“CRITICAL THINKING”, Peningkatan Kualitas Asuhan Keperawatan Di Era Revolusi 4.0

Esai oleh: DIMAN APRIYADI MANTO (Semester 7A)

Sejarah Revolusi Industri

Revolusi Industri 1.0: Perubahan industri tahap ini berlangsung pada tahun 1750 — 1850, yang ditandai dengan digantikannya tenaga manusia dan hewan oleh kehadiran mesin. Salah satunya yaitu penemuan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi Industri ini juga ditandai dengan adanya perubahan secara besar-besaran di bidang manufaktur,  pertanian, pertambangan, teknologi serta transportasi.

Revolusi Industri 2.0
: Perkembangan industri terus mengalami evolusi, akhir abad ke-19 — awal abad ke-20 mulai berkembangnya industrialisasi dan ilmu pengetahuan, pembagian kerja, produksi massal, munculnya Ilmuwan modern, seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Niels Bohr, Nikola Tesla, munculnya pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran yang disebut revolusi teknologi,ditemukannya pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, perkembangan ilmu manajemen meningkatkan efisiensi dan efektivitas manufaktur, pembagian kerja yang dapat meningkatkan produktivitas, produksi barang secara masal.



Revolusi Industri 3.0: Berlangsung pada  akhir abad 20, munculnya internet dan teknologi digital,sehingga dikenal sebagai Revolusi Digital yang mengusung sisi kekinian (real time) yang mengubah pola interaksi dan komunikasi masyarakat kontemporer, perubahan Praktik bisnis. Pabrik dan industri tidak menggunakan manusia sebagai operator melainkan mesin canggih yang memiliki kemampuan berproduksi lebih besar,sehingga pengurangan tenaga kerja manusia tidak terelakkan.

Revolusi Industri 4.0: Berlangsung pada awal abad ke-21 manusia telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi  yang telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa yaitu munculnya Internet of Things, Big Data, Artificial Intelligence, Human Machine Interface, Robotic and Sensor Technology, 3D Printing Technology. Pada era ini besarnya perusahaan tidak menjadi jaminan, namun akselerasi perusahaan yang menjadi kunci keberhasilan meraih kemenangan dalam berkompetisi. Setiap tahap menimbulkan konsekuensi pergerakan yang semakin cepat. Perubahan menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia.

Perkembangan Ilmu Keperawatan

Pada era ini ilmu keperawatan harus mengadopsi perkembangan teknologi untuk penanganan pasien di masa depan juga akan berbeda. Karena itu, penguasaan teknologi menjadi hal yang mutlak diimplementasikan.

Profesi perawat merupakan salah satu profesi yang sangat berpengaruh dalam proses kesembuhan pasien. Dalam melaksanakan tugasnya, perawat berkolaborasi dan berkerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya seperti, dokter, dokter gigi, ahli gizi, tenaga kesehatan masyarakat dan apotekker.

Menurut Rozzano, keperawatan di masa depan akan mengarah pada penggunaan robot perawat yang dapat menggantikan beberapa fungsi keperawatan. Hal itu bukan tidak mungkin dilakukan dengan dukungan teknologi. Saat ini, sudah diciptakan robot yang bisa memberikan obat. Tetsuya Tanioka di Jepang dalam laporannya tentang “Humanoid Nurse Robots as Caring” beliau telah mengembangkan berbagai jenis robot keperawatan humanoid untuk memberikan asuhan keperawatan (Tanioka et al., 2017). Hal ini dapat memberikan tantangan bagi perawat di seluruh dunia dengan mengubah cara bekerja secara adaptif terhadap kemajuan berbasis teknologi informasi.

Critical thingking dalam peningkatan Asuhan Keperawatan.

Saat ini dunia tengah memasuki era disrupsi teknologi yang bergeser pada era revolusi industri 4.0. World Economic Forum (2016) menyebut revolusi industri 4.0 adalah revolusi berbasis Cyber Physical System yang secara garis besar merupakan gabungan tiga domain yaitu digital, fisik, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia dengan pekerjaannya (Tjandrawinata, 2016).

Meskipun saat ini Telah terjadi kemajuan berbasis teknologi dalam dunia keperawatan dengan adanya pengembangan robot dalam pemberian asuhan keperawatan, hal ini jangan sampai merubah keadaan perawat dalam pemberian asuhan keperawatan. Oleh karena itu dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, profesi perawat yang bekerja di pelayanan kesehatan harus meningkatkan kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan adanya perubahan zaman. Kemampuan tambahan tersebut seperti; perawat memiliki critical thinking yang baik, memiliki ide inovatif dan kreatif dalam perawatan pasien. Perawat harus lebih meningkatkan cara berpikir kritis dalam peningkatan pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien dan bukan digantikan peran oleh Robot.

Menurut Potter & Perry (2010), Berfikir kritis penting dilakukan sebelum mengambil keputusan dalam asuhan keperawatan karena merupakan salah satu metode ilmiah dalam menyelesaikan masalah klien. Kemampuan perawat mengidentifikasi masalah klien dan memilih solusi intervensi yang tepat tidak lepas dari kemampuan perawat berfikir kritis untuk menggali berbagai alasan berdasarkan evidence base dari setiap problem dan solusi yang teridentifikasi. Sedangkan Menurut Deswani (2009), Untuk berfikir cerdas perawat harus mengembangkan cara berfikir kritis dalam menghadapi setiap masalah dan pengalaman baru yang menyangkut pasien dengan memiliki karakteristik percaya diri, berfikir mendalam, keadilan, tanggung jawab dan akuntabilitas, mengambil resiko, disiplin, kegigihan, kreatif, rasa ingin tahu, integritas dan randah hati, dimana karakteristik tersebut dapat dilihat dari sikap dalam memberikan asuhan keperawatan dari keterlibatan, kedewasaan untuk mengontrol emosi dan inovasi.

Seorang perawat harus memiliki kemampuan untuk dengan cepat mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada pasien, memberikan pelayanan yang mandiri dan aman, tanggap terhadap berbagai pengambilan keputusan klinis, dan dapat menentukan prioritas. Hal ini tentu saja membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi terhadap pasien dengan baik, sebagai mana diketahui perawat merupakan tenaga medis yang berada di sisi pasien paling lama dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya.

Hasil penelitian Mulyaningsih (2013) yang menyatakan bahwa berpikir kritis dapat mempengaruhi perubahan perilaku seseorang. Sehingga dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat yang berpikir kritis akan mampu menunjukkan sikap yang baik kepada pasien. Perawat yang mempunyai kemampuan berpikir kritis baik akan selalu berusaha mengembangkan perilakunya, termasuk caring kepada pasiennya.

Perawat yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik akan mampu melakukan asuhan keperawatan dari pengkajian sampai dengan evaluasi keperawatan. Selain itu perawat juga akan bisa menerima masukan dan kritis baik dari pasien maupun rekan kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuannya sebagai perawat professional.

Kemampuan berpikir kritis dapat memberikan pandangan yang luas dan solusi kreatif dan inovatif yang dibutuhkan untuk keberhasilan peningkatan kualitas asuhan keperawatan. Perawat harus memanfaatkan waktunya dalam memberikan asuhan keperawatan yang berfokus pada pasien. Berpikir kritis dalam keperawatan merupakan komponen yang sangat penting dari akuntabilitas professional dan salah satu penentu kualitas asuhan keperawatan.


Sumber:

  • Deniaty, K, dkk. 2018. Pengaruh Berpikir Kritis Terhadap Kemampuan Perawat Pelaksana Dalam Melakukan
  • Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit Hermina Bekasi Tahun 2016 : jurnal kesehatan holistik, vol.12 no.1, januari.
  • Sudono, B. dkk. 2017. Gambaran Kemampuan Berpikir Kritis Perawat Primer dalam Pelaksanaan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Islam Surakarta : jurnal keperawatan Indonesia vol. 10 no.1 april.

53 tanggapan untuk ““CRITICAL THINKING”, Peningkatan Kualitas Asuhan Keperawatan Di Era Revolusi 4.0

  • Semoga ilmunya bermanfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.