Cara Merumuskan Hipotesis dalam Penelitian

ilustrasi | Medium

Penelitian salah satu unsur penting dalam kehidupan. Suatu pengetahuan didapatkan dari hasil penelitian yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Suatu penelitian ilmiah dapat menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis (metode penelitian). Salah satu tahapan yang penting dalam penelitian adalah merumuskan hipotesis.

Hipotesis berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai dua unsur kata yakni “hupo” (sementara) dan “thesis” (pernyataan atau teori). Hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya. Hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang harus diuji lagi kebenarannya. Pada umumnya dalam suatu penelitian hipotesis terbagi menjadi dua yakni hipotesis Ha dengan hipotesis Ho.



Pengujian hipotesis bertujuan untuk membuktikan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Hipotesis berfungsi sebagai kerangka kerja bagi peneliti, memberi arah kerja, dan mempermudah dalam penyusunan laporan penelitian.

Hipotesis nol (H0) atau hipotesis statistik

Hipotesis ini digunakan untuk pengukuran statistik dan interpretasi hasil statistik. Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel atau tidak adanya pengaruh varibel X terhadap variabel Y. Misal penelitian berjudul “pengaruh terapi relaksasi napas dalam terahadap tingkat nyeri”. Maka dalam hipotesis Ho: tidak adanya pengaruh relaksasi napas dalam terhadap tingkat nyeri. Hipotesis nol sering disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik.

Hipotesis alternatif/kerja (Ha/H1)

Hipotesis alternatif/kerja adalah hipotesis penelitian menyatakan adanya suatu hubungan, pengaruh, dan perbedaan antara dua atau lebih variabel. Rumusan hipotesis misalnya ada pengaruh antara senam nifas dan proses involusi pada ibu postpartum. Ada perbedaan tingkat kecemasan antara klien laki-laki dan perempuan pada infark miokard akut (IMA).

Dalam pembuktian, hipotesis Ha dibuat menjadi Ho agar peneliti tidak mempunyai prasangka. Jadi, peneliti harus jujur, tidak terpengaruh pernyataan Ha, namun kemudian bisa dikembangkan lagi ke Ha jika terbukti pada rumusan akhir pengujian hipotesis.

Hipotesis hanya dibuat jika dipermasalahkan menunjukkan hubungan antara dua variabel atau lebih. Jawaban untuk satu variabel yang sifatnya deskriptif, tidak perlu dihipotesiskan.

Contoh: Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi mahasiswa kelas A.
Masalah 1: Seberapa tinggi motivasi belajar mahasiswa kelas A? (tidak dihiptoesiskan)
Masalah 2: Seberapa tinggi prestasi mahasiswa kelas A? (tidak dihipotesiskan)
Masalah 3: Apakah ada dan seberapa tinggi hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi mahasiwa kelas A.
Hipotesis: Ada hubungan yang tinggi antara motivasi belajar dengan prestasi mahasiswa kelas A.


Sumber: