Sistematika C-A-B Dalam Resusitasi Jantung Paru (Dewasa)

Gambar: freepik

Keadaan gawat darurat yang mengancam nyawa seseorang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, untuk itu setiap individu perlu mengetahui cara penanganan orang yang mengalami bahaya misalnya henti jantung atau henti napas.

Salah satu tindakan yang bisa kita lakukan pada keadaan tersebut (henti jantung/napas) adalah melakukan teknik/metode resusitasi jantung paru (RJP) / Cardiopulmunary resuscitation (CPR). CPR adalah teknik menyelamatkan nyawa dalam banyak keadaan darurat termasuk serangan jantung atau tenggelam di mana pernapasan atau detak jantung seseorang telah berhenti.



CPR dapat menjaga darah (kaya oksigen) mengalir ke otak dan organ vital lainnya sampai perawatan medis yang lebih definitif dapat mengembalikan irama jantung yang normal. Ketika jantung seseorang berhenti, maka yang akan terjadi adalah darah (mengandung oksigen) tidak mengalir ke jaringan/sel khususnya pada otak yang dapat menyebabkan otak mengalami kerusakan hanya dalam beberapa menit. seseorang bisa meninggal dalam 8-10 menit tanpa oksigen.

Sebelum melakukan RJP/CPR perhatikan hal-hal berikut:

  • Apakah lingkungan aman bagi orang tersebut?
  • Apakah orang tersebut sadar atau tidak sadarkan diri?
  • Jika orang tersebut tampak tidak sadar, ketuk atau goyangkan pundaknya dan tanyakan dengan keras “apakah anda baik-baik saja?”
  • Jika orang tersebut tidak merespon, dan jika ada dua orang ditempat, mint satu orang menelpon nomor darurat setempat dan ambil AED (kejut jantung) jika tersedia dan anda segera memulai CPR.
  • Jika hanya sendirian dan memiliki, segera minta bantuan atau telepon nomor darurat setempat sebelum memulai RJP.
  • Jika AED tersedia, berikan satu kejutan (ikuti instruksi alat) kemudian mulai lagi CPR.

Lakukan sistematika/metode C-A-B

American Heart Association (AHA, 2015) telah memperbaharui sistematika CPR dari sebelumnya A-B-C menjadi C-A-B. Alasan perubahan ini adalah pada sistematika A-B-C seringkali kompresi dada tertunda karena proses airway, dengan mengganti langkah C-A-B maka kompresi dada akan dilakukan lebih awal dan ventilasi hanya sedikit tertunda satu siklus kompresi dada (30 kompresi dada secara ideal dilakukan sekitar 18 dektik). Berikut langkah-langkah C-A-B resusitasi

Compressions: Restore blood circulation

  1. Cek denyut nadi arteri karotis. Untuk mempermudah, penolong awam diajarkan untuk mengansumsikan jika korban tidak sadar dan tidak bernafas maka korban juga mengalami henti jantung.
  2. Letakan korban pada permukaan yang kuat.
  3. Berlututlah di sebelah leher dan bahu orang tersebut
  4. Letakkan tumit satu tangan di tengah dada seseorang (diantara puting susu). Letakkan tangan anda yang lain diatas tangan pertama. Jaga siku tetap lurus dan posisikan bahu anda tepat diatas tangan anda.
  5. Gunakan berat badan bagian atas anda (bukan hanya kekuatan lengan anda) saat anda mendorong lurus ke bawah (kompres) dada setidaknya 2 inci (5 cm) tetapi tidak lebih dari 2,4 inci (6 cm). Dorong keras dengan kecepatan 100-120 kompresi per menit.
  6. Jika anda belum dilatih tentang RJP/CPR, lanjutkan terus kompresi dada hingga personel medis tiba (mengambil alih). Jika anda sudah terlatih dalam CPR, lanjutkan untuk membuka jalan napas dan menyelamatkan pernapasan korban.
Kompresi dada

Airway: open the airway

  • JIka anda sudah terlatih dalam CPR dan anda telah melakukan 30 kali kompresi dada, buka jalan napas korban menggunakan manuver head-tilt, chin-lift (jika tidak dicurigai cedera servikal). Letakkan telapak anda di dahi orang tersebut dan tekukan kepala korban dengan lembut ke belakang (ekstensi). Kemudian dengan tangan lainnya, angkat dagu ke depan dengan lembut untuk membuka jalan napas.
  • Jaw thrust adalah metode paling aman untuk membuka jalan jika ada kemungkinan cedera servikal. Penolong memposisikan di kepala korban, letakkan tangan di sisi wajah korban, menjepit rahang bawah pada sudutnya, dan mengangkat mandibula ke depan. Siku penolong bisa diletakkan di permukaan tempat korban berada kemudian mengangkat rahang dan membuka jalan napas dengan gerakan kepala minimal.
head-tilt, chin-lift

Breathing: breath for the person

Bantuan pernapasan bisa berupa pernapasan mulut ke mulut atau mulut ke hidung (jika mulut terluka parah atau tidak bisa dibuka).



  1. Dengan jalan napas terbuka, jepit lubang hidung untuk bernafas dari mulut ke mulut dan tutupi mulut orang tersebut dengan mulut anda
  2. Bersiaplah memberikan dua kali pernapasan. Berikan napas penyelamatan pertama: tahan satu detik dan perhatikan apakah dada naik. Jika naik, berikan napas kedua. Jika tidak naik ulang metode head-tilt, chin-lift lalu berikan napas kedua. Tiga puluh kompresi dada diikuti dua napas penyelamatan dianggap satu siklus. 
  3. Lanjutkan kompresi dada untuk mengembalikan sirkulasi
  4. Jika tersedia AED terapkan dan ikuti petunjuknya berikan satu kejutan kemudian lanjutkan CPR. Dimulai dengan kompresi dada selama dua menit sebelum memberikan kejutan kedua. Jika anda tidak terlatih menggunakan AED tunggu hingga tim gawat darurat tiba.
  5. Jika AED tidak tersedia: Lanjutkan CPR sampai ada tanda-tanda personel medis datang mengambil alih
bantuan pernapasan

Receovery position

  • Setelah anda memberikan CPR/RJP dan hasil pemeriksaan korban sudah terdapat denyut jantung (sirkulasi), airway dan breathing baik maka berikan posisi mantap (recovery position). Posisi ini diberikan pada korban dewasa yang tidak sadar namun memiliki nafas dengan nromal dan sirkulasi efektif. Posisi ini bermanfaat menjaga agar jalan nafas tetap terbuka dan mengurangi risiko sumbatan jalan nafas dan aspirasi.
  • Korban diletakkan pada posisi miring pada salah satu sisi badan dengan tangan yang dibawah berada di depan badan
recovery position

Sumber:

  • mayoclinic.org
  • Skirpsi Kadek Sudiarta
  • Diolah dari berbagai media online lainnya.