Bayi Berat Lahir Rendah atau yang sering kita singkat dengan BBLR merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada kasus keperawatan anak. Bayi yang dikatakan BBLR jika lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram (tanpa memperhatikan usia gestasi).

Kondisi BBLR dapat berpotensi mengalami banyak masalah kesehatan bagi bayi misalnya beresiko mengalami hipotermia hal ini disebabkan karena sedikitnya lemak dan tingginya perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badannya. Penyebab BBLR paling banyak disebabkan karena bayi lahir kurang bulan (prematur) dan usia gestasi kurang dari 32 minggu sehingga kondisi bayi dapat ditemukan lemahnya refleks menghisap dan masalah pernapasan.



Seorang petugas kesehatan terutama perawat wajib mengetahui bagaimana cara atau proses asuhan keperawatan pada kasus BBLR. Proses keperawatan BBLR

Fokus Pengkajian

  • Berat bayi <2.500 gram
  • Refleks hisap dan menelan lemah
  • Lemak subkutan tipis
  • Suhu tubuh kurang dari 36,4 derajat C
  • Gerakan bayi kurang aktif
  • Usia kehamilan/gestasi

Fokus Masalah Keperawatan

  • Hipotermia yang disebabkan adanya gangguan termogulasi
  • Defisit nutrisi karena lemahnya refleks menghisap dan menelan
  • Gangguan pertukaran gas karena adanya prematuritas organ pernapasan

Fokus Intervensi dan Implementasi

  • Hangatkan bayi dengan meletakkan dalam radian warmer, incubator atau melakukan perawatan metode kangguru
  • Pemberian nutrisi parenteral jika tidak dapat diberikan secara oral
  • Pemberian ASI melalui OGT
  • Pemberian ASI dengan menyusu langsung jika refleks hisap dan menelan adekuat
  • Perawatan di raung intensif untuk mendapatkan dukungan ventilasi mekanik
  • Edukasi kepada orang tua tentang keadaan bayinya serta edukasi pemberian ASI

Fokus Evaluasi

  • Suhu bayi dalam batas normal (36,5-37,5 derajat C)
  • Penurunan berat badan tidak lebih dari 10% dari berat badan lahir pada minggu pertama
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal yakni pernapasan 30-60 x/menit dan nadi 140-160 x/menit.
  • Orang tua berperan aktif dalam proses perawatan.

Referensi

  • Diolah dari buku AIPNI siNERSI terbitan tahun 2018.