Cara Menilai Derajat dan Tanda Klinis Dehidrasi

Gustinerz.com | Dehidrasi didefinisikan sebagai suatu kondisi kehilangan cairan dan elektrolit tubuh. Diare merupakan penyebab tersering dehidrasi dan usia balita adalah kelompok yang paling rentan mengalami kondisi dehidrasi. Dehidrasi juga dapat terjadi karena peningkatan kebutuhan cairan tubuh, seperti demam, shu lingkungan yang tinggi, dan akrivitas ekstrim.

Jika tidak segera ditangani dehidrasi berat dapat berdampak pada kejadian syok. Syok merupakan kegagalan sirkulasi dan perfusi jaringan yang disebabkan oleh kehilangan volume cairan intravaskuler yang ditandai dengan takikardi dan hipotensi.

Berdasarkan presentase kehilangan ar dari total bera badan, derajat dehidrasi dapat dibedakan menjadi ringan, sedang, dan berat. Bayi dan balita lebih merentan mengalami dehidrasi karena komposisi air tubuh lebih banyak, fungsi ginjal belum sempurna, serta masih bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya.



Dehidrasi dapat dikategorikan menjadi beberapa tipe berdasarkan jumlah kehilangan cairan dan elektrolit yakni dehidrasi Isotonik (suatu keadaan jumlah kehilangan air sebanding dengan jumlah kehilangan elektrolit natrium), dehidrasi hipertonik (keadaan kehilangan air lebih besar dibandingkan dengan kehilangan elektrolit Natrium, dan dehidrasi hipotonik (kehilangan air lebih kecil dibandingkan dengan kehilangan elektrolit natrium).

Penatalaksanaan dehidrasi harus disesuaikan dengan derajat dan tanda klinis dehidrasi, sehingga dapat diberikan penatalaksanaan/terapi yang tepat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan tool untuk mengukur derajat dehidrasi dengan penilaian pada keadaan umum, kondisi mata, mulut dan turgor kulit. Berikut cara menilai derajat dehidrasi dan gejala klinis dehidrasi.