Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). Penderita TB Paru memiliki gejala utama yaitu batuk berdahak yang ditandai adanya dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, lemas, nafsu makan menurun, BB menurun, malaise, berkeringat dimalam hari tanpa kegiatan fisik, demam.

Melihat masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat TB Paru maka patutlah seorang perawat melakukan intervensi atau terapi guna meminimalkan masalah kesehatan pada pasien. Selain melakukan pengobatan yang sesuai dengan indikasi medis dapat juga dilakukan tindakan alternatif (nonfarmakologi).



Salah satu terapi yang dapat dilakukan pada penderita TB Paru adalah Active Cycle of Breathing Thecnique (ACBT) guna mengeluarkan dahak yang berlebih pada penderita. ACBT adalah latihan yang terdiri dari tiga siklus yaitu relaksasi pernapasan, latihan ekspansi torak, dan pengeluaran sekresi aktif dengan teknik ekspirasi paksa (huffing).

Dengan melakukan ACBT dapat mengendalikan pernapasan normal dan dapat mencegah bronkospasme pada saluran pernapasan sehingga jalan napas tetap terbuka. Tujuan utama ACBT adalah untuk membersihkan jalan nafas dari sputum agar diperoleh hasil pengurangan sesak, batuk, dan tentunya dapat memperbaiki pola napas penderita.

ACBT penting dilakukan oleh penderita TB Paru karena dapat mengeluarkan dahak dari salurah pernapasan dan dapat mencegah infeksi serta meningkatkan jumlah oksigen. Durasi pemberian ACBT adalah 1-3 kali sehari selama 15-20 menit (disesuaikan dengan respon pasien).

Prosedur Terapi Active Cycle of Breathing

Teknik Active Cycle of Breathing (ACBT) merupakan siklus gabungan dari 3 latihan pernapasan yaitu:

  1. Breathing Control: Klien diposisikan duduk rileks di atas tempat tidur atau di kursi, kemudian dibimbing untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi secara teratur dan tenang, yang diulang sebanyak 3-5 kali oleh klien, tangan perawat diletakkan pada bagian belakang thoraks klien untuk merasakan pergerakan yang naik turun selama klien bernapas.
  2. Thooracic Expansion Exercise: Masih dalam posisi duduk yang sama, klien kemudian dibimbing untuk menarik napas dalam secara perlahan lalu menghembuskannya secara perlahan hingga udara dalam paru-paru terasa kosong, langkah ini diulangi sebanyak 3-5 kali oleh klien, jika klien merasa napasnya lebih ringan, klien dibimbing untuk mengulangi kembali dari kontrol awal pernapasan.
  3. Forced Expiration Technique: Setelah melakukan dua langkah di atas, selanjutnya klien diminta untuk mengambil napas dalam secukupnya mengontraksikan otot perutnya untuk menekan napas saat ekspirasi dan menjaga agar mulut serta tenggorokan tetap terbuka. Huffing dilakukan sebanyak 2-3 kali dengan cara yang sama, lalu diakhiri dengan batuk efektif untuk mengeluarkan sputum.

Komponen dan Siklus ACBT (Gambar: Researchgate)

Penelitian relevan terkait ACBT pada pasien TB Paru

Peneliti Judul Hasil
Eka Nugraha Varida Naiboho & Sri Mega Herlina Kabeakan, 2021 Pengaruh Terapi Active Cycle of Breathing (ACBT) Terhadap Frekuensi Pernapasan (Respiratory Rate) Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan Hasil penelitian ini didapatkan ada pengaruh pola nafas sebelum pemberian terapi active cycle of breathing technique

(ACBT) terhadap perbaikan frekuensi pernafasan pada penderita tuberkulosis paru dengan nilai M ± SD =17.1081 ± 2.94188. Ada pengaruh pola nafas sesudah pemberian terapi active cycle of breathing technique (ACBT) terhadap frekuensi pernafasan pasien tuberkulosis paru dengan nilai M ± SD = 27.0400 ± 2.82076. Ada perbedaan pengaruh pola nafas sebelum dan sesudah pemberian terapi active cycle of breathing technique (ACBT) terhadap perbaikan frekuensi pernafasan pasien tuberkulosis paru dengan nilai signifikan 0,000 < 0,005.

Vika Endira, Sri Yona & Agung Waluyo, 2022 Penerapan Active Cycle Of Breathing Technique Untuk Mengatasi Masalah Bersihan Jalan Nafas Pada Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Bronkiektasis: Studi Kasus Hasil penelitian didapatkan Intervensi Active Cycle of Breathing yang dilakukan dua kali sehari selama 7 hari pada pasien tuberkulosis paru lesi luas dengan bronkiektaksis menunjukkan adanya peningkatan status oksigenasi dan penurunan jumlah sputum serta dyspnue. Hasil tersebut membuktikan bahwa ACT mampu membantu meningkatkan nilai ekspansi thoraks, sesak nafas serta ketidakefektifan jalan nafas akibat peningkatan produksi sputum yang berlebih.
Yuda Nur Cahyono & Wachidah Yuniartika, 2020 Efektifitas Active Cycle of Breathing pada Keluhan Sesak Napas Penderita Tuberkulosis Hasil penelitian didapatkan Penurunan keluhan sesak nafas penderita tuberkulosis lebih cepat dicapai dengan latihan nafas active cycle of breathing. Hal ini karena terjadi pengeluaran mukus dari saluran pernafasan serta peningkatan pemasukan O2.
Aditya Denny Pratama, 2021 Efektivitas Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) Terhadap Peningkatan Kapasitas Fungsional Pada Pasien Bronkiektasis Post Tuberkulosis Paru Hasil penelitian didapatkan bahwa ACBT efektif dalam mengurangi sesak napas secara signifikan, pengembangan rongga dada, pengeluaran sputum, pembersihan jalan napas, dan meningkatkan kapasitas fungsional paru pada pasien bronkiektasis post TB Paru.
Dian Arif Wahyudi, Adhesty Novita Xanda, Niken Sukesi, Linda Puspita, Psiari Kusuma Wardani, Eva Yurlina, Dwi Oktariyani & Hamid Mukhlis, 2021 Active Cycle of Breathing to Respiratory Rate in Patiens with Lung Tuberculosis Hasil penelitian didapatkan bahwa skor respirasi sebelum diberikan ACBT adalah 27,2 dan setelah 23,2. Rata-rata skor laju pernapasan sebelum latihan ACBT adalah 27,3 dan setelah ACBT 26,1. Ada pengaruh active cycle of breathing pada frekuensi pernafasan pasien TB paru (p-value 0,000). Ada pengaruh active cycle of breathing terhadap penurunan RR pada pasien TB paru (p-value 0,001). Ada perbedaan antara latihan active cycle of breathing dalam menurunkan RR pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Dr Hi. Abdul Moeloek di Provinsi Lampung tahun 2020 (P-value 0,000).

Referensi:

Leave a Comment