Gambar: Collective Evolution

Pelajari Lebih Dalam Tentang Depresi Setelah Persalinan (Postpartum)

Ditulis oleh: Yessy Kurniati, SKM, M.Kes

Setelah persalinan, hampir 50% ibu baru mengalami depresi.Hal ini biasa terjadi pada periode postpartum. Gangguan mood ini apabila tidak ditangani dengan baik, bisa jadi akan berkembang menjadi lebih buruk lagi, bahkan dapat menjadi depresi yang menetap pada waktu selanjutnya (Skalkidou A, Sylven SM, Papadopoulus FC, Olovsson M, Larsson A, Sundstrm-Poromaa I, 2009).

Gejala awal depresi postpartum (DPP) biasanya muncul antara 4 sampai 6 minggu postpartum. Meskipun demikian, DPP sebenarnya dapat muncul sejak awal persalinan, atau menjadi lanjutan dari depressi selama kehamilan (Teissedre F, Chatrol H, 2004) Ibu yang mengalami DPP sering merasa cemas dan khawatir berlebihan terkait dengan persalinan dan peran baru sebagai orang tua.Ibu tersebut juga sering berpikir untuk bunuh diri atau menyakiti bayinya.DPP ini dapat berkembang menjadi sindrom baby blues ((Yonkers KA, Vigod S, Ross LE, 2011).

Secara umum risiko DPP meliputi beberapa factor. Pertama, riwayat gejala sindrom premenstruasi (Payne JI, Palmer JT, Joffe H, 2009). Kedua, sejumlah factor social seperti tingkat pendidikan dan pekerjaan, kehidupan yang dipenuhi tekanan dan perkawinan yang sulit (Marks MN, Wieck A, Checkley SA, Kumar R, 1992). Ketiga, factor kepribadian nampaknya juga menjadi factor yang penting sebagai risiko DPP (Verkerk GJ, Denollet J, Van Heck GI, Van Son MJ, Pop VJ, 2005). Terakhir, DPP nampaknya berhubungan dengan perubahan hormonal setelah persalinan (Payne JI, Palmer JT, Joffe H, 2009) Meskipun dalam budaya yang berbeda, fenomena dan risiko DPP ternyata sangat mirip.

Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Tian T yang mengkaji faktor-faktor risiko DPP pada 1970 wanita di Cina menemukan bahwa risiko DPP yang mereka peroleh mirip dengan yang ditemukan di negara-negara barat. Risiko itu meliputi status pekerjaan dan pendidikan rendah yang ternyata meningkatkan risiko DPP. Pasien yang mengalami DPP juga biasanya memiliki gangguan rasa cemas, menderita depresi di usia muda serta memiliki tingkat neurotisme yang tinggi(Tian T, et al, 2012).

Risiko DPP pada ibu meliputi gangguan mental sebelumnya, stress psikologis, dukungan social ekonomi yang tidak memadai dan pengalaman persalinan yang sulit (Bloch M, Rotenberg N, Koren D, et al, 2006). Ibu yang mengalami stress secara fisiologi juga rentan mengalami DPP. Namun, meskipun seorang ibu memiliki risiko-risiko tersebut, dia tidak lantas akan mengalami DPP(Corwin EJ, Johnston N, Pugh L, 2008). Fakta menunjukkan bahwa depresi pada ibu akan berbahaya tidak hanya bagi ibu sendiri, namun juga akan berdampak pada bayi dan keluarganya.

Depresi Postpartum (DPP) juga dapat mempengaruhi kecerdasan bayi dan perkembangan sosialnya. Selain itu, pada ibu sendiri situasi tersebut bisa jadi akan berkembang menjadi kecendrungan untuk bunuh diri (Green AD, Barr AM, Gale a LAM, 2009). Setelah persalinan, terjadi perubahan hormonal yang sangat cepat, khususnya hormone seks.Hormon utama yang diduga menjadi pemicu utama terjadinya DPP adalah progesterone. Depressi biasanya diawali dengan peningkatan rasa cemas. Dan paparan progesterone yang terjadi secara terus menerus ternyata dapat meningkatkan kecemasan (Becley EH, Finn DA, 2007). Selain itu, terjadinya DPP juga diduga sebagai interaksi yang kompleks antara hormone dan neurotransmitter. Penurunan steroid ovarian berhubungan dengan gangguan psikologis dan neurologis seperti sindrom premenstruasi, migraine premenstruasi, DPP dan kecemasan (Groer MW, Morgan K, 2007).

Secara global, prevalensi DPP adalah sekitar 10-15% (Motcheldt I, Andreasen A, Pedersen AL, Pedersen MC, 2013). Di negara maju seperti Amerika Serikat berkisar sekitar 15%, tetapi di negara-negara miskin seperti Afrika Selatan, prevalensinya sekitar 35% (Dietz PM, 2007) (Walker SP, 2007) (Takeda A, et al, 2008). Di India, sebuah studi menemukan insiden DPP sebesar 11% (Chandran M, Tharyan P, Mulhilil J, Abraham S, 2002). Di Arab Saudi prevalensinya adalah sebesar 15,8%, di Afrika Selatan sebesar 34,7%, di Cina sebesar 11,2% dan di Jepang sebesar 17% (Motcheldt I, Andreasen A, Pedersen AL, Pedersen MC, 2013). Di Kanada, ditemukan prevalensinya sebesar 8% (Dennis CL, Heaman M, Vigods S, 2012). Sedangkan di Dempasar Bali, ditemukan prevalensi DPP sebesar 20,5% (Dira IKPA, Wahyuni AAS, 2016). Di Makassar, sebuah studi menemukan bahwa DPP pada ibu adalah sebesar 19,7%(Ibrahim F, Rahma, Iksan M, 2012) Sebuah studi cross sectional yang menilai DPP dan hubungannya dengan demografi serta masalah kesehatan ibu dan anak telah dilakukan pada ibu di Yordania.Peserta berjumlah 315 orang dan dipilih dari 5 pusat kesehatan ibu dan anak serta sebuah rumah sakit umum di Amman.DPP diukur dengan kuesioner kesehatan pasien versi 9 setelah 12 minggu persalinan.

Hasilnya menunjukkan bahwa 25% ibu postpartum menderita depresi dari sedang hingga berat dan 50% menderita depresi ringan. Tidak terdapat satu pun variable social demografi (usia, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan) yang berhubungan secara signifikan dengan DPP. Tetapi dua dari variable obstetric yaitu caramelahirkan dan menyusui secara signifikan berhubungan dengan DPP. Terdapat hubungan yan signifikan antara DPP dan 15 masalah kesehatan seperti obstetric, ginekolog dan masalah kesehatan secara umum (Safadi RR, Abushaikha LA, Ahmad MM, 2016) Sebuah studi yang dilakukan di Italia, menemukan bahwa terdapat tipe kepribadian tertentu yang terkait dengan DPP.Tipe kepribdian ini disebut typus melancholicus (pribadi melankolis).

Ibu-ibu ini berisiko mengalami depresi karena ketidakmampuannya untuk mengatur situasi konflik secara kreatif.Ibu jenis ini adalah ibu yang perfectionis.Mereka sangat hati-hati dalam merawat anak mereka dan merasa sangat bertanggung jawab terhadap perawatan bayinya. Ibu-ibu ini tidak bisa mendelegasikan tanggung jawab mereka kepada orang lain serta sulit menceritakan perasaannya pada orang lain(Abrosini A, Donzelli G, Stanghellini G, 2012) Studi yang dilakukan di Chili untutk mengkaji factor-faktor yang berhubungan dengan DPP menemukan bahwa sekitar 45% ibu menderita gejala depresi.

Gejala-gejala yang dilaporkan adalah gangguan tidur dan tidak nafsu makan. Studi ini pun menemukan factor-faktor tertentu ternyata dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan seorang ibu akan mengalami DPP. Factor tersebut adalah kepedulian ibu pada kehamilannya, dukungan social dan penggunaan tembakau. Screening DPP secara rutin dapat menjadi sarana pencegahan, alat diagnosis yang handal serta menjadi upaya penanggulangan di negara-negara berkembang (Quelopana AM, Champion JD, Reves-Rubilan T, 2011) Studi yang dilakukan di Makassar menemukan bahwa factor yang berhubungan dengan DPP pada ibu adalah dukungan social suami, dukungan keluarga, pendidikan ibu dan jenis persalinan (Ibrahim F, Rahma, Iksan M, 2012).

Pada studi yang lain menemukan bahwa factor yang berhubungan dengan DPP adalah umur, jenis persalinan dan dukungan keluarga (Tuhulele K, Seweng A, Sarakeh M, 2016). Sedangkan di Klaten, sebuah studi menemukan bahwa ibu yang tidak bekerja berisiko menderita DPP sebesar 10,7 kali dibandingkan ibu yang bekerja. Sedangkan ibu dengan dukungan keluarga yang kurang baik berisiko menderita DPP sebesar 15,9 kali disbanding ibu dengan dukungan keluaga yang baik (Wahyuni S, Marwati, Supiati, 2014) Penggunaan antidepresan dan depresi berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin.Depresi pada ibu berhubungan dengan kelahiran premautr, berat lahir rendah, gangguan pertumbuhan janin serta komplikasi kognitif dan emosional pasca lahir.

Paparan antidepresan berhubungan dengan kelahiran premature, berkurangnya bert lahir, hipertensi pulmonal yang menetap dan sindrom adaptasi pasca lahir yang terlihat berkorelasi dengan sindrom autisme. Paroxetine berhubungan dengan gangguan pembentukan jantung. Sebagian besar antidepresan juga disekresikan pada kadar rendah ke dalam ASI (Becker M, Weidenberger T, Chandy A, Schmuklers S, 2016) Dalam rangka program Scaling Up Nutrition (SUN), maka kesehatan ibu dan anak menjadi prioritas pembangunan kesehatan. Melalui gerakan 1000 HPK, pemerintah berusaha memperbaiki status kesehatan ibu dan anak.Yang paling utama diperhatikan tentunya adalah kesehatan ibu, karena ibulah yang mengandung dan merawat anak-anaknya. Sayangnya, perhatian yang diberikan baru pada kesehatan ibu secara fisik.Sedangkan kesehatan jiwa ibu masih kurang mendapat perhatian.Padahal fisik dan psikis adalah dua hal yang saling berkaitan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa depressi pada ibu tidak hanya akan membahayakan dirinya, tetapi juga anak dan keluarganya Tinjauan Umum Tentang Postpartum Blues Menurut Diagnostic and Statistical Manual Disorder (American Psychiatric Association, 2004), tentang petunjuk resmi untuk pengkajian dan diagnostik penyakit psikiatri, bahwa gangguan yang dikenali selama periode postpartum adalah : 1. Postpartum Blues Terjadi pada hari 1-10 setelah melahirkan dan hanya bersifat sementara dengan gejala gangguan mood, rasa marah, mudah menangis, sedih, nafsu makan menurun, sulit tidur. Keadaan ini akan terjadi beberapa hari saja setelah melahirkan dan biasanya akan berangsur-angsur menghilang dalam beberapa hari dan masih dianggap sebagai kondisi yang normal terkait dengan adaptasi psikologis postpartum. Apabila memiliki faktor predisposisi dan pemicu lainnya maka dapat berlanjut menjadi depresi postpartum 2.

Depresi Postpartum Gejala yang ditimbulkan antara lain kehilangan harapan (hopelesness), kesedihan, mudah menangis, tersinggung, mudah marah, menyalahkan diri sendiri, kehilangan energi, nafsu makan menurun, berat badan menurun, imsomnia, selalu dalam keadaan cemas, sulit berkonsentrasi, sakit kepala yang hebat, kehilangan minat untuk melakukan hubungan seks dan ada keinginan untuk bunuh diri 3. Psikosis Postpartum Mengalami depresi berat seperti gangguan yang dialami penderita depresi postpartum ditambah adanya gejala proses piker (delusion, hallucinations and incoherence of assosiation) yang dapat mengancam dan membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya Ada 3 fase penyesuaian ibu terhadap perannya sebagai orang tua, yaitu fase dependen, fase dependen-interdependen dan fase interdependen.

Fase dependen dimulai selama 1-2 hari pertama setelah melahirkan, ketergantungan ibu terhadap orang lain sangat menonjol. Ibu sangat mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain. Ibu memindahkan energi psikologisnya kepada anaknya. Rubun menyebut fase ini sebagai fase taking in. Periode ini adalah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengkomunikasikannya (periode pink) (Bobak IM, 2005) Mereka merasa perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan dan kelahiran dengan kata-kata. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan sosial dari suami, keluarga, teman maupun tenaga kesehatan. Jika pada fase ini ibu tidak mendapatkan dukungan, maka periode pink ini akan menjadi periode blues pada fase berikutnya (fase taking hold).

Fase dependen-mandiri Ibu membutuhkan perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Ibu berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan berlatih tentang cara perawatan bayi. Rabin menjelaskan keadaan ini sebagai fase taking hold yang berlangsung kira-kira 10 hari Dalam 6-8 minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu menguasai tugas-tugas sebagai orang tua merupakan hal yang penting. Beberapa ibu sulit menyesuaikan diri terhadap isolasi yang dialaminya. Karena ia harus merawat bayi. Ibu yang memerlukan dukungan tambahan adalah ibu primipara yang belum mempunyai pengalaman mengasuh bayi, ibu yang bekerja, ibu yang tidak mempunyai cukup teman atau keluarga untuk berbagi, ibu yang berusia remaja dan ibu yang tidak mempunyai suami. Fase independen, yaitu ketika ibu dan keluarga bergerak maju sebagai sistem dengan anggota yang saling berinteraksi.

Fase ini merupakan fase yang penuh stress bagi orang tua. Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam masa ini. Ibu dan pasangan harus menyesuaikan perannya masing-masing dalam mengasuh anak, mengatur rumah dan membina karir Postpartum Blues, maternity blues atau baby blues merupakan gangguan mood/afek ringan yang bersifat sementara yang terjadi pada hari pertama sampai hari ke 10 setelah persalinan yang ditandai dengan tangisan singkat, perasaan kesepian atau ditolak, cemas, bingung, gelisah, pelupa dan tidak dapat tidur (Pillitery, 2007).

Bobak menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan postpartum blues adalah perubahan mood pada ibu postpartum yang terjadi setiap waktu setelah ibu melahirkan tetapi seringkali terjadi pada hari ketiga atau keempat postpartum dan memuncak pada hari ke lima dan ke empat belas postpartum yang ditandai dengan tangisan singkat, perasaan kesepian atau ditolak, cemas, bingung, gelisah, letih, pelupa dan tidak dapat tidur.

Tanda dan Gejala Ibu yang menderita postpartum blues mempunyai gejala antara lain mudah menangis, murung, sedih, cemas, perubahan mood, mudah marah, kurang konsentrasi, pelupa (Pillitery, 2007). Tapi ada pula yang menyebutkan bahwa tanda dan gejala postpartum blues antara lain mudah menangis (tearfullness), labilitas emosi, perubahan mood, bingung, cemas dan gangguan kognitif (Henshow, 2007) Postpartum blues merupakan tahapan emosi reaktif yang sangat tinggi. Gangguan ini terjadi pada sekitar 50% wanita yang baru selesai melahirkan. Istilah blues merupakan misnomer, karena mood yang awalnya dominan pada sebagian besar wanita ini adalah “bahagia”.

Wanita dengan postpartum blues lebih mudah menagis dibandingkan biasanya, lebih cemas dan lebih labil secara emosional dibanding biasanya. Postpartum blues terjadi pada hari ke 3 sampai ke 5 setelah melahirkan. Kejadian postpartum blues tidak terkait dengan riwayat psikiatrik, stress lingkungan, budaya, konteks, penyusuan ataupun paritas. Meski faktor-faktor tersebut bisa jadi mempengaruhi postpartum blues ketika berkembang menjadi depresi (Miller, 2002) Terdapat 2 hipotesis yang dapat menjelaskan kejadian postpartum blues. Pertama, perubahan hormonal. Bukti yang mendukung hal tersebut meliputi temuan tentang tingkat absolut dari hormon estrogen dan progesteron tidak terkait dengan postpartum blues, tetapi perubahan besar pada hormon yang terkait kehamilan dan persalinan yang menyebabkan terjadinya postpartum blues. Sebagai tambahan, hasil metabolit progesteron, yaitu allopregnanolone, sebuah agonis dari asam ϫ-aminobutyric secara signifikan lebih rendah pada wanita yang menderita postpartum blues. Hipotesis kedua, adalah postpartum blues terjadi karena aktivasi dari sistem biological di bawah perilaku pengasuhan ibu dan anak, yang utamanya diatur oleh hormon oksitosin. Terdapat bukti langsung efek tersebut pada mamalia nonprimata (Miller, 2002) Binatang pengerat yang mengalami penghilangan sel-sel penghasil hormon oksitosin menunjukkan perilaku keibuan yang jauh lebih rendah dibandingkan binatang pengerat yang normal. Bukti tidak langsung menunjukkan hal yang sama.

Dibawah kondisi dukungan yang baik dan stress yang rendah, perubahan neurophysiologic tersebut memicu kelekatan antara ibu dan bayinya. Meski, dibawah kondisi yang penuh tekanan dan dukungan yang kurang, kondisi emosional tersebut dapat berkembang menjadi depresi (Miller, 2002) Alat Ukur Depresi Postpartum (Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) EPDS adalah sebuah alat ukur untuk menilai mood seseorang.Instrument ini terdiri dari 10 item pengukuran dan sangat mudah digunakan.Waktu yang dibutuhkan untuk mengisinya hanya sekitar 5 menit saja.EPDS telah divalidasi dan digunakan secara luas. Memiliki tingkat reliabilitas dari sedang sampai tinggi juga memiliki korelasi yang baik dengan alat ukur depresi lainnya (Boid RC, Le HN, Somberg R, 2005) EPDS dinilai dengan skor, dimana skor maksimum adalah 30.Skor 10 atau lebih mengindikasikan kemungkinan adanya depresi. Standarisasi dan validasi EPDS telah digunakan hamper di seluruh dunia (Navarro P, Aguado J, Ascaso C, Garcia-Esteve L, Torres A, Martin-Santos R, 2007). Pada trimester pertama, EPDS memiliki sensitifitas sebesar 79% dan spesifisitas sebesar 97% serta cut of pointnya adalah 11. Pada trimester kedua, tingkat sensitifitasnya adalah sebesar 11,70% dan spesifisitas sebesar 96% dengan nilai cut of point adalah 10. Sedangkan pada trimester ketiga, sensitifitasnya adalah 76% dan spesifisitas sebesar 94% serta nilai cut of point adalah 10 (Bergink V, Kooistra L, Den Berg MP, Wijnen H, Bunevidas R, Van Baan A, Pop V, 2011) Studi yang mengevaluasi DPP pada hari ke 3 postpartum dan menentukan skor standar untuk depressi secara umum.Subjek berasal dari 3 klinik obstetric di Perancis.Jumlah sampel sebanyak 859 orang. Pada studi tersebut ditemukan pada hari ke 3 postpartum terdapat 258 (30%) ibu memiliki skor EPDS 9 dan 164 (19%) ibu memiliki skor EPDS 111. Setelah 4 sampai 6 minggu postpartum, 18,1% memiliki skor EDPD 11 dan 16,8% memiliki skor EPDS 12. Analisis sensitivitas dan spesivisitas pada hari ke 3 postpartum menemukan nilai cut of point 9 (sensibilitas 0,88)(spesifisitas 0,5%) dalam memprediksi DPP. Kesalahan tipe I cukup rendah (5,8%) tapi kesalahan tipe 2 cukup tinggi (18,9%). Pada minggu ke 4 sampai 6 postpartum, cut of point 12 (sensibilitas 0,91)(sensitivitas 0,74).

EPDS menunjukkan validita(Mattheys, Henshaw C, Elliot S, Barnett B, 2006)s yang bagus juga cepat dan mudah digunakan dalam pelayanan obstetric, membantu mendeteksi secara dini ibu-ibu yang berisko mengalami DPP di minggu-minggu awal postpartum (Teissedre F, Chatrol H, 2004). EPDS digunakan tidak hanya untuk kepentingan klinik namun juga bermanfaat dalam kegiatan penelitian. Angkat cut of point yang dihasilkan oleh EPDS dapat memberikan gambaran kejadian depresi. Hal tersebut sangat membantu untuk mennetukan terapi. EPDS juga dapa melacak kejadian depresi pada masa kehamilan hingga persalinan Studi yang dilakukan pada 594 ibu di Italia menunjukkan bahwa skor EPDS ternyata lebih tinggi setelah melahirkan bila dibandingkan tiga bulan setelah melahirkan. Sekitar 15,7% wanita pada hari ke 2 setelah persalinan dan 7,6% pada tiga bulan setelahnya melaporkan skor EPDS >9.

Factor EPDS yang dianalisis pada hari ke 2 setelah persalinan menunjukkan bahwa pada terdapat 3 aspek yang menonjol, yaitu depresi, kecemasan dan anhedonia.Sudi tersebut menunjukkan bahwa pengukuran EPDS segera setelah melahirkan sangat membantu untuk memahami spectrum masalah psikologi pada ibu postpartum. Kemunculan gejala depresi pada saat tersebut menunjukkan risiko yang lebih tinggi untuk kejadian depresi pada masa setelahnya(Petrozzi A, Gagliardi L, 2013)