Gambar: Genetic Literacy Project

Prosedur Pemeriksaan Penentuan Kematian Batang Otak

Gustinerz.com | Batang otak terdiri dari medula oblongata, pons, dan mesensefalon. Batang otak berperan penting dalam mengatur kerja jantung, pernapasan, sistem saraf pusat, tingkat kesadaran dan siklus tidur. Tingkat kesadaran secara kualitatif dapat dibeagi menjadi kompos mentis, apatis, somnolen, stupor dan koma.

Kompos mentis yaitu keadaan seseorang sadar penuh dan dapat menjawab pertanyaan tentang dirinya dan lingkunga. Apatis berarti keadaan seseorang tidak peduli, acuh tak acuh dan segan berhubungan dengan orang lain dan lingkungannya. Somnolen bearti seseorang dalam keadaan mengantuk dan cenderung tertidur masih dapat bagun namun mudah tertidur kembali, supor/stupor kesadaran hilang, hanya berbaring dengan mata tertutup, tidak menunjukkan reaksi bila dibangunkan, kecuali dengan rangsangan nyeri. Koma berarti kesadaran hilang tidak memberikan reaksi walapun diberikan rangsangan nyeri.

Baca Juga: Gejala Klinis Mati Batang Otak

Koma tanpa perbaikan dapat berlanjut masuk ke dalam keadaan mati batang otak (MBO). Berdasarkan Permenkes No. 37 tahun 2014, pemeriksaan penentuan kematian batak otak dapat dilakukan pada seseorang dengan keadaan sebagai berikut:

  • Koma unresponsive atau GCS 3 atau Four Score 0.
  • Tidak ada sikap tubuh abnormal (seperti dekortikasi atau desebrasi)
  • Tidak ada gerakan tidak terkoordinasi atau kejang.

Pemeriksaan kematian batang otak dapat dilakukan jika telah memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Terdapat prakondisi berupa koma dan apnea yang disebabkan oleh kerusakan otak struktural ireversibel akibat gangguan yang berpotensi menyebabkan mati batang otak.
  • Tidak ada penyebab koma dan apnea yang reveribel antara lain karena obat-obatan, intoksikasi obat, gangguan metabolik, dan hipotermia.

Berikut prosedur pemeriksaan mati batang otak

  • Memastikan arefleksia batang otak: Arefleksia batang otak meliputi tidak adanya respons terhadap cahaya, tidak adanya refleks kornea, tidak adanya refeks vestibulookular, tidak adanya respons motorik terhadap rangsangan adekuat dalam distribusi saraf kranial dan tidak ada refleks munta (gag reflex) atau releks batuk terhadap rangsang oleh kateter isap yang dimasukkan ke dalam trakea.
  • Memastikan keadaan apnea yang menetap: cara memastikan keadaan henti napas yang menetap adalah preoksigenasi dengan oksigen 100% selama 10 menit, memastikan pCO2 awal 40-60 mmHg dengan memakai kapnofraf dan atau analisis gas darah (AGD), Melepaskan ventilator dari pasien, insuflasi trakea dengan oksigen 100% 6L/menit melalui kateter intrakeal melewati karina, dan observasi selama 10 menit, bila pasien tetap tidak bernapas, tes dinyatakan positif atau berarti henti napas telah menetap.
  • Bila tes arefleksia batang otak dan tes henti napas dinyatakan positif, maka tes harus diulang sekali lagi dengan selang waktu 25 menit sampai 24 jam.
  • Bila tes arefleksia batang otak dan tes henti napas kembali dinyatakan positif pada pemeriksaan kedua, pasien dinyatakan mati batang otak, walaupun jantung masih berdenyut.
  • Bila pada tes henti napas timbul aritmia jantung yang mengancam nyawa maka ventilator harus dipasang kembali, sehingga tidak dapat dibuat diagnosis mati batang otak. < Beranda

Sumber:

  • Aprilia, M. and Wreksoatmodjo, B. R. (2015) “Pemeriksaan Neurologis pada

    Kesadaran Menurun,” CDK -233, 42(10), pp. 780–786.