6 Fakta Tentang Ki Hadjar Dewantara

ilustrasi | aklamasi

Setiap tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) berdasarkan ketetapan Surat Keputusan Presiden RI tahun 1959. Tanggal tersebut dipilih karena merupakan Hari Lahir Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889) tokoh pendidikan Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara (KHD) adalah seorang tokoh yang begitu penting dalam dunia pendidikan Indonesia, berkat jasanya kita bisa menikmati pendidikan saat ini. Berikut ini fakta-fakta lain yang perlu kita ketahui tentang Ki Hadjar Dewantara.



Nama Asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat

Ki Hadjar Dewantara sebelumnya bernama lengkap Raden Mas Soewardi Soerjaningrat merupakan seorang bangsawan. namun saat berusia 40 tahun ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, ia melepaskan gelar kebangsawanan di depan namanya agar lebih bebas dekat dengan rakyat.

Seorang aktivis

KHD keseharian merupakan seorang wartawan muda, ia sempat bekerja dibeberapa surat kabar diantaranya Sediotomo, Midden Java, Poesara, dll. KHD sangat aktif dalam organisasi sosial dan politik, ia merupakan salah satu tokoh dalam organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 dan juga aktif dalam Indische Partij (Partai Politik Pertama di Hindia Belanda).

Penulis artikel “Seandainya Aku Seorang Belanda”

Di dalam surat kabar De Express KHD menulis tulisan yang sangat terkenal yang berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Aks ik ee Nederlander was“). Isi artikel tersebut antara lain:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Tulisan inilah yang membuat Belanda menangkapnya dan diasingkan di Belanda. Dalam pengasingannya ini ia banyak memiliki ide dan cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh akta (ijazah).

Mendirikan Taman Siswa

Sepulangnya ke Indonesia pada September 1919, ia mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada 3 Juli 1922 yang diberi nama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya hingga kini dikenal oleh Masyarakat Indonesia yakni ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutu wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan) semboyan tersebut masih di gunakan dalam dunia pendidikan Indonesia hingga saat ini.

Menteri Pendidikan Pertama Indonesia

Dalam kabinet Presidensial (kabinet pertama yang dibentuk setelah Proklamasi Kemerdekaan) ia ditetapkan sebagai menteri Pengajaran Indonesia (Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan).

Pahlawan Nasional ke-2 Indonesia

KHD meninggal dunia di Yogyakarta pada 26 April 1959. Atas jasa-jasanya dalam membangun pendidikan di Indonesia ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang ke-2 oleh Presiden Soekarno.


Sumber:

  • Wikipedia
  • Dihimpun dari berbagi sumber online