Gustinerz.com | Skin test adalah suatu prosedur pemberian uji hipersensitifitas obat (alergi obat). Obat yang sering menimbulkan alerggi adalah penisilin dan sefalosporin (jenis antibiotik), sehingga sebelum menggunakan obat tersebut perlu dilakukan uji skin tes. Skin test paling banyak dirumah sakit dengan metode intradermal test.

Pemeriksaan test intradermal dilakuakn engan pemberian 0.01-0.02 mL obat injeksi ke lapisan dermis kulit. Area kulit yang dilakukan tes tersebut harus dievaluasi apabila terjadi kemerahan dan pembengkakan atau gatal. Tes intradermal masih merupakan standar baku pada pemeriksaan uji hipersensitifitas terhadap obat, walaupun beberapa tenaga medis belum seragam terkait standar ini untuk mengevaluasi hipersensitifitas.



Penelitian menunjukkan bahwa intradermal tes dapat memberikan petunjuk adanya reaksi sensitiftas pada jenis obat antibiotik khususnya ceftriaxone.

Pertanyaanya, mengapa obat jenis antibiotik perlu dilakukan uji skin test?. Berikut penjelasannya

  1. Melakukan tes intradermal dilakukan untuk memastikan pasien tidak mengalami alergi obat tertentu (khususnya obat jenis antibiotik) sebelum dilakukan pemberian injeksi.
  2. Risiko yang ditimbulkan jika tidak dilakukan skin tes (intradermal) adalah pasien bisa saja mengalami alergi yang berakibat adanya syok anafilaktif. Syok anafilaktik adalah respon imunologi yang berlebihan (hipersensitifitas).
  3. Skin test memberikan bukti sensitisasi terhadap obat tertentu yang harus selalu diintepretasikan sesuai konteks klinis dan tidak digunakan untuk skrining obat.

Sumber:

  • Salman, M & Hutasoit, GA. 2019. Perlukah Skin Test Pada Anak Sebelum Pemberian Antibiotik Injeksi. Jurnal kesehatan tadulako
  • IDAI. 2013. Tes Kulit pada pemberian injeksi antibiotik.