Edukasi Gizi Pada Remaja Dengan Obesitas

Gambar: Verywell

Ditulis oleh: Yessy Kurniati, SKM, M.Kes

Prevalensi obesitas terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Tidak hanya di negara-negara maju, namun juga merambah ke negara-negara berkembang. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga menyerang remaja dan anak-anak1.

National Health and Nutritional Examination Survey (NHANES) mengumpulkan data antara tahun 2003-2006, hasilnya menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, pada remaja usia 11-19 tahun prevalensi overweight (kelebihan berat badan) adalah 34,1% dan prevalensi obesitas adalah 17,62. Pada tahun 2009-2010, NHANES menemukan bahwa terjadi peningkatan prevalensi obesitas pada kelompok umur tersebut menjadi 18,4%3.

Hasil Riskesdas pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada usia 15 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 19,1%. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2010 di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada remaja usia 13-15 tahun adalah sebesar 2,5% dan pada usia 16-18 tahun adalah sebesar 1,4%4.

Prevalensi obesitas pada remaja yang semakin meningkat jumlahnya merupakan keadaan yang mengkhawatirkan. Sebab terdapat hubungan yang signifikan antara risiko kesehatan dan biaya perawatan kesehatan dengan kejadian obesitas pada anak dan remaja. Konsekuensi kesehatan tersebut meliputi gangguan metabolisme, pubertas dini, diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan tidur, obesitas pada usia dewasa dan peningkatan angka kesakitan di usia muda5. Meski demikian, perhatian terhadap gizi pada remaja, khususnya penanggulangan obesitas belum banyak mendapat perhatian dari pemerintah.

Program-program kesehatan yang ada lebih banyak difokuskan pada ibu dan balita. Padahal para remaja, khususnya remaja putri, adalah calon ibu ke depannya. Jika ingin para ibu dan balita yang sehat, seharusnya program intervensi dimulai lebih awal. Yaitu sejak usia remaja. Sayangnya, belum ada satupun program kesehatan yang serius menangani gizi pada remaja, apalagi yang secara khusus menanggulangi obesitas1.

Obesitas pada Remaja Remaja adalah anak yang berusia 10-19 tahun. WHO mendefinisikan remaja sebagai suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya (pubertas) sampai saat ia mencapai kematangan seksual6. Pada masa ini terjadi perubahan fisik dan psikis yang sangat signifikant. Perubahan fisik ditandai dengan pertumbuhan badan yang pesat (growth spurt) dan matangnya organ reproduksi7.

Pertumbuhan fisik menyebabkan remaja membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar dari pada masa anak-anak. Ditambah lagi pada masa ini, remaja sangat aktif dengan berbagai kegiatan, baik itu kegiatan sekolah maupun olahraga. Khusus pada remaja putri, asupan nutrisi juga dibutuhkan untuk persiapan reproduksi7. Perubahan psikis menyebabkan remaja sangat mudah terpengaruh oleh teman sebaya. Mereka sangat memperhatikan penampilan fisik untuk tampil menarik di depan teman-teman maupun lawan jenis mereka. Hal tersebut menyebabkan remaja berusaha untuk menampilkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sebayanya8.

Ada banyak masalah yang dihadapi oleh remaja, salah satunya adalah obesitas yang sangat ditakuti karena akan berdampak buruk baik dari segi kesehatan maupun psikologis. Obesitas sering didefinisikan sebagai kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan adiposa sehingga mengganggu kesehatan, hal ini disebabkan karena beberapa faktor antara lain faktor makanan, faktor genetik, faktor hormonal atau metabolisme, faktor psikologis dan faktor aktivitas fisik.

Dampak buruk obesitas terhadap kesehatan sangat berhubungan dengan berbagai macam penyakit seperti jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi, dampak lain yang ditimbulkan bahwa remaja yang menderita obesitas selalu dijadikan bahan ejekan dan dianggap sebagai hal yang lucu sehingga penderita obesitas selalu merasa dirinya sangat berbeda dan aneh dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.

Remaja yang mengalami obesitas, kelak pada masa dewasa cenderung obesitas. Hal ini telah dibuktikan bahwa insiden obesitas pada periode transisi antara remaja dan dewasa muda dalam kurun waktu lima tahun meningkat, yaitu dari 10,9% menjadi 22,1% dan 4,3% di antaranya mempunyai IMT Insiden tertinggi terjadi pada non Hispanik yang berkulit hitam9.

Pada studi retrospektif dilaporkan, bahwa 50% perempuan dewasa dengan obesitas, mempunyai riwayat obesitas menjelang pubertas. Penyebab overweight dan obesitas pada usia remaja adalah interaksi yang kompleks antara gen, perilaku dan gaya hidup, perilaku makan serta faktor sosial ekonomi5. Salah satu penyebab terbesar dari obesitas adalah perubahan dalam pola makan dan pola hidup yang menjadi lebih kebarat-baratan (western) Pola makan yang kebarat-baratan biasanya miskin serat dan tinggi kandungan lemak, karbohidarat dan natrium, yang dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada pola makan kurang asupan sayur dan buah, konsumsi fast food dan soft drink. Selain itu aktifitas sedentari ditengarai pula menjadi penyebab obesitas pada remaja2.

Konsumsi Sayur dan Buah pada Remaja Obesitas Expert Consultation on Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Diseases merekomendasikan asupan minimum 400 gram buah dan sayur per hari (tidak termasuk umbi-umbian yang mengandung pati) untuk pencegahan penyakit kronis seperti jantung, kanker, diabetes dan obesitas, sekaligus sebagai upaya pencegahan kekurangan zat gizi mikro. Jumlah konsumsi buah dan sayur yang cukup akan memberikan asupan serat yang cukup bagi tubuh. Diet tinggi serat telah mendapat perhatian besar dalam beberapa tahun terakhir disebabkan karena hubungannya dengan peningkatan insiden hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung dan kanker usus. Sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan salah satu kelompok pangan dalam penggolongan FAO, yang dikenal dengan Desirable Dietary Patern (Pola Pangan Harapan/PPH).

Kelompok bahan pangan ini berfungsi sebagai sumber vitamin dan mineral, sehingga kekurangan konsumsinya berpengaruh negatif terhadap kondisi gizi. Oleh karena itu, konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan bersama-sama dengan kelompok pangan lainnya dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan pada umumnya13. Sejak tahun 1990, telah dicanangkan dalam Dietary for Americans bahwa rekomendasi minimal untuk mengonsumsi buah adalah 2 porsi/hari dan 3 porsi/hari untuk konsumsi sayur atau setara dengan konsumsi buah dan sayur 5 porsi/hari.

Menurut WHO/FAO (2003), yang dimaksud dengan 1 porsi sayur adalah 1 mangkok sayur segar atau ½ mangkok sayur masak dan 1 porsi buah adalah 1 potongan sedang atau 2 potongan kecil buah atau 1 mangkok buah irisan. Konsumsi buah dan sayur dianggap ‘cukup’ apabila asupan buah dan sayur 5 porsi atau lebih per hari. Sedangkan yang dianggap ‘kurang’ apabila asupan buah dan sayur kurang dari 5 porsi sehari.

Di Indonesia, konsumsi buah yang dianjurkan yaitu sebanyak 200-300 gram atau 2-3 potong sehari berupa papaya atau buah lain sedangkan porsi sayuran dalam bentuk tercampur seperti sayuran daun, kacang-kacangan dan sayuran berwarna jingga yang dianjurkan sebanyak 150-200 gram atau 1 ½ – 2 mangkok sehari14. Terjadinya lonjakan obesitas baru-baru ini, membutuhkan strategi diet yang efektif untuk manajemen berat badan . Karena buah-buahan dan sayuran mengandung kadar air dan serat yang tinggi, mengkonsumsinya dapat mengurangi kepadatan energi, meningkatkan rasa kenyang, dan mengurangi asupan energi. Meskipun jumlah intervensi yang secara khusus ditujukan terhadap konsumsi buah dan sayuran masih terbatas, namun sudah terbukti bahwa gabungan peningkatan asupan buah dan sayur dan pengurangan asupan energi merupakan strategi yang sangat efektif untuk manajemen berat badan15.

Hasil penelitian yang melihat hubungan antar konsumsi sayur dan buah dengan pertambahan berat badan menunjukkan adanya hubungan terbalik yang signifikan antara jumlah konsumsi buah /sayuran konsumsi dengan kenaikan berat badan16. Penelitian yang lain juga menemukan bahwa buah dan sayuran berhubungan terbalik secara signifikan dengan perubahan berat badan. Penelitian tersebut merekomendasikan asupan tinggi buah-buahan dan sayuran bagi orang-orang yang berhenti merokok untuk mengurangi risiko kenaikan berat badan17. Hal yang sama ditemukan pada sebuah studi besar yang melibatkan 373.803 subjek di Eropa. Hasilnya menunjukkan bahwa asupan buah dan sayur bisa membantu mengurangi risiko kenaikan berat badan pada orang yang berhenti merokok18.

Penelitian tentang konsumsi sayur dan buah pada mahasiswa kehutanan di Bogor menunjukkan bahwa 95% responden suka mengkonsumsi sayuran dan 90% responden suka mengkonsumsi buah-buahan. Sayangnya porsi harian dari buah dan sayur tersebut belum memenuhi kebutuhan asupan serat sesuai dengan angka yang dianjurkan. Asupan serat pada responden hanya berkisar dari 7,8-8,2 gram per hari, sedangkan angka kecukupan yang dianjurkan adalah 20-35 gram per hari19.

Konsumsi Fast Food pada Remaja Obesitas Fast food merupakan makanan yang dapat diolah dan disajikan dalam waktu yang singkat dan mudah dalam hitungan beberapa menit. Fast food merupakan jenis makanan dengan kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi yang akan berdampak pada peningkatan berat badan yang tidak ideal sebagai pemicu terjadinya obesitas dan akan berdampak pada timbulnya gangguan sistem kardiovaskuler pada masa datang20.

Menurut Khomsan (2002), fast food dikatakan negatif karena ketidakseimbangannya (dari segi porsi serta komposisi sayuran sehingga miskin akan vitamin dan mineral), tinggi garam dan rendah serat (merupakan faktor pemicu munculnya penyakit hipertensi), serta sumber lemak dan kolesterol (mengandalkan pangan hewani ternak sebagai menu utama). Ketidakseimbangan zat gizi dalam tubuh dapat terjadi jika fast food dijadikan sebagai pola makan setiap hari. Kelebihan kalori, lemak, dan natrium akan terakumulasi dalam tubuh seseorang dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif (tekanan darah tinggi, ateroksklerosis, jantung koroner, dan diabetes mellitus, serta obesitas21.

Kecenderungan kalangan remaja (ABG) dan anak-anak mengkonsumsi fast food belakangan ini semakin meningkat seiring meningkatnya dan makin ramainya outlet-outlet yang menyediakan makanan sejenis. Terdapat kecenderungan bahwa konsumsi fast food telah menjadi makanan utama tanpa divariasikan dengan makanan lain, sehingga dikhawatirkan kebiasaan ini mengganggu kesehatan22. Hasil penelitian yang ingin mengetahui kebiasaan konsumsi fast food dan pengaruhnya terhadap gizi lebih pada remaja menemukan bahwa ada pengaruh tingkat kecukupan protein dari fast food, tingkat kecukupan lemak dari fast food dan tingkat kecukupan lemak dari makanan utama terhadap kejadian gizi lebih pada remaja (p<0,05)23.

Penelitian yang dilakukan oleh Virgianto di SMUN 3 Semarang menemukan bahwa siswa dengan > 6% energinya berasal dari makanan fast food , 4,2 kali lebih mungkin menjadi gendut (OR=4,2, dengan 95% CI=1,399-12,665) dibandingkan dengan siswa yang < 6% energinya berasal dari makanan fast food. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin tinggi kontribusi makanan fast food pada total energi, semakin tinggi risiko terjadinya obesitas24. Hasil penelitian tentang risiko frekuensi fast food terhadap risiko kegemukan pada remaja SMU Batik 1 Surakarta kelas 1 dan 2, menemukan bahwa dari keseluruhan sampel yang sering mengkonsumsi fast food sebanyak 55% dan yang jarang mengkonsumsi fast food sebanyak 45%. Dari hasil tersebut ada kecenderungan bahwa remaja SMA Batik I Surakarta yang sering mengkonsumsi fast food memiliki berat badan yang berlebih (overweight)25.

Hasil penelitian tentang hubungan kebiasaan konsumsi fast food, aktifitas fisik, pola konsumsi, karakteristik remaja dan orang tua dengan IMT pada siswa SMAN 9 Semarang kelas X dan XI menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi fast food (p=0,038; ρ=0,232), lama menonton televisi (p=0,037; ρ=0,233), total konsumsi energi (p=0.001; ρ= -0.592), konsumsi karbohidrat (p = 0,001; ρ= -0.604), konsumsi protein (p=0.001; ρ= -0.567), konsumsi lemak (p=0.001; ρ= -0,397) dan pengetahuan gizi (p=0,009; ρ=0,289) dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) remaja26. Hasil penelitian tentang konsumsi western fast food dan kebiasaan tidak makan pagi terhadap obesitas remaja di SMAN 1 Cirebon menunjukkan hasil bahwa pada remaja obesitas asupan energi konsumsi western fast food (263 kkal) lebih tinggi daripada yang tidak obes (140 kkal) (p=0,001). Sedangkan frekuensi makan pagi lebih rendah (4,5 kali/minggu) daripada yang tidak obes (5,8 kali/minggu) (p=0,019).

Hasil analisis menunjukkan asupan energi konsumsi western fast food ≥244 kkal per hari merupakan faktor risiko terjadinya obesitas (p=0,004). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap obesitas remaja adalah asupan energi konsumsi western fast food (OR=6,26). Konsumsi western fast food ≥244 kkal per hari berisiko untuk terjadinya obesitas27,3.

Konsumsi Soft drink pada Remaja Obesitas soft drinks adalah minuman yang dibuat dengan mengabsorpsikan karbondioksida ke dalam air minum. Konsumsi soft drinks dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan kalsium karena mengandung tinggi fosfor. Dalam suasana basa, bersama fosfor, kalsium membentuk kalsium fosfat yang tidak larut air, sehingga menghambat absorbsi kalsium. Agar kalsium dan fosfor dapat dimanfaatkan secara optimal, maka dianjurkan rasio kalsium dan fosfor dalam makanan antara 1 : 1 dan 2 : 1. Rasio fosfor dan kalsium yang lebih dari 2 : 1 dalam makanan dapat meningkatkan hormon parathyroid yang menyebabkan demineralisasi tulang yang merupakan faktor penting terhadap penurunan kepadatan tulang14.

Hasil penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi soft drink pada siswa SMP Negeri 1 Ciputat menunjukkan bahwa bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, uang saku, kesukaan terhadap soft drinks, pengaruh teman sebaya dan pengaruh promosi terhadap perilaku konsumsi soft drinks pada siswa SMP Negeri 1 Ciputat tahun 2008. Selain itu, pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa ada hubungan antara pengetahuan gizi mengenai soft drinks dengan perilaku konsumsi soft drinks pada siswa SMP Negeri 1 Ciputat tahun 200828.

Hasil penelitian yang melihat konsumsi soft drink sebagai faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja usia 15-17 tahun di SMUN 5 Semarang menunjukkan terdapat 22 siswa kelompok kasus yang mengkonsumsi kurang dari 2 botol soft drink per minggu dan 47 siswa kelompok kasus yang mengkonsumsi 2 botol soft drink perminggu. Pada kelompok kontrol, 55 siswa mengkonsumsi kurang dari 2 botol soft drink perminggu dan 14 siswa mengkonsumsi 2 botol soft drink per minggu.

Konsumsi soft drink dalam jumlah yang sedikit bukan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja29. Di Cina, konsumsi soft drink lebih dari empat kali seminggu menjadi salah satu faktor risiko terjadinya obesitas (OR = 1,6)30 . Di tahun 2010, peneliti yang sama menemukan bahwa sarapan di luar rumah, minuman bersoda dan makanan siap saji padat energi (fast food) berhubungan positif dengan kejadian overweight dan obesitas pada remaja26,4.

Aktifitas sedentari pada Remaja Obesitas Mordenisasi dan kemajuan teknologi disegala bidang kehidupan, membuat manusia dimanjakan oleh kemudahaan-kemudahan fasilitas yang ada. Namun disisi lain keadaan tersebut juga mempunyai suatu konsekuensi seperti gaya hidup sedentarial (sedentary living) yang ditandai banyak duduk dan kurangnya aktivitas fisik. Pola aktivitas seperti itu dan kegemaran mengkonsumsi makanan tinggi lemak, karbohidrat dan protein dari makanan cepat saji akan memudahkan munculnya penyakit kronik modern seperti obesitas, hipertensi, diabetus mellitus, jantung koroner dan kanker.

Sebuah fakta mengejutkan, berdasarkan penelitian, sekitar 28% penyebab kematian adalah penyakit kronis modern yang dilatar belakangi gaya hidup sedentari. Menonton televisi (TV) adalah hobi rekreasi yang dominan di segala usia, terutama bagi anak-anak dan remaja. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa jam menonton TV yang lebih tinggi berhubungan dengan indeks massa tubuh yang lebih tinggi (BMI), rendahnya tingkat kebugaran dan kadar kolesterol darah yang lebih tinggi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa waktu nonton TV yang lebih tinggi berhubungan dengan BMI yang lebih tinggi termasuk waktu yang lebih sedikit untuk melakukan aktivitas fisik, dan asupan energi meningkat (dari kebiasaan makan lebih banyak saat menonton TV dan keterpaparan yang lebih besar terhadap pemasaran makanan padat energi). Permainan elektronik dapat memiliki efek pada berat badan tidak sehat, tetapi kurang berhubungan dengan peningkatan asupan energy.

Mengurangi jam menonton TV adalah upaya yang sulit dilakukan, meskipun bukti akan menunjukkan bahwa, jika menonton TV dapat dikurangi, bisa memiliki dampak yang signifikan dalam mengurangi prevalensi obesitas. Peraturan untuk mengurangi pemasaran makanan padat energi dan minuman di TV mungkin menjadi upaya kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk meminimalkan dampak dari menonton TV pada berat badan yang tidak sehat31.

Hasil penelitian tentang kebiasaan menonton tv pada remaja yang melibatkan 338 remaja di Belanda menunjukkan bahwa bila di bandingkan dengan orang lain, remaja kelebihan berat badan /obesitas (odds ratio (OR) = 3,0, p <atau = 0,001), menggunakan komputer lebih sering (OR = 2,3, p <atau = 0,0001), dengan kebiasaan menonton TV yang sering (OR = 1.3, p <atau = 0,0001), dan mereka yang orang tuanya memiliki tingkat tinggi menonton TV (oR = 2,4, p <atau = 0,01) lebih mungkin untuk memiliki kebiasaan TV lebih dari dua jam per hari32.

Hasil penelitian berdasarkan pada beberapa studi tentang aktivitas sedentari dan obesitas pada anak dan remaja menunjukkan bahwa intervensi pada penurunan aktivitas sedentari merupakan intervensi yang efektif untuk mengurangi aktivitas tersebut dan mengendalikan berat badan pada anak-anak dan remaja33. Penelitian tentang karakteristik yang dapat diubah dan terkait dengan aktivitas sedentari pada remaja menunjukkan bahwa selain BMI, faktor lain yang berhubungan dengan aktivitas sedentary meliputi aktivitas fisik, dorongan orang tua dan dukungan untuk kegiatan fisik, perilaku teman dekat aktivitas fisik, dan status merokok. Penelitian ini menemukan bahwa siswa sangat terlibat dalam kegiatan di depan layar, tetapi menghabiskan waktu yang terbatas pada aktivitas sedentary yang lebih produktif, seperti membaca dan melakukan pekerjaan rumah.

Mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang perilaku menetap sangat penting untuk mencegah dan mengurangi obesitas pada populasi remaja34. Hasil penelitian di Saudi Arabia menunjukkan bahwa sebuah proporsi yang sangat tinggi (84% untuk pria dan 91,2% untuk perempuan) dari remaja Saudi yang menghabiskan lebih dari 2 jam di depan layar setiap hari dan hampir setengah dari laki-laki dan tiga-perempat dari perempuan tidak memenuhi pedoman aktivitas fisik harian. Mayoritas remaja tidak memiliki asupan harian sarapan, buah, sayuran dan susu. Wanita secara signifikan (p <0,05) lebih sedentari, jauh kurang aktif secara fisik, terutama dengan aktivitas fisik yang kuat. Namun, pada perempuan ‘asupan kentang goreng dan keripik kentang, kue dan donat, permen dan coklat secara signifikan (p <0,05) lebih tinggi dari laki-laki’. Waktu layar secara signifikan (p <0,05) berkorelasi terbalik dengan asupan sarapan, sayuran dan buah. Aktivitas fisik memiliki hubungan (p <0,05) positif yang signifikan dengan asupan buah dan sayuran, tetapi tidak dengan aktivitas sedentari35.

Hasil penelitian tentang kelebihan berat badan pada anak dan remaja berhubungan dengan waktu nonton TV dan berat bada orang tua menunjukkan bahwa anak-anak dari satu atau dua orang tua kelebihan berat badan / obesitas menonton rata-rata 22 + / -6 menit atau 30 + / -11 menit TV lebih per hari dibandingkan dengan anak dari orang tuan yang memiliki berat badan normal (keduanya p <0,01). Dalam analisis regresi multivariat, BMI dan PBF meningkat signifikan sebesar 0,42 kg / m (2) dan 1,14% (keduanya p <0,001), masing-masing, untuk setiap jam menonton TV pada anak-anak dengan orang tua kelebihan berat badan, tapi tidak bagi mereka dengan orang tua yang memiliki berat badan normal (p (interaksi) <0,05).

Hasil yang serupa diamati untuk waktu di depan layar secara total. Temuan penelitian ini konsisten dengan kontribusi genetik berat orangtua, namun, orang tua yang kelebihan berat badan /obesitas juga mungkin menunjukkan pola perilaku yang negatif dan berpengaruh terhadap kepemirsaan TV pada anak-anak dan berdampak pada status kelebihan berat badan pada anak36. Hasil penelitian tentang hubungan lingkungan dan psikososial terhadap kebiasaan aktivitas sedentary pada remaja menunjukkan bahwa pada anak perempuan, usia, dukungan keluarga, aturan menonton televisi/ video, dan bukit-bukit di lingkungan dikaitkan dengan aktivitas sedentari.

Selain itu, konstruksi psikologis seperti self-efficacy, kenikmatan, strategi perubahan, serta pro dan kontra dari perubahan berkorelasi dengan aktivitas sedentary. Sebuah efek moderator mengungkapkan bahwa proporsi perempuan dalam kelompok IMT yang rendah menurun dengan peningkatan self-efficacy, sedangkan proporsi perempuan dalam kelompok IMT yang tinggi tidak berbeda secara signifikan dalam hal self-efficacy. Untuk anak laki-laki, usia, etnis, BMI, kontra perubahan, dan self-efficacy dikaitkan dengan aktivitas sedentary Studi ini memberikan bukti faktor yang terkait dan tidak terkait dengan aktivitas sedentari pada remaja. Serupa dengan aktivitas fisik, ukuran konstruksi psikososial tertentu terhadap aktivitas sedentary menunjukkan hubungan yang penting37.

Edukasi Gizi pada Remaja Obesitas Edukasi gizi adalah berbagai kombinasi dari strategi edukasi yang didesain untuk memfasilitasi perubahan secara sukarela terhadap pemilihan makanan dan perilaku terkait gizi lainnya untuk mencapai kesehatan dan kehidupan yang lebih baik38. Edukasi gizi termasuk di dalam edukasi kesehatan yang terdiri dari tiga dimensi antara lain : dimensi sasaran edukasi, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya dan dimensi tingkat pelayanan gizi, yang dari ketiganya menunjang dalam keberhasilan pelaksanaan edukasi gizi. Intervensi perilaku dalam edukasi gizi juga memperhitungkan tiga faktor yaitu faktor pendukung, faktor pendorong serta faktor predisposisi39.

Materi pesan yaitu pesan yang akan disampaikan dan dituangkan dalam bentuk materi penyuluhan yang harus disesuaikan dengan pola hidup penerima pesan dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Penerima pesan adalah sasaran penyuluhan dimana banyak sedikitnya pesan yang diterima tergantung pengetahuan, keterampilan dan minat sasaran. Sumber pesan selain melalui pembicara sebagai penyampai, juga dapat melalui media, elektronik, buku bacaan, leaflet serta modul. Media yang digunakan sebagai penyampai pesan haruslah mudah dimengerti40.

Edukasi gizi merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah dan menanggulangi obesitas pada remaja. Hal tersebut dibuktikan dalam penelitian tentang efek edukasi gizi terhadap perubahan konsumsi energi dan indeks massa tubuh (IMT) pada remaja kelebihan berat badan. Pada edukasi gizi menggunakan leaflet (media cetak) di SMP Dominico Savio Semarang menunjukkan bahwa ada penurunan persentil IMT yang bermakna sesudah edukasi gizi pada grup penyuluhan kelompok (p=0,010) dan grup penyuluhan individu (p=0,009)41.

Penelitian yang dilakukan untuk melihat pengaruh dari mentoring/pendampingan (edukasi) individual terhadap remaja overweight dan obesitas menunjukkan bahwa seluruh kelompok (n = 32 akhir) mengalami penurunan yang signifikan pada dan lingkar pinggang, serta perbaikan yang signifikan pada tingkat high-density lipoprotein, dan rasio low-density lipoprotein / high-density lipoprotein dari awal sampai akhir intervensi. Setelah intervensi subjek mengkonsumsi lebih sedikit makanan berkalori dan makanan ringan . Subjek juga jarang mengunjungi restoran cepat saji, dan mengurangi waktu di depan layar (aktifitas sedentary)42.

Berdasarkan apa yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa obesitas pada remaja membutuhkan perhatian yang serius mengingat angka kejadiannya yang semakin meningkat dan risiko kesehatan yang ditimbulkan di kemudian hari. Edukasi gizi dapat dipilih menjadi salah satu alternative solusi untuk mencegah dan menanggulangi obesitas pada remaja. < Beranda

Daftar Pustaka

  1. Mulvihil ang Quigley. The Management of Obesity and Overweight : an Analysis of Reviews of Diet, Physical Activity and Behavioral Approaches, Evidence Briefing. Health Development Agency 1 st Edition, Oktober 2003. (http://www.hda.nhs.uk/evidence, diakses tanggal 21 September 2012)
  2. Ogden, Carrol, Curtin, McDowell, Tabak, Flegar,. Prevalence of Overweight and Obesity in The United States, 1999-2004. 2008. JAMA:295: 1549-55
  3. De Onis, Blossner, Borghi. 2010. Global Prevalence and Trends of Overweight and Obesity Among Presschool Children. American Journal of Crinical Nutrition (on line), 92 (5) : 1257-1264. (http://www.ajcn.com, diakses tanggal 20 September 2012)
  4. 2011. Laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
  5. Guo, et all. 2012. Differences in Lifestyle Behaviors, Dietary Habits, and Familial Factors Among Normal-Weight, Overweight and Obese Chinese Children and Adolescents. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity (on line), (http://www.ijbnpa.org/content/9/1/120, diakses tanggal 20 September 2012)
  6. Arisman, 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.
  7. Psikologi Remaja. Bandung : Rosdakarya. 1995
  8. Kautiainen, Rimpella, Vikat and Virtanen. 2002. Secular Trends in Overweight and Obesity Among Finnish Adolescents in 1977-1999. International Journal of Obesity Related Metabolisme Disorder (on line) 26 (4) 544-52. (http:// www.acha.org, dikases tanggal 20 September 2012)
  9. 2008. Sehat dengan Sayuran: Panduan Lengkap Menjaga Kesehatan dengan Sayuran. Jakarta: Dian Rakyat.
  10. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  11. Rolls, Martin Ello, and Tohill. 2004. What Can Intervention Studies Tell Us About The Relationship Between Fruit and Vegetable Consumption and Weight Management?. Nutrition Reviews (on line), 62 (1): 1-17. (http://www.nutritionreview.org/ diakses tanggal 21 September 2012
  12. Rastrollo, et all. 2006. Association of Fiber Intake and Fruit/Vigetable Consumption With Weight Gain in A Mediterreanean Population. Nutrition Journal(on line), 22 (5): 504-11. (http:// http//www.nutritionj.com , diakses tanggal 20 September 2012)
  13. Buijsse, et all. 2009. Fruit and Vegetable Intakes and Subsequent Change In Body Weight in Europan Populations : Result From The Project on Diet, Obesity, and Genes (DioGenes). American Journal of Clinical Nutrition (on line) 90(1): 202-9. (http://www.ajcn.nutrition.org/ diakses tanggal 23 September 2012
  14. 2012. Fruit and Vegetable Consumption and Prospective Weight Change in Participants of European Perspective Investigation Into Cancer and Nutrition-Physical Activity, Nutrition, Alcohol, Cessation of Smoking, Eating Out of Home, an Obesity Study. American Journal of Clinical Nutrition (on line) 90(1): 202-9. (http://www.ajcn.nutrition.org/ diakses tanggal 23 September 2012)
  15. 2004. Studi Tentang Pola Konsumsi Serat pada Mahasiswa. Sktipsi tidak diterbitkan. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
  16. 2012. Makanan Siap Saji. (http://www.wikipedia.com, diakses tanggal 28 Desember 2012
  17. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta: PT Raja Grafindo; 2003
  18. What Can Intervention Studies Tell Us About The Relationship Between Fruit and Vegetable Consumption and Weight Management? Nutrition Reviews (on line). 2004;62(1):17.
  19. Studi Tentang Pola Konsumsi Serat pada Mahasiswa. Jakarta: Institut Pertanian Bogor; 2004.
  20. Hayati F. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Konsumsi Fast Food Waralaba Modern dan Tradisional pada Remaja Siswa SMU Negeri di jakarta Selatan. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2000.
  21. Faktor Risiko Frekuensi Konsumsi Fast food Terhadap Kejadian Kegemukan (Overweight) pada Remaja di SMA Batik I Surakarta: Universitas Muhamadiyah; 2008.
  22. Konsumsi Fast Food Sebagai Faktor Terjadinya Obesitas pada Remaja Usia 15-17 Tahun (Studi kasus di SMUn 3 Semarang). Media Medika Muda (on line) 2006;3
  23. Faktor Risiko Frekuensi Fast Food Terhadap Risiko Kegemukan pada Remaja SMU Batik 1 Surakarta kelas 1 dan 2. Surakarta: UIN Syarif Hidayatullah; 2009.
  24. Hubungan Kebiasaan Konsumsi Fast Food, Aktifitas Fisik, Pola Konsumsi, Karakteristik Remaja dan Orang Tua Dengan IMT pada Siswa SMAN 9 Semarang Kelas X dan XI. Semarang: Universitas Diponegoro; 2010.
  25. Banowati d. Risiko Konsumsi Western Fast Food dan Kebiasaan Tidak Makan Pagi Terhadap Obesitas Remaja (Studi di SMAN 1 Cirebon). Media Medika Indonesiana. 2011;42(2).
  26. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Konsumsi Soft Drink pada Siswa SMP Negeri 1 Ciputat. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah; 2008.
  27. Konsumsi Soft Drink Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Obesitas pada Remaja Usia 15-17 Tahun (Studi Kasus di SMUN 5 Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro; 2010.
  28. Dietary Habits and Overweight/Obesity in Adolescents in Xi’an City, China. Asia Pasific Journal of Clinical Nutrition 2010.
  29. Effect of TV Time and Other Sedentary Persuit. International Journal of Obesity (on line). 2008;32(7):136.
  30. Undestanding The Corerelates of Adolescent TV Viewing : A Social Ecological Approach. International Journal Pediatric Obesity. 2010;5(2):8.
  31. Demattia ea. Do Interventions to Limit Sedentary Behaviors Change Behavior and Reduce Childhood Obesity? A Critical Review of The Literature. The Obesity Review. 2007;8(1):81.
  32. Modifiable Characteristics Associated With Sedentary Behaviors Among Youth. International Journal of Pediactrics Obesity. 2008;3(2):101.
  33. Al Hazzaa ea. Physical Activity, Sedentary Behaviors and Dietary Habits Among Saudi Adolescent Relative to Age, Gender and Region. International Journal of Behavior Nutrition and Physical Activity. 2011;8:140.
  34. Rey-Lopez. Sedentary Behavior and Obesity Development in Children and Adolescent. Nutrition, Metabolisme and Cardiovascular Disease (on line. 2008;18(3):251.
  35. Psychosocial and Enviromental Correlates of Adolescent Sedentary Behaviors. Pediatrics (on line). 2005 1 Oktober 2005;116(4):916.
  36. Nutrition Education, Linking Research, Theory and Practice. 2 ed. Canada: Jones and Bartlett Publisher; 2007.
  37. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.
  38. Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi kesehatan. Yogyakarta: Fitramaya; 2009.
  39. Efek Pendidikan Gizi Terhadap Perubahan Konsumsi Energi dan Indeks Massa Tubuh pada Remaja Kelebihan Berat Badan (Studi Kasus di SMP Dominico Savio Semarang. Semarang: Universitas Diponegoro; 2009
  40. The Golden Keys to Health-A Healthy Lifestyle Intervention With Randomized Individual Mentorship for Overweight and Obesity in Adolescents. Pediatric Children Health 2011;16(8):478.
  41. Franco ea. Motivation, Self Efficacy, Physical Activity and Nutrition In College Students : Randomized Controlled Trial of An Internet-Based Education Program. Prevention Medicine 2008;47(4):377.
  42. Motivating 18 to 24 Year-Old to Increase Their Fruit and Vegetable Consumption. Journal of American Dietetic Association (on line). 2006;106(9):1411.