Esai oleh: SYAHRIL SAINI (Semester 3C)

Semua mahasiswa terutama mahasiswa keperawatan pasti pernah merasakan mengerjakan tugas Print-Out entah itu dalam bentuk makalah atau sejenisnya. Setelah tugas Print-Out yang terdiri dari puluhan kertas itu selesai di periksa oleh dosen, tugas Pint-Out yang memakan banyak kertas tersebut hanya dibiarkan begitu saja oleh mahasiswa. Ada yang membiarkannya tergeletak begitu saja, ada yang mencoret-coret tugas Print-out tersebut dan yang paling parah adalah membuang tugas itu ketempat sampah karna berfikir tugas Print-Out tersebut telah selesai dinilai oleh dosen.

Tanpa kita sadari tindakan yang kita lakukan tersebut hanyalah membuang-buang kertas. Semakin banyak kertas yang kita pakai, maka akan semakin banyak pula  pohon yang ditebang. Kertas merupakan suatu bahan yang tipis yang terbuat dari serat tumbuhan seperti kayu, bambu, padi dan tumbuhan lain yang mengandung serat, Tetapi pada umumnya yang sering digunakan untuk bahan baku kertas adalah kayu. Apakah kita pernah berfikir sudah berapa banyak pohon yang ditebang hanya utuk memenuhi kebutuhan pembuatan kertas yang ujung ujungnya hanya menjadi sampah dikalangan mahasiswa? Sampah kertas ini juga menjadi salah satu penyumbang sampah yang jumlahnya cukup banyak.



Bahkan saat ini, jumlah sampah kertas sudah mencapai 25% dari seluruh sampah yang ada di pembuangan sampah. Padahal kertas merupakan jenis sampah anorganik yang tidak bisa dihancurkan oleh organisme dan mengandung bahan-bahan kimia sebagai campurannya, seperti sulfat dan chlorin koran, ternyata.

Sampah Kertas-kertas bekas tersebut juga berbahaya bagi kesehatan bila digunakan sebagai pembungkus makanan, selain karena kertas itu sendiri sudah tidak hiegenis, juga  mengandung banyak tinta yang mengandung timbal yang berbahaya jika masuk ke tubuh manusia. Perlu kita ketahui bahwa 42% dari hasil panen kayu hutan digunakan untuk membuat kertas atau industri kertas. Industri kertas merupakan penyumbang terbesar ke 4 untuk emisi fuel rumah kaca diberbagai Negara.

Bisa dibayangkan bukan berapa banyak kertas yang akan terpakai dengan jumlah mahasiswa yang ada di dunia ini terutama di Indonesia, dan bisa dibayangkan pula berapa banyak pohon yang harus ditebang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia. Tentu tidak sedikit jumlah pohon yang sudah ditebang, belum lagi energi yang akan digunakan untuk memproduksi kertas dan mendaur ulang kertas-kertas bekas yang telah tidak terpakai. Faktanya, untuk memproduksi 1 ton kertas dibutuhkan 3 ton kayu dan 324.000 liter air. Dari proses produksi tersebut akan menghasilkan kurang lebih 2,6 ton gas karbondioksida atau sama dengan emisi gas buang yang dihasilkan oleh mobil selama 6 bulan, serta dihasilkan juga kurang lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat. (Andereas Pandu Setiawan, 2017).

Sekarang kita telah memasuki abad ke-21 dan Indonesia sudah memasuki era industri 4.0. Banyak di antara kita yang belum mengetahui dan bertanya-tanya apasih itu industri 4.0? Pertama, kita lihat dulu definisi dari revolusi industri itu sendiri. Revolusi industri secara simpel artinya adalah perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Perubahan besar ini tercatat sudah terjadi tiga kali, dan saat ini kita sedang mengalami revolusi industri yang keempat. Setiap perubahan besar ini selalu diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer dan budaya. Sudah pasti ada jutaan pekerjaan lama menghilang, dan jutaan pekerjaan baru yang muncul.

Lantas kemajuan apa saja yang muncul di era revolusi industri 4.0 ini? Pertama, kemajuan yang paling terasa adalah internet. Semua komputer tersambung ke sebuah jaringan bersama. Komputer juga semakin kecil sehingga bisa menjadi sebesar kepalan tangan kita, makanya kita jadi punya smartphone. Bukan cuma kita tersambung ke jaringan raksasa, kita jadinya selalu tersambung ke jaringan raksasa tersebut. Inilah bagian pertama dari revolusi industri keempat: “Internet of Things” saat komputer-komputer yang ada di pabrik itu tersambung ke internet, saat setiap masalah yang ada di lini produksi bisa langsung diketahui saat itu juga oleh pemilik pabrik, di manapun si pemilik berada. Kedua, kemajuan teknologi juga menciptakan 1001 sensor baru, dan 1001 cara untuk memanfaatkan informasi yang didapat dari sensor-sensor tersebut yang merekam segalanya selama 24 jam sehari.

Informasi ini bahkan menyangkut kinerja pegawai manusianya. Misalnya, kini perusahaan bisa melacak gerakan semua dan setiap pegawainya selama berada di dalam pabrik. Dari gerakan tersebut, bisa terlihat, misalnya, kalau pegawai-pegawai tersebut menghabiskan waktu terlalu banyak di satu bagian, sehingga bagian tersebut perlu diperbaiki. Ketiga, ini yang sebetulnya paling besar: Machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki hasil berikutnya. Murti Ningsih (2018).

Singkatnya era revolusi industri 4.0 ini adalah sebuah kemajuan pesat  teknologi dan informasi. Dimana yang dulunya kita mencari informasi atau berita melalui Koran atau kabar berita tertulis lainnya sekarang kita sudah dengan mudah memperoleh informasi hanya dengan membuka browsing internet di computer ataupun di smartphone kita.

Tugas Print-Out bagi mahasiswa di era revolusi industri 4.0 ini sebenarya tidak cukup efektif untuk mahasasiwa. Sebab mahasiswa dibuat seolah olah buta dikarenakan kita sekarang sudah memasuki era revolusi industry 4.0 semua sudah serba-serbi teknologi, seharusnya kita melakukan tindakan sesuai dengan kemajuan Negara kita, sampai kapan kita mau tertinggal terus oleh Negara Negara lain sedangkan generasi penerus kita dibuat seolah olah buta terhadap era revolusi industry 4.0 ini.

Selain itu tugas Print-Out ini juga sangat berdampak buruk bagi lingkungan karena penebangan pohon yang semata-mata hanya untuk memenuhi pembuatan kertas seperti  yang sudah saya jelaskan di atas. Seperti yang kita ketahui bahwasannya Mahasiswa jurusan keperawatan merupakan mahasiswa yang cinta akan kebersihan dan lingkungannya sebab itu akan menjadi salah satu pekerjaannya nanti ketika di rumah sakit. Oleh karena itu mahasiswa keperawatan sangatlah tidak cocok dikatakan sebagai sebagai pecinta lingkungan bila masih saja membuat tugas Print-Out yang ujung ujungnya hanya menjadi sampah dikalangan mahsiswa keperawatan nantinya. Banyak yang mengatakan “ayo kita wujudkan Go-Green” tapi mereka tidak menyadi bahwasannya hanya dengan melakukan pemborosan kertas mereka sudah bisa mematahkan kalimat Go-Gren itu.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk menggantikan tugas Print-Out tersebut? Pertama, Simpan dokumen secara digital, dokumen tidak harus selalu dicetak, cukup disimpan dalam bentuk digital di dalam flash disk maupun external hard disk. Ke-dua Manfaatkan e-mail maupun SMS; manfaatkan e-mail/SMS untuk mengirimkan tugas tersebut, dizaman sekarang semua orang pasti empunyai laptop atau smartphone terutama dosen. Ada baiknya tugas tersebut dikirim dalam bentuk file dan dikirim di email dosen dan nantinya akan dibaca oleh dosen tersebut. Tindakan ini sangat efektif bagi mahsiswa terutama mahasiswa keperawatan karena dapat menghemat kertas serta biaya pencetakan.

Selain tindakan di atas, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang ada untuk setidaknya menghemat penggunaan kertas. Tjandra winata (2016). antara lain:

  1. Gunakan e-book; buku merupakan salah satu sumber pemborosan kertas terutama di dunia pendidikan (sekolah/kuliah) atau di dunia kerja sekalipun. Sebuah buku bisa terdiri dari 50-200 lembar halaman dan buku tersebut juga diproduksi dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu sebisa mungkin manfaatkan e-book, karena dapat diperbanyak tanpa menggunakan kertas dan bersifat permanen.
  2. Tidak membagikan notes saat seminar. Seperti yang kita ketahui mahasiswa keperawatan selalu mengikuti seminar. Oleh karena itu saat menyelenggarakan seminar atau workshop sebisa mungkin tidak usah membagikan notes kepada para pesertanya, karena kemungkinan mereka membaca dan menyimpan notes tersebut juga kecil. Untuk lebih menghemat kertas dan biaya lebih baik mengirimkan dokumen/file yang akan dipresentasikan via e-mail kepada peserta. Cara tersebut juga sekaligus mencegah timbulnya sampah-sampah berserakan akibat notes yang tidak dimanfaatkan dengan baik oleh peserta.

Tips-tips penghematan kertas dengan cara memanfaatkan teknologi yang ada ini jika dapat dilakukan terus menerus akan mampu memberikan dampak yang besar bagi penyelamatan hutan yang ada di bumi ini, khususnya Indonesia yang hutannya semakin lama semakin menyempit akibat pembangunan industri yang kian melebar. Biasakanlah untuk memulai dari diri sendiri sebagai mahasiswa keperawatan. “karena manusia yang menghargai kekayaan alamnya sendiri sesungguhnya adalah manusia yang mulia.”


Referensi:

  • Murti Ningsih (2018). Pengaruh revolusi industry 4.0 dalam dunia teknologi di Indonesia. Fakultas computer UAS.
  • Tjandra winata (2016). Industry 4.0 : revolusi industry abad ini dan pengaruhnya pada bidang kesehatan dan bioteknologi. Working paper from Dexa medica grup
  • Vincentius Khrisna , Andereas Pandu Setiawan (2017). Program studi Desain Interior, Universitas Kristen PetraJl.Siwalankerto 121-131, Surabaya Jurnal Intra Vol. 5, No.2, 802-810