Kasus batu ginjal di Indonesia masih menduduki kasus yang paling sering ditemukan di antara seluruh kasus urologi. Batu ginjal atau nefrolitiasi yang didefinisikan sebagai pembentukan materi keras menyerupai batu yang berasal dari mineral dan garam di dalam ginjal. Terbentuknya batu pada saluran kemih ada hubungannya dengan gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infkesi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan yang masih belum terungkap.

Batu ginjal dapat terjadi pada seluruh bagian saluran perkemihan mulai dari ginjal, ureter, kadung kemih, dan uretra. Batu ginjal terbentuk karena adanya endapan kandungan mineral berbentuk kristal dalam urine lebih banyak dibandingkan cairan pengencer, kondisi ini dapat berisiko pembentukan kristal pada ginjal.



Kebiasaan asupan cairan yang kurang <1 liter/hari penyebab utama terjadinya nefrolitiasis karena dapat menyebabkan berkurangnya aliran urine/volume urine yang membuat konsentrasi urine meningkat sehingga dapat terjadi pengkristalan urine pada saluran kemih.

Berikut ini 4 jenis zat yang dapat membentuk endapan kristal atau batu ginjal:

1. Batu Kalsium

Kalsium oksalat adalah tipe batu ginjal yang paling umum dialami penderita nefrolitiasis. Pembentukan batu kalsium dapat terjadi karena asupan kalsium dibawah atau diatas angka kecukupan gizi, rendahnya asupan cairan, tingginya asupan sodium, asupan buah-buahan dan sayuran serta tingginya asupan purin hewani. Jika urin terlalu banyak mengandung oksalat daripada cairannya dapat memicu terbentuknya batu ginjal.

Oksalat ditemukan dalam banyak makanan, diataranya adalah:

  • Bayam dan sayuran hijau lain
  • Cokelat
  • Kacang almond
  • Kacang navy
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian
  • Kentang goreng dan kentang yang dipanggang
  • Produk kedelai
  • Stroberi dan rasberi
  • Teh

2. Batu asam urat

Batu asam urat terbentu ketika kadar asam urat dalam urine terlalu tinggi (pH urine terlalu asam) dibawah 5,5. Pembentukan atau pertumbuhan kristal asama urat terjadi pada urine yang lebih asam. Asupan purin berperan penting pada tingginya asam urat di urine, sehingga penderita wajib membatasi makanan tinggi purin.

Purin dapat ditemukan pada protein hewani (daging sapi, unggas, babi dan ikan). Selain itu juga, beberap faktor yang berperan dalam pembentukan batu asam urat adalah adanya riwayat penyakit asam urat dalam keluarga, penderita diabetes dan obesitas serta pernah menjadi kemoterapi.

3. Batu struvit

Batu struvit terdiri dari kandungan magnesium, amonium, fosfat) dapat disebab karena ISK (Infeksi Saluran Kemih) kronis hal ini karena bakterinya dapat mengubah urea menjadi amonia yang kemudian jika bergabung dengan fosfat dan magnesium akan mengkristal membentuk batu. Pembentkan batu struvit faktor utamanya adalah ISK, maka tidak menutup kemungkinan untuk pembentukan kembali batu bila terjadi infeksi saluran kemih, bahkan setelah pengangkatan batu.

4. Batu sistin

Pengendapan batu sistin jarang terjadi. Pembentukan batu ginjal sistin karena ginjal mengeluarkan asam amino sistin yang terlalu banyak. Batu sistin adalah jenis batu yang terbentuk dari bahan kimia yang disebut sistin dan dihasilkan dari kondisi sistinuria dimana terjadi penumpukan asam dalam urine.

Kesimpulan

Keluhan penderita batu ginjal dapat bervariasi, mulai dari tanpa keluhan, sakit pinggang ringan hingga berat, disuria, hematuria, retensi urine, dan anuria. Untuk menentukan jenis batu ginjal tentunya harus dilakukan pengkajian yang dalam baik secara anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium.

Pada anamnesis perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan batu ginjal diantaranya obesitas, hiperparatiroid, malabsorbsi gastrointestina. Riwayat pola makan juga perlu ditanyakan antara lain asupan kalsium, cairan yang sedikit, garam yang tinggi, buah dan sayur, makanan tinggi purin, jenis minuman yang dikonsumsi, jenis protein serta perlu ditanyakan riwayat pengobatan dan suplemen.

Pemeriksaan fisik biasanya ditemukan hipertensi, demam, anemia, nyeri tekan, nyeri ketok, dan pembesaran ginjal. Sedanngkan pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan laboratorium dan pencitraan.


Referensi: