nutrisi yang adekuat serta dukungan mental/motivasi dan bukanlah stigma negatif.


Sumber:

  • Cox, C. L. (2020). ‘Healthcare Heroes’: problems with media focus on heroism from healthcare workers during the COVID-19 pandemic. Journal of medical ethics, 46(8), 510-513.
  • Halcomb, E., McInnes, S., Williams, A., Ashley, C., James, S., Fernandez, R., … & Calma, K. (2020). The experiences of primary healthcare nurses during the COVID‐19 pandemic in Australia. Journal of Nursing Scholarship, 52(5), 553-563.
  • Spoorthy, M. S., Pratapa, S. K., & Mahant, S. (2020). Mental health problems faced by healthcare workers due to the COVID-19 pandemic–A review. Asian journal of psychiatry, 51, 102119.
  • UPTD, I. A. M. V. S., Mandara, R. B., & Mandara, H. P. U. R. B. Gambaran Motivasi Bekerja Perawat Dalam Masa Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) Di Bali.