Resusitas Jantung Paru (RJP) Pada Bayi dan Anak

Gambar dari hellomagazine

Gustinerz.com | Resusitas merupakan upaya yang dilakukan terhadap penderita atau korban yang berada dalam keadaan gawat atau kritis untuk mencegah terjadinya kematian. RJP terdiri dari atas Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Bantuan Hidup Lanjutan (BHL). BHD adalah suatu tindakan resusitasi tanpa menggunakan alat atau dengan alat yang terbatas seperti bag-mask ventilation, sedangkan pada BHL menggunakan alat dan obat resusitasi sehingga penanganan lebih optimal.

Tujuan akhir RJP adalah kembalinya sirkulasi spontan yang normal atau disebut return of spontaneous circulation (ROSC) dan tidak adanya gangguan neurologis pasca henti jantung. RJP meliputi pembebasan jalan napas (airway), melakukan bantuan napas (breathing) dan mempertahankan suplai darah yang adekuat dalam tubuh (circulation).

Airway



Pada anak yang tidak sadar, lidah sering jatuh ke belakang dan dapat menyebabkan sumbatan jalan napas. Penolong harus membuka jalan napas dengan manuver head tilt dan chin lift yang dapat dikerjakan baik pada pasien trauma maupun nontrauma. Teknik jaw thurst dilakukan bila terdapat kecurigaan trauma servikal. Untuk mempertahankan terbukanya jalan napas, dapat dilakukan pemasangan alat orofaringeal (guedel) dan selang nasofaringeal. Gudel dengan ukuran tertentu digunakan pada pasien tidak sadar, jika terlalu kecil lidah akan tetap terjatuh ke belakang sedangkan jika terlalu besar akan menyumbat jalan napas.

Breathing

Penilaian pernapasan dilakukan dalam waktu 10 detik dengan teknik look, listen dan feel pada saat bersamaan. Penolong harus melihat gerakan pernapasan dada maupun abdominal, mendengar suara napas pasien melalui hidung dan mulut, dan merasakan udara pernapasan yang keluar pada pipi penolong. Jika anak bernapas dan tidak ada riwayat trauma sebelumnya, tempatkan pasien pada posisi stabil untuk menjaga jalan napas dan menurunkan risiko aspirasi. Jikta tidak bernapas (gasping) pertahankan jalan napas dan berikan 2 kali bantuan napas. Pada anak <1 tahun, gunakan teknik mouth-to-mouth and nose, anak >1 tahun berikan mouth-to-mouth. Hindari pemberian ventilasi yang berlebihan karena dapat menyebabkan pneumotoraks akibat tekanan berlebihan, dapat menyebabkan regurgitasi lambung karena saat ventilasi udara dapat masuk baik ke paru ataupun ke lambung, serta dapat menyebabkan berkurangnya curah jantung akibat peningkatan tekanan intratorak sehingga aliran balik darah ke jantung (venous return) berkurang, hal ini dapat memeperburukan kondisi anak.

Circulation

Penilaian sirkulasi dilakukan dalam 10 detik dengan meraba pulsasi arteri brakialis (pada bayi) dan arteri karotis dan femoralis pada anak. Jika frekuensi nadi kurang dari 60 kali per menit (kpm) dan apada anak terlihat tanda perfusi kurang (pucat dan sianosis), kompresi dada dapat dimulai. Jika frekuensi nadi >60 kpm tetapi anak tidak bernapas, lanjutkan bantuan napas tanpa kompresi dada. Bantuan napas diberikan 12-20 kpm (1 pernapasan tiap 3 sampai 5 detik) sampai pasien bernapas spontan.