Mengenal Burnout Syndrome Pada Perawat

ilustrasi | DUONP

Perawat merupakan salah satu profesi yang sangat dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien baik di rumah sakit, klinik, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Seorang perawat dituntut mampu beradaptasi dengan stressor kerja yang tinggi, tidak boleh melakukan kekeliruan sehingga diperlukan konsentrasi, kesiapan fisik, mental dan emosional dalam memberikan pelayanan.

Karena tingginya tuntutan tersebut membuat profesi perawat berisiko mengalami masalah burnout. Beberapa hasil penelitian menemukan bahwa masalah burnout banyak dialami oleh perawat, hal ini karena kondisi ini sering terjadi pada kategori profesi yang menuntut interaksi dengan orang lain seperti guru, profesi bidang kesehatan, pekerja sosial, polisi dan hakim.



Burnout syndrome adalah keadaan lelah atau frustasi yang disebabkan oleh terhalangnya pencapaian hrapan. Burnout merupakan kelelahan secara fisik, emosi, da mental karena berada dalam situasi yang menuntut emosional mengemukakan bahwa burnout syndrome suatu perubahan sikap dan perilaku dalam bentuk reaksi menarik diri secara psikologis dari pekerjaan.

Penyebab Burnout

Burnout dapat terjadi karena faktor personal dan atau faktor lingkungan. Faktor personal diantaranya kepribadian, harapan, demografi, fokus kontrol dan tingkat efisiensi, sementara faktor lingkungan diataranya adalah beban kerja, pengharapan, kontrol, kepemilikan, keadilan, dan nilai. Burnout pada seseorang terjadi karena terjadi kelelahan emosional yang meningkat, depresonalisasi dan penurunan prestasi diri.

Tanda-tanda mengalami burnout

  1. Kelelahan emosional: ditandai dengan kelelahan dan perasaan bahwa sumber daya emosional telah habis digunakan.
  2. Depersonalisasi: ditandai dengan interaksi kepada klien yang dirasa hanya sebagai objek saja, bukan sebagai orang yang benar-benar diperhatikan, adanya sinisme pada rekan kerja bahkan dengan tempat kerja.
  3. Penurunan prestasi diri: ditandai dengan kecenderungan untuk mengevaluasi diri sendiri secara negatif. Mencakup pengalaman penurunan kompetensi kerja dan prestasi dalam pekerjaan/interaksi dengan orang/kurangnya kemajuan.

Penelitian terkait burnout

Hasil dari penelitian Esti Andarini (2018) mengungkapkan bahwa Burnout syndrome perawat berpengaruh negatif terhadap job satisfaction, artinya semakin rendah burnout maka akan meningkatkan job satisfaction perawat. Burnout syndrome yang rendah menyebabkan kepuasaan kerja perawat meningkat, burnout syndrome yang rendah ini dapat diperoleh dari dukungan organisasi dan lingkungan kerja yang baik.

Pencegahan burnout syndrome

burnout syndrome adalah situasi yang sangat sulit dhindari, akan tetapi tingkat keparahan burnout dapat dikurangi dengan bagaimana sebuah organisasi atau tempat kerja mengeluarkan pernyataan daftar tugas yang jelas, membuat pelatihan, akses ke dukungan sosial, pertemuan tim secara rutin, dan membuat lingkungan yang partisipatif dapat mengurangi keparahan burnout syndrome.

Pribadi perawat harus memiliki nilai yang realistis terhadap tujuan yang ingin dicapai agar dapat menurunkan ekspektasi diri agar dapat membantu dalam menurunkan burnout.


Referensi: