ilustrasi | Google Image

Buang Air Besar/BAB atau eliminasi alvi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan ini diatur oleh gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus (duodenum, jejenum dan ileum) dan usus besar yang meliputi katup ileum caecum sampai ke dubur (anus).

Proses pembentukan feses (sisa makanan) dimulai dari ketika makanan yang diterima oleh usus dalam bentuk setengah padat (chyme) yang berasal dari lambung kemudian akan diabsorpsi air, nutrien/zat gizi, maupun elektrolit kemudian usus sendiri akan mensekresi mucus, potasium, bikarbonat dan enzim. Proses perjalanan makan hingga ke rektum membutuhkan waktu lebih dari 12 jam.

Proses Buang Air Besar (defekasi)

Defekasi merupakan pengosongan usus (BAB). Dalam proses defekasi terdapat dua refleks yang berperan penting terletak di medula dan sumsum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis, sphingter ani bagian dalam kendor dan usus besar menguncup refleks defekasi dirangsang untuk buang besar, kemudian spingter ani bagian luar diawasi oleh sistem parasimpatis setia waktu menguncup atau kendor. Selama proses defekasi berbagai otot lain membantu proses itu diantaranya otot-otot dinding perut, diafragma, dan otot dasar pelvis.



Untuk membantu proses defekasi  terdapat dua macam reflek. 1) refleks defekasi intrinsik yang dimulai dari adanya zat sisa makanan (feses) terdapat direktum sehingga terjadi distensi, kemudian flexus mesenterikus yang merangsang gerakan peristaltik dan akhirnya feses sampai di anus, kemudian spingter interna relaksasi maka terjadilah proses defekasi. 2) refleks defekasi parasimpatis, adanya feses di rektum merangsang saraf rektum yang kemudian ke spinal cord, dan merangsang ke kolon desenden, ke sigmoid. Rektum dengan gerakan peristaltik dan akhirnya terjadi relaksasi sphincter interna maka terjadilah proses defekasi.

Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi terdapat beberapa gangguan/masalah yang bisa terjadi diantaranya:

Gangguan/masalah eliminasi alvi (buang air besar)

  1. Konstipasi: Keadaan individu mengalami atau berisiko tinggi terjadinya stasis usus besar yang berakibat jarang buang air besar, keadaan ini ditandai dengan adanya feses yang keras, defekasi kurang dari 3 kali seminggu, menurunnya bising usus, nyeri saat mengejan dan defekasi dan keluhan pada rectum.
  2. Konstipasi kolonik: keadaan individu mengalami atau berisiko mengalami pelambatan pasase residu makanan yang mengakibatkan feses kering dan keras. Konstipasi kolonik ditandai dengan adanya penurunan frekuensi eliminasi, feses kering dan keras, mengejan saat defekasi, nyeri defekasi, distensi abdomen, tekanan pada rektum dan nyeri abdomen.
  3. Diare: keadaan individu mengalami atau berisiko sering mengalami pengeluaran feses cair/tidak berbentuk atau keluarnya tinja yang encer terlalu banyak dan sering. Frekuensi defekasi lebih dari 3 kali sehari, nyeri/kram abdomen, bising usus meningkat.
  4. Inkontinensia usus merupakan keadan individu mengalami perubahan kebiasaan defekasi yang normal dengan pengeluaran feses involunter (sering juga dikenal inkontinensia alvi). Orang mengalami inkontensia alvi dapat ditandai dengan hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sfingter akibat kerusakan sfingter.
  5. Kembung: keadaan flatus yang berlebihan di daerah testinal yang dapat menyebabkan terjadinya distensi pada intestinal, hal ini dapat disebabkan karena konstipasi atau penggunaan obat-obatan.
  6. Hemorid adalah pelebaran dan inflamasi dari pleksus arteri-vena disaluran anus yang berfungsi sebagai katup untuk mencegah inkontinensia flatus dan cairan. Hemoroid juga sering disebut penyakit wasir atau ambeien.
  7. Fecal impaction keadaan dimana masa feses keras di lipatan rectum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Masalah ini sering terjadi pada orang yang mengalami sembelit dalam waktu yang lama yang dapat disebabkan adanya aktivitas kurang, asupan rendah serat dan kelemahan tonus otot.

Proses defekasi dapat juga dipengaruhi oleh usia, diet, intake cairan, aktivitas, pengobatan, gaya hidup, kerusakan sensorik dan motorik.


Sumber:

  • A. Aziz Hidayat dan Musrifatul Uliyah, 2012. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia.
  • Danar Fahmi Sudarsono, 2015. Diagnosis dan Penanganan Hemoroid. J Majority Vol. 4 No. 6
  • Dihimpun dari berbagai sumber lainnya.