Daftar Diagnosis Keperawatan Keluarga dalam SDKI

ilustrasi keluarga | freepik

Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan memiliki tujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan.

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dan saling ketergantungan. Dalam sebuah keluarga bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.



Keperawatan keluarga merupakan pelayanan holistik yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam tahap pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tujuan keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya.

Perawat memiliki  peranan penting dalam meningkatkan dan membantu masalah kesehatan yang dialami dalam keluarga, untuk itulah penegakan diagnosis keperawatan sangat perlu diperhatikan, berikut ini adalah daftar diagnosis keperawatan keluarga yang sering ditegakkan dalam pemberian asuhan atau pelayanan keperawatan keluarga.

Ketidakmampuan koping keluarga

Perilaku orang terdekat (anggota keluarga atau orang berarti) yang membatasi kemampuan dirinya dan klien untuk beradaptasi dengan masalah kesehatan yang dihadapi klien. Diagnosis ini dapat terjadi karena adanya;

  1. Hubungan keluarga ambivalen (kurang menyenangkan)
  2. Pola koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat.
  3. Resistensi keluarga terhadap perawatan/pengobatan yang kompleks
  4. Ketidakmampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan

Gejala dan tanda yang ditimbulkan adalah

  1. Merasa diabaikan
  2. Merasa tertekan
  3. Tidak memenuhi kebutuhan anggota keluarga
  4. Tidak toleran
  5. Mengabaikan anggota keluarga
  6. Agresi
  7. Agitasi
  8. Perilaku menolak
  9. Perilaku bermusuhan
  10. Ketergantungan anggota keluarga meningkat

Penurunan Koping Keluarga

Ketidakadekuatan atau ketidakefektifan dukungan, rasa nyaman, bantuan dan motivasi orang terdekat (anggota keluarga atau orang berarti) yang dibutuhkan klien untuk mengelola atau mengatasi masalah kesehatannya. Penyebab masalah ini muncul adalah;

  1. Disorganisasi keluarga
  2. Perubahan peran keluarga
  3. Kurangnya saling mendukung
  4. Orang terdekat kurang terpapar informasi
  5. Orang terdekat terlalu fokus pada kondisi di luar keluarga

Gejala dan tanda yang ditimbulkan

  1. Mengeluh tentang respons orang terdekat pada masalah kesehatan
  2. Orang terdekat menarik diri dari klien
  3. Terbatasnya komunikasi orang terdekat dengan klien.
  4. Bantuan dari orang terdekat menunjukkan hasil yang tidak memuaskan.

Baca juga: Menetukan Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga

Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif

Pola penanganan masalah kesehatan dalam keluarga tidak memuaskan untuk memulihkan kondisi kesehatan anggota keluarga. Masalah ini dapat disebabkan oleh:

  1. Kompleksitas sistem pelayanan kesehatan
  2. Kompleksitas program perawatan/pengobatan
  3. Konflik pengambilan keputusan
  4. Kesulitas ekonomi
  5. Konflik keluarga/banyak tuntutan

Gejala dan tanda yang ditimbulkan

  1. Tidak memahami masalah kesehatan yang diderita
  2. Kesulitan menjalankan perawatan yang ditetapkan
  3. Penyakit anggota keluarga semakin memberat
  4. Keluarga gagal mengurangi faktor risiko

Gangguan proses keluarga

Perubahan dalam hubungan atau fungsi keluarga yang dapat disebabkan adanya

  1. Perubahan status kesehatan anggota keluarga
  2. Perubahan finansial keluarga
  3. Krisis perkembangan
  4. Perubahan peran keluarga
  5. Peralihan pengambilan keputusan dalam keluarga

Gejala dan tanda yang ditimbulkan

  1. Keluarga tidak mampu mengungkapkan perasaan secara leluasa
  2. Keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan fisik/emosional/spiritual anggota keluarga
  3. Keluarga tidak mampu mencari atau menerima bantuan secara tepat

Ketegangan Peran Pemberi Asuhan

Kesulitan dalam melakukan peran pemberi asuhan dalam keluarga. Keadaan ini dapat disebabkan adanya:

  1. Beratnya/kronisnya penyakit penerima asuhan
  2. Pemberi asuhan kurang mendapatkan waktu istirahat dan reaksi
  3. Ketidakadekuatan lingkungan fisik dalam pemberian asuhan
  4. Keluarga atau pemberi asuhan jauh dari kerabat lain
  5. Kompleksitas dan jumlah aktivitas pemberi asuhan

Gejala dan tanda

  1. Khawatir klien akan kembali dirawat di rumah sakit
  2. Khawatir tentang kelanjutan perawatan klien
  3. Khawatir tentang ketidakmampuan pemberi asuhan dalam merawat klien.

Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga

Pola adaptasi anggota keluarga dalam mengatasi situasi yang dialami klien secara efektif dan menunjukkan keinginan serta kesiapan yang dialami klien secara efektif dan menunjukkan keinginan serta kesiapan untuk meningkatkan kesehatan keluarga klien.

Diagnosis ini termasuk dalam jenis positif (potensial), dapat diangkat jika keluarga menyatakan

  1. Anggota keluarga menetapkan tujuan untuk meningkatkan gaya hidup sehat
  2. Anggota keluarga menetapkan sasaran untuk meningkatkan kesehatan



Kesiapan Peningkatan Menjadi Orang Tua

Pola pemberian lingkungan bagi anak atau anggota keluarga yang cukup untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan serta dapat ditingkatkan.

Diagnosis ini dapat ditegakan, bila;

  1. Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan peran menjadi orang tua
  2. Tampak adanya dukungan emosi dan pengertian pada anak atau anggota keluarga

Kesiapan Peningkatan Proses Keluarga

Pola fungsi keluarga yang cukup untuk mendukung kesejahteraan anggota keluarga dan dapat ditingkatkan. Diagnosis ini dapat ditegakan jika ditemukan gejala dan tanda;

  1. Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan dinamika keluarga
  2. Menunjukkan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan fisik, sosial dan psikologis anggota keluarga
  3. Menunjukkan aktivitas untuk mendukung keselamatan dan pertumbuhan anggota keluarga
  4. Peran keluarga fleksibel dan tepat dengan tahap perkembangan
  5. Terlihat adanya respek dengan anggota keluarga

Pencapaian Peran Menjadi Orang Tua

Terjadinya proses interaktif antar anggota keluarga (suami-istri, anggota keluarga dan bayi) yang ditunjukkan dengan perkembangan bayi yang optimal. Diagnosis ini dapat ditegakan jika ditemukan tanda

  1. Bounding attachment optimal
  2. Perilaku positif menjadi orang tua
  3. Saling berinteraksi dalam merawat  bayi
  4. Melakukan stimulasi visual, taktil atau pendengaran terhadap bayi.

Risiko Gangguan Perlengketan

Berisiko mengalami gangguan interaksi antara orang tua atau orang terdekat dengan bayi/anak yang dapat mempengaruhi proses asah, asih dan asuh. Keadaan ini dapat terjadi dengan faktor risiko:

  1. Khawatir menjalankan peran sebagai orang tua
  2. Perpisahan antara ibu dan bayi/anak akibat hospitalisasi
  3. Penghalang fisik (mis. inkubator, baby warmer)
  4. Ketidakmampuan orang tua memenuhi kebutuhan bayi/anak
  5. Perawatan dalam ruang isolasi
  6. Prematuritas
  7. Konflik hubungan antara orang tua dan anak
  8. Perilaku bayi tidak terkoordinasi

Risiko Proses Pengasuhan Tidak Efektif

Berisiko mengalami proses kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan termasuk perawatan bayi baru lahir yang tidak sesuai dengan konteks norma dan harapan. Diagnosis ini dapat diangkat jika ditemukan faktor risiko:

  1. Kekerasan dalam rumah tangga
  2. Kehamilan tidak diinginkan/direncanakan
  3. Kurang terpapar informasi tentang proses persalinan/pengasuhan
  4. Ketidak berdayaan maternal
  5. Distres psikologis
  6. Ketidaknyamanan selama persalinan
  7. Akses pelayanan kesehatan sulit dijangkau
  8. Ketidaksesuaian kondisi bayi dengan harapan
  9. Ketidakamanan lingkungan untuk bayi

Sumber:

  • PPNI (2017) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.