Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Tubuh kita membutuhkan tidur secara rutin untuk memulihkan proses biologis tubuh. Berdasarkan banyak penelitian, seseorang membutuhkan waktu tidur selama rata-rata 8 jam dalam sehari. Aktivitas tidur memberikan kesempatan istirahat total bagi mental dan fisik.

Kualitas tidur yang baik berdampak positif untuk mengurangi kelelahan, menstabilkan suasana hati, meningkatkan aliran darah ke otak, meningkatnya sintesisi protein, sistem imun meningkat, pertumbuhan dan perbaikan sel serta dapat meningkatkan kapasitas dan penyimpanan memori.



Bagaimana tidur itu bisa terjadi?

Tidur sangat terintegrasi dengan Sistem Saraf Pusat (SSP). Pusat tidur yang utama terletak di hipotalamus. Hipotalamus menghasilakn hipokreatin (oreksin) yang membuat seseorang mengalami tidur. Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem pada otak yaitu Reticular Activating System (RAS) yang melepaskan katekolamin seperti norepinefrin untuk mempertahankan keadaan terjaga dan keadaan tetap sadar. Sistem selanjutnya yang berperan yaitu Bulbar Synchronizing Region (BSR) yang melepaskan serotonin dari sel khusus di pons dan medula yang menyebabkan tidur.

Tahapan siklus tidur NREM dan REM

Non Rapid Eye Movement (NREM)

Sekitar 75-80% tidur NREM terjadi pada malam hari. Tidur NREM dibagi menjadi empat tahap yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas otak dan fisiologi yang berbeda.

  • Tahap 1: tahap tidur yang sangat ringan dan hanya berlangsung beberapa menit. Selama tahap ini, orang tersebut merasa mengantuk dan rileks, mata berputar dari sisi ke sisi, dan detak jantung dan pernapasan sedikit menurun. Orang yang tidur dapat dengan mudah dibangunkan dan mungkin menyangkal bahwa ia sedang tidur.
  • Tahap 2: tidur ringan di mana proses tubuh terus melambat. Mata umumnya diam, detak jantung dan pernapasan sedikit menurun, dan suhu tubuh menurun. Tahap ini berlangsung sekitar 10 sampai 15 menit tetapi merupakan 44% sampai 55% dari total tidur. Seorang individu di tahap membutuhkan rangsangan yang lebih intens daripada di tahap I untuk bangun seperti menyentuh atau gemetar.
  • Tahap 3 & 4: tahapan yang paling dalam dari NREM. Individu akan susah dibangunkan. Akan tetapi perbedaan dari 2 tahapan ini adalah kedalaman tidur individu. Jika individu dibangunkan atau diberi rangsangan dari luar maka pada saat dia terbangun akan mengalami disorientasi sesaat dikarenakan aktivitas otak sangat lambat, sehingga dibutuhkan beberapa menit untuk penyesuaian terhadap lingkungan. Aliran darah akan lebih banyak diarahkan menuju otat dengan tujuan agar energi fisik pada tubuh terisi kembali. Perbedaan tahap 3 dan 4 dapat dilihat pada rekaman EEG, dimana tahap 3 gelombang yang muncul adalah gelombang delta <50%, sedangkan pada tahap 4 gelombang delta lebih >50%.

Rapid Eye Movement (REM)

Fase REM akan dimulai ketika individu memasuki menit 70-90 menit setelah individu tertidur. Fase ini lebih dalam dibandingkan dengan fase NREM. REM merupakan fase saat individu bisa merasakan mimpi. Namun biasanya tidak akan diingat kecuali orang tersebut bangun sebentar di akhir periode REM.

Selama periode REM otak sangat aktif yang membuat metabolisme otak meningkat hingga 20%. Fase REM juga disebut dengan tidur paradok karena aktivitas EEG didapatkan menyerupai aktivitas bangun. Otak akan memberikan perintah pada otot-otot tubuh untuk tidak bergerak.

Siklus NREM dan REM ini terjadi berulang selama individu tertidur bisa terjadi 3 hingga 4 kali dalam satu malam.


Referensi:

  • Diolah dari berbagai sumber.