ilustrasi | 1st Providers Choice

Oleh: Alwi Siddiq Ahmadi (Semester 5/B)

(tulisan ini dilombakan dalam Kegiatan Diesnatalis Keperawatan UNG 2020) 

Pandemi Corona Virus Disease tahun 2019 (COVID – 19) yang mewabah saat ini tidak hanya dirasakan dampaknya pada sektor kesehatan, tapi juga merambah ke seluruh sendi kehidupan, termasuk sektor pendidikan dan sektor ekonomi yang saat ini sangat merasakan dampak yang sangat besar dari pandemi COVID-19 saat ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit yang disebabkan virus terus muncul dan menjadi masalah serius bagi kesehatan masyarakat.

Dalam dua puluh tahun terakhir, epidemi virus seperti Severe Acute Respiratory Syndrome coronavirus (SARS-CoV) pada tahun 2002 – 2003, dan Influenza H1N1 pada 2009. Kemudian Middle East Respiratory Syndrome corona virus (MERS-CoV) pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012. Terbaru adalah kasus epidemi pernapasan yang terjadi di Wuhan, daerah metropolitan terbesar di provinsi Hubei China, pertama kali dilaporkan ke WHO, pada 31 Desember 2019. (Psikologis dalam Memberikan Perawatan dan Layanan Kesehatan Pasien COVID-, Tenaga Profesional Kesehatan Lilin Rosyanti, Hadi, Keperawatan, & Kemenkes Kendari, 2020).



COVID-19 merupakan virus baru yang sangat menular dan telah menyebar dengan cepat secara global. Pada pertemuan tanggal 30 Januari 2020, sesuai dengan peraturan kesehatan Internasional, wabah tersebut dinyatakan oleh WHO sebagai kondisi darurat karena telah menyebar ke 18 negara dengan 4 negara melaporkan transmisi ke manusia. (Cascella et al., 2020). Pada awal masa penyebarannya, informasi yang valid mengenai karakteristik dari Covid-19 yang sedang mewabah saat ini masih sangat minim. Mulai dari masa inkubasi yang masih belum diketahui, adanya pasien tanpa gejala yang berisiko menularkan ke orang lain yang tidak dapat diketahui tanpa adanya hasil test rapid dan swab, serta beredarnya hoaks dan informasi-informasi yang tidak valid mengenai kasus COVID-19 secara umum menjadi penyebab timbulnya reaksi cemas dan khawatir di seluruh masyarakat dunia.

Selain kecemasan karena ancaman bahaya yang dapat ditimbulkan akibat terpapar virus itu sendiri, serta ketidakpastian umum mengenai perkembangan kasus COVID-19, tidak diragukan juga bahwa tindakan karantina yang dilakukan di banyak Negara memiliki dampak psikologis negatif yang memperparah tingkat stress masyarakat tentang pandemi yang sedang mewabah. Hal ini didukung berdasarkan hasil penelitian terbaru yang melaporkan bahwa orang dengan pengalaman isolasi dan karantina memiliki perubahan signifikan pada tingkat kecemasan, kemarahan, kebingungan, dan stress oleh Brooks (2020).

Masyarakat di luar tempat karantina mengalami ketakutan tertular karena pengetahuan tentang COVID-19 yang terbatas atau salah (Brooks, Rebecca, Smith, Wood 8land, Wessely, Greenberg, and Rubin, 2020). Bahkan dengan keadaan cukup pelik yang dihadapi oleh masyarakat dunia khususnya tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam pertarungan melawan Covid ini, masih diperparah lagi dengan kelakuan sebagian oknum yang menjadi penyebar hoaks atau memalsukan informasi terkait COVID-19. Sebagian oknum juga mengambil keuntungan dari pandemi, dengan cara menjual masker dan APD dengan harga yang sangat tinggi.

Di Indonesia sendiri, kenaikan harga masker, cairan antiseptik, dan APD yang dibutuhkan untuk menunjang upaya penanggulangan penularan virus sangat memperparah keadaan. Masyarakat cenderung menjadi paranoid dan menunjukkan respon yang berlebihan terhadap pandemi dengan melakukan pemborongan masker, pembelian APD yang melebihi kebutuhan normal, secara umum menyebabkan masalah baru karena jumlah stok APD yang tersedia masih sangat minim. Bahkan seringkali timbul perasaan curiga yang berlebihan terhadap keluarga atau orang lain di lingkungan sekitar yang mungkin tanpa diketahui telah terpapar penyebaran COVID-19.

Tidak hanya itu, beberapa orang beranggapan bahwa datang untuk memeriksakan kesehatan ke fasilitas kesehatan hanya akan memperbesar kemungkinan terpapar dan terinfeksi, yang tentunya sangat menghambat upaya pemerintah dan tenaga kesehatan untuk melakukan tracking contact terhadap masyarakat yang terpapar. Ditambah lagi dengan adanya kebiasaan atau budaya masyarakat komunal yang erat kaitannya dengan kegiatan seremonial yang melibatkan unsur banyak orang dalam kerumunan besar yang mengabaikan anjuran Social Distancing.

Keterbatasan dan sulitnya untuk memenuhi kebutuhan hidup baik perseorangan ataupun rumah tangga juga seringkali menjadi faktor pemicu terjadinya stress. Keterbatasan suplai pangan juga membuat sebagian orang yang memiliki persediaan lebih memilih untuk tidak membagikan persediaannya dan digunakan untuk kebutuhannya dihari mendatang (Qiu, Shen, Zhao, Wang, Xie, Xu, 2020). Hal ini tentunya membawa pengaruh yang besar terhadap kondisi kejiwaan masyarakat, terlebih lagi bagi tenaga medis yang secara langsung harus melakukan kontak dengan pasien yang terinfeksi.

Tenaga professional kesehatan akan mengalami kondisi kejiwaan yang lebih berat. Bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan, akan sulit untuk tetap sehat secara mental dan secara fisik dalam situasi yang ada saat ini. Menurut salah seorang perawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Gambiran Kota Kediri, M (47) mengatakan “Tidak semua perawat mau ditempatkan di sini karena risikonya yang tinggi”. Sebelum wabah terjadi, dia bertugas di bagian Pengendalian Pencegahan Infeksi (PPI). Dia dipindahkan ke bagian isolasi pasien penyakit menular untuk membantu penanggulangan COVID-19, meski banyak rekannya yang menolak tugas tersebut. TS, perawat berusia 54 tahun yang menjadi rekan M di ruang isolasi memberikan kesaksian yang sama.

Perawat senior ini bahkan mengalami tekanan mental di luar tempat kerjanya sejak merawat pasien COVID-19. “Mereka mengucilkan saya karena dianggap menularkan virus. Padahal tidak sesederhana itu”, katanya (12/12/2020) dikutip dari merdeka.com. Tidak hanya itu, stigma yang timbul di kalangan masyarakat tentang COVID-19 yang hanya konspirasi yang dibuat-buat untuk memberikan keuntungan pada tenaga medis sangat memperparah beban mental bagi para tenaga medis. Belum cukup dengan masalah pandemi yang sedang mewabah, mereka juga harus kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang justru sedang mereka perjuangkan untuk tetap terlindungi dari wabah.

Tanggung jawab profesi yang mengharuskan perawat berhadapan langsung dengan p asien, mengusahakan segala upaya yang ada demi menjamin kesehatan dan keselamatan pasien, tekanan mental saat harus turun dan bertugas memakamkan pasien yang meninggal, terpisah dari keluarga, situasi pandemi yang tidak biasa, peningkatan kasus setiap harinya, rasa takut dan khawatir akan terpapar dan terinfeksi, sarana teknis yang tidak memadai untuk melakukan tindakan, dan belum lagi situasi dimana mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa teman sejawat atau bahkan dirinya sendiri harus ikut terinfeksi virus dengan keadaan penuh tekanan yang sedang dihadapi.

Memang tidak diragukan lagi, ungkapan bahwa perawat merupakan “Pahlawan Dunia” saat ini sangatlah benar adanya, sebagaimana pekataan Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden menyatakan dalam pidatonya “If there any angels in heaven, they’re all nurses. Doctors allow you to live, nurses – they make you want to live” yang memperjelas fakta di lapangan bahwa perawatlah yang paling sering menghabiskan waktunya bersama pasien, Perawat tidak hanya mengusahakan Cure namun juga Care kepada pasien. Tetapi demikian, perawat juga manusia yang dapat mengalami depresi dan cemas saat berada dalam tekanan dan terancam bahaya.

Menurut Allsopp (2019), penelitian sebelumnya telah menyatakan bahwa gangguan mental dari suatu bencana besar memiliki dampak yang lebih luas dan lebih lama dibandingkan dengan cedera fisik, sedangkan perhatian pada kesehatan mental jauh lebih sedikit, baik dari segi pengadaan personel untuk perencanaan dan sumber daya. Potensi konsekuensi kesehatan mental yang serius pada professional perawatan kesehatan selama krisis COVID-19 dapat menghadirkan risiko yang meningkat untuk konsekuensi kesehatan mental dibandingkan dengan populasi umum, dan menekankan perlunya menerapkan langkah-langkah penting untuk menjaga kesehatan mental tenaga medis selama pandemi. Namun strategi dukungan yang berpusat pada kesehatan mental sering diabaikan dan tidak terkoordinasi dengan baik (Psikologis dalam Memberikan Perawatan dan Layanan Kesehatan Pasien COVID- et al., 2020).

Padahal penyebab kegelisahan dari tenaga kesehatan diketahui secara universal, COVID-19 sangat menular dan menyebar dengan cepat, petugas kesehatan garis depan menanggung beban kerja yang meningkat secara signifikan. Situasi yang spesifik ini menimbulkan tekanan psikologis yang sangat tinggi, sehingga jika dibiarkan atau tidak ditanggapi sebagai masalah serius, akan membawa dampak yang buruk juga terhadap kinerja dari tenaga medis itu sendiri. Beban mental yang berlebihan akan mempengaruhi imunitas dan kesehatan fisik, yang akibatnya membuat tubuh menjadi rentan dan mudah jatuh sakit, sehingga tidak perlu diragukan lagi bahwa kesehatan mental dapat sangat mempengaruhi kinerja para tenaga medis di lapangan.

Salah satu strategi untuk mengatasi beban mental para tenaga kesehatan di masa pandemi saat ini adalah menekankan pentingnya kontrol penularan, dan mengeluarkan sejumlah dokumen yang menyerukan perhatian pada kesehatan mental dan fisik staf tenaga kesehatan, perlunya serangkaian dukungan dan dorongan, seperti :

  1. Menyediakan tempat untuk mengambil makanan dan persediaan,
  2. Mengisi kembali peralatan APD yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan,
  3. Menyediakan tenaga kerja, bala bantuan tim medis tambahan,
  4. Memperkuat pasukan keamanan untuk mempertahankan tatanan perawatan medis.
  5. Menyediakan tempat tinggal bagi tenaga medis selama mereka dipisahkan dari keluarga.\

Kemudian, untuk setiap rumah sakit, sangat penting untuk membantu mengatasi ketegangan dan mengurangi risiko menderita kecemasan dan depresi staf medis. Oleh karena itu, budaya yang berorientasi pada peduli kemanusiaan lebih memperhatikan kesehatan mental tenaga kesehatan dipromosikan untuk kemajuan rumah sakit di masa depan. Untuk masalah psikologis, organisasi konsultasi psikologis yang komprehensif telah terbentuk secara teratur melakukan manajemen kesehatan mental untuk tenaga kesehatan dalam waktu yang lama. Bagi mereka yang menderita gangguan stress pasca-trauma (PTSD) disediakan perawatan tindak lanjut yang tepat. (Psikologis dalam Memberikan Perawatan dan Layanan Kesehatan Pasien COVID- et al., 2020)

Selain itu, dukungan yang diberikan oleh berbagai pihak juga sangat penting dalam meningkatkan semangat dan mambangun harapan para tenaga kesehatan untuk terus berjuang. Menyebarkan pesan-pesan kemanusiaan yang berisi penyemangat dan dukungan penuh dapat membantu meringankan beban mental yang dialami oleh para pejuang garis depan. Sebagai satu komunitas masyarakat, kita juga bisa memberikan bantuan dan dukungan berupa materi untuk dapat mendukung sarana dan prasarana yang menunjang upaya penanganan pandemi COVID-19. Sebagai contoh, yang dilakukan sebagian mahasiswa keperawatan di Gorontalo yaitu dengan mengumpulkan masa dan mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam rangka pengadaan APD yang dapat membantu pencegahan paparan dan infeksi virus terhadap tenaga kesehatan. Sebagian orang khususnya mahasiswa juga bisa menunjukkan bentuk kepeduliannya dengan membuat tulisan-tulisan, poster, pamflet, atau video yang berisi informasi-informasi yang valid seputar COVID-19 untuk menumbuhkan kesadaran di masyarakat tentang bahaya COVID-19 sekaligus menangkal hoaks-hoaks yang beredar terkait wabah saat ini.

Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini seharusnya dapat lebih mempermudah usaha kita dalam memberikan bantuan dan dukungan semaksimal mungkin guna meningkatkan upaya penanggulangan COVID-19. Menurut Wakil Bupati Pringsewu Dr.H.Fauzi,SE,M.Kom.,Akt.,CA,CMA dalam makalahnya yang berjudul ‘Dampak Covid-19 pada Sektor Industri Teknologi’, pemanfaatan teknologi informasi memiliki peranan yang sangat penting, sekaligus sebagai solusi untuk mengatasi pembatasan social (social distancing), diantaranya dalam urusan pemerintahan, pendidikan, bisnis, ekonomi, kesehatan, bahkan urusan agama dan ibadah. Menurut Fauzi, di kediamannya di Pringsewu Barat, dengan diterapkannya teknologi informasi dapat memberikan efisiensi waktu dan biaya serta tenaga, dan tanpa disadari bahwa kehidupan manusia saat ini telah memiliki ketergantungan terhadap teknologi informasi ini (30/4/20) dikutip dari setda.pringsewukab.go.id.



Sebagai bagian dari masyarakat yang juga ikut terkena dampak dari pandemi saat ini, harus kita pahami bersama bahwa pandemi COVID-19 ini bukan hanya masalah yang harus ditangani oleh pemerintah dan tenaga kesehatan saja. Sebagai manusia kita memiliki kewajiban untuk ikut andil dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan, dalam hal ini adalah pandemi COVID-19 itu sendiri. Maka dari itu, sangat penting bagi kita semua untuk menyadari peran kita masing-masing dalam perjuangan melawan COVID-19 atau masalah semisalnya yang bisa datang kapan saja.

Kita dituntut untuk bersikap cerdas dan tenang dalam menyikapi informasi dan persoalan yang timbul ke permukaan, tidak menjadikan masalah yang ada semakin pelik dengan bertindak paranoid atau berlebih-lebihan, dan tidak juga bersikap acuh tak acuh terhadap masalah yang ada. Penting bagi kita semua sebagai bagian dari masyarakat dan lebih dari itu sebagai makhluk sosial yang berbagi kesulitan yang sama sebagai akibat dari pandemi COVID-19 untuk saling memberikan dukungan dan suport, baik dari segi materi dan bantuan secara langsung maupun berupa dukungan semangat dengan pemanfaatan teknologi yang tersedia saat ini tentunya akan sangat mendukung kesehatan mental masyarakat khususnya para tenaga kesehatan. Stay Safe, Stay at home, Stay Awesome, Semoga Epidemic saat ini menjadi Epic Ending bagi kita semua.


Sumber:

  • Allsopp, K. Brewin, CR. Barrett, A Williams, R, Hind, D, Chitsabesan, P, French, Paul (2019) „Responding to mental health needs after terror attacks‟, The BMJ. doi: 10.1136/bmj.l4828, (diakses pada 12 Desember 2020)
  • Anton Hapsara, 2020. Teknologi informasi sebagai solusi di masa pandemi covid-19 di www.setda.pringsewukab.go.id
    (https://www.setda.pringsewukab.go.id/detailpost/teknologi-informasi-sebagai-solusi-di-masa-pandemi-covid-19) di akses pada 12 Desember 2020
  • Brooks, S K, Webster, RK, Smith, L E. Woodland, L, Wessely, S, Greenberg, N, and Rubin, GJ (2020) „The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence‟, The Lancet. doi: 10.1016/S0140-6736(20)30460-8, (diakses pada 12 Desember 2020)
  • Cascella, M., Rajnik, M., Cuomo, A., Dulebohn, S. C., & Di Napoli, R. (2020). Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19) StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing, Copyright © 2020, StatPearls Publishing LLC. Google Scholar, (diakses pada 12 Desember 2020)
  • Imam Mubarok, 2020. Tugas berat perawat pasien covid-19 di www.merdeka.com
    (https://www.merdeka.com/peristiwa/tugas-berat-perawat-pasien-covid-19.html) di akses pada 12 Desember 2020
  • Psikologis dalam Memberikan Perawatan dan Layanan Kesehatan Pasien COVID-, D., Tenaga Profesional Kesehatan Lilin Rosyanti, pada, Hadi, I., Keperawatan, J., & Kemenkes Kendari, P. (2020). Hijp : Health Information Jurnal Penelitian. Faktor Penyebab Stres Pada Tenaga Kesehatan Dan Masyarakat Pada Saat Pandemicovid-19, 12. (Retrieved from https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/HIJP (diakses pada 12 Desember 2020)
  • Qiu, J. Shen, B, Zhao, M, Wang, Z, Xie, B, Xu, Y (2020) „A nationwide survey of psychological distress among Chinese people in the COVID-19 epidemic: Implications and policy recommendations‟, General Psychiatry. doi: 10.1136/gpsych-2020-100213. (diakses pada 12 Desember 2020)

Satu tanggapan untuk “Defisit Kesehatan Mental Saat Masa Pandemi COVID-19 di Era 4.0

  • Disiplin barang langka d negri ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.