Pahami dan Cegah Stunting Pada Anak Sejak Dini

ilustrasi | ©sehatnegeriku
Tulisan oleh: Mar'atuljannah Una (Mahasiswa Kesehatan Kesehatan Masyarakat)

Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada bayi (0-11 bulan) dan anak balita (12-59 bulan) akibat dari kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Stunting menurut WHO adalah gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Status gizi anak ditentukan dengan beberapa criteria, yaitu kesesuaian berat badan dengan umur (BB/U), kesesuaian panajang badan atau tinggi badan dengan umur (PB/U), dan kesesuaian berat badan dan tinggi badan (BB/TB). Indeks BB/TB merefleksikan status gizi pada masa kini, sedangkan indeks TB/U merefleksikan status gizi balita pada masa lampau (Ni’mah & Muniroh, 2015).



Balita pendek (stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunted). Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016).

Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF) tahun 2017, terdapat 92 juta (13,5%) balita di dunia mengalami underweight, 151 juta (22%) balita mengalami stunting dan 51 juta (7,5%) balita mengalami wasting. Sebagian besar balita di dunia yang mengalami underweight, stunting dan wasting berasal dari Benua Afrika dan Asia (UNICEF, 2017). stunting bisa dikenali dari tubuh anak yang berperawakan pendek. Namun, tubuh yang berperawakan pendek bukan berarti anak tersebut terindikasi stunting.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K)., FAAP., dan Prof. dr. Dodik Briawan MCN berpendapat perbedaan paling besar antara tubuh anak yang pendek dan stunting dapat dilihat pada penyebabnya. Menurut mereka, tubuh pendek bisa disebabkan oleh beragam hal, sedangkan stunting lebih banyak disebabkan oleh gizi buruk yang berkepanjangan (malnutrisi kronis) ditambah sejumlah faktor lain.

Penyebab Stunting

Anak yang terindikasi Stunting dapat terjadi karena kurang mendapatkan asupan gizi sejak dalam 1000 hari pertama kehidupan, hal ini dapat diketahui 1000 hari pertama kehidupan dapat dimulai sejak anak masih dalam kandungan ibu hingga anak tersebut berusia 2 tahun. Salah satu yang paling berpengaruh anak terindikasi stunting karena kurangnya asupan protein. Selain faktor tersebut, terdapat faktor lain yaitu masalah pada saat kehamilan, melahirkan, pemberian ASI (air susu ibu) atau setelahnya, seperti pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang tidak mencukupi asupan jumlah nutrisi.

Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi, stunting juga dapat disebabkan oleh sanitasi lingkurang yang tidak memadai, akibatnya anak mudah terserang penyakit infeksi yang bersumber dari buruknya lingkungan tempat tinggal anak. Selain itu pola asuh anak dapat menjadi faktor stunting pada anak. Buruknya pola asuh pada anak umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu dalam mengasuh anak.

Lebih buruk lagi, stunting dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perempuan yang mengalami stunting di masa kecilnya cenderung mengalami malnutrisi pada saat hamil dan melahirkan bayi yang nantinya akan mengalami stunting pula.

Ciri-Ciri Stunting

Menurut Kemenkes RI, balita bisa diketahui stunting bila sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasil pengukurannya ini berada pada kisaran di bawah normal (berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunted)

  • Pertumbuhan mengalami keterlambatan
  • Wajah cenderung lenih muda dari anak seusianya
  • Pertumbuhan gigi anak terlambat
  • Anak sulit fokus dalam belajar
  • Pada usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, sulit melakukan eye contact pada orang sekitanya
  • Lebih mudah mengalami penyakit infeksi
  • Tanda pubertas pada anak terhambat



Dampak stunting pada anak

  • Kognitif lemah dan psikomotorik terhambat Bukti menunjukkan anak yang tumbuh dengan stunting mengalami masalah perkembangan kognitif dan psikomotor.
  • Kesulitan menguasai ilmu sains dan berprestasi dalam bidang olahraga
    anak-anak yang mengalami masalah perkembangan kognitif dan psikomotor cenderung memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata hal ini berdampak pada sulitnya anak menguasai ilmu sains serta kemampuan analisis anak yang lebih lemah. Selain itu tubuh yang berperawakan pendek mempengaruhi kemampuan fisik di masa mendatang sehingga menurunkan kualitas sumberdaya manusia di masa mendatang.
  • Mudah terserang penyakit degenaratif. Seseorang yang dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya mengalami kekurangan gizi dapat mengalami masalah pada perkembangan sistem hormonal insulin dan glukagon pada pankreas yang mengatur keseimbangan dan metabolisme glukosa. Sehingga, pada saat usia dewasa jika terjadi kelebihan intake kalori, keseimbangan gula darah lebih cepat terganggu, dan pembentukan jaringan lemak tubuh (lipogenesis) juga lebih mudah. Dengan demikian, kondisi stunting juga berperan dalam meningkatkan beban gizi ganda terhadap peningkatan penyakit kronis di masa depan.
  • Menurunnya kualitas sumber daya manusia
    Kurang gizi dan stunting saat ini, menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia usia produktif. Masalah ini selanjutnya juga berperan dalam meningkatkan penyakit kronis degeneratif saat dewasa.

Upaya yang dilakukan untuk mencegah stunting

  1. Memenuhi asupan gizi sejak hamil
  2. Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ANC (Ante natal care) secara rutin dan berkala
  3. Penuhi pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan
  4. Memantau aktivitas tumbuh kembang anak
  5. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar
  6. Memberantas kemungkinan anak terserang cacingan
  7. Memberikan MPASI sesuai kebutuhan nutrisi
  8. Rutin melakukan stimulasi dini perkembangan motorik dan psikomotor anak.

Referensi

  • 4 Dampak Stunting Pada Anak Negara Indonesia (https://theconversation.com/empat-dampak-stunting-bagi-anak-dan-negara-indonesia-110104 diakses pada 7 Agustus 2021)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Situasi Balita Pendek. ACM SIGAPL APL Quote Quad, 29(2), 63–76. https://doi.org/10.1145/379277.312726.
  • Kenali Dan Cegah Stunting Sejak Dini (https://pauddikmasdiy.kemdikbud.go.id/artikel/kenali-dan-cegah-stunting-sejak-dini/ diakses 7 Agustus 2021)
  • Memahami Stunting Pada Anak-Alodokter (https://www.alodokter.com/memahami-stunting-pada-anak diaskes 7 Agustus 2021)
  • Ni’mah, C., & Muniroh, L. (2015). Hubungan Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan dan Pola Asuh Ibu dengan Wasting dan Stunting pada Balita Keluarga Miskin. Media Gizi Indonesia, 10(1), 84– 90.
  • Stunting pada anak : Ketahui Penyebab, Ciri, dan Cara Pencegahan (https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyakit-pada-anak/stunting/ diakses 7 Agustus 2021)
  • UNICEF. Malnutrition in Children. [Online]; (2017) (diunduh 7 Agustus 2021). Tersedia dari:https://data.unicef.org/topic/nutrition/malnutrition