Telenursing Sebagai Media Pemberian Pelayanan Kesehatan Jarak Jauh Pada Masa Pandemi Covid-19

ilustrasi | Google Image

Oleh: Meilan Igirisa (Semester 7/D)

(tulisan ini dilombakan dalam kegiatan Dies Natalis Keperawatan UNG 2020)

Telenursing Sebagai Media Pemberian Pelayanan Kesehatan Jarak Jauh Pada Masa Pandemi Covid-19
Di awal tahun 2020 ini, dunia dikagetkan dengan kejadian infeksi berat dengan penyebab yang belum diketahui, yang berawal dari laporan dari Cina kepada World Health Organization (WHO) terdapatnya 44 pasien pneumonia yang berat di suatu wilayah yaitu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, tepatnya di hari terakhir tahun 2019 Cina. Dugaan awal hal ini terkait dengan pasar basah yang menjual ikan, hewan laut dan berbagai hewan lain. Pada 10 Januari 2020 penyebabnya mulai teridentifikasi dan didapatkan kode genetiknya yaitu virus corona baru.

Hingga 28 Maret 2020, jumlah kasus infeksi COVID-19 terkonfirmasi mencapai 571.678 kasus. Awalnya kasus terbanyak terdapat di Cina, namun saat ini kasus terbanyak terdapat di Italia dengan 86.498 kasus, diikut oleh Amerika dengan 85.228 kasus dan Cina 82.230 kasus. Virus ini telah menyebar hingga ke 199 negara. Kematian akibat virus ini telah mencapai 26.494 kasus. Tingkat kematian akibat penyakit ini mencapai 4-5% dengan kematian terbanyak terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. Indonesia melaporkan kasus pertama pada 2 Maret 2020, yang diduga tertular dari orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Kasus di Indonesia pun terus bertambah, hingga tanggal 29 Maret 2020 telah terdapat 1.115 kasus dengan kematian mencapai 102 jiwa. Tingkat kematian Indonesia 9%, termasuk angka kematian tertinggi.



Penularan ini terjadi umumnya melalui droplet dan kontak dengan virus kemudian virus dapat masuk ke dalam mukosa yang terbuka. Suatu analisis mencoba mengukur laju penularan berdasarkan masa inkubasi, gejala dan durasi antara gejala dengan pasien yang diisolasi. Analisis tersebut mendapatkan hasil penularan dari 1 pasien ke sekitar 3 orang di sekitarnya, tetapi kemungkinan penularan di masa inkubasi menyebabkan masa kontak pasien ke orang sekitar lebih lama sehingga risiko jumlah kontak tertular dari 1 pasien mungkin dapat lebih besar.

WHO mengakui adanya peyebaran dari udara (airbone transmission). Ini berarti bahwa penyebaran virus ini sangat mudah menyebar (superspreading)saat seseorang sedang bernafas. Untuk itu, protokol yang dianjurkan adalah menjaga jarak atau social distancing, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Anjuran lain adalah tetap berada di rumah (stay at home) selama masa pandemi. Protokol-protokol kesehatan tersebut memberikan dampak di berbagai bidang termasuk kesehatan.
Dengan adanya pembatasan sosial dan anjuran untuk tetap berada di rumah membuat masyarakat kesulitan untuk menjangkau fasilitas-fasilitas kesehatan. Sehingga masyarakat yang mempunyai gangguan kesehatan lain, tidak bisa memeriksakan diri langsung ke fasilitas kesehatan. Selain itu,ketakutan masyarakat untuk ke fasilitas kesehatan menjadi salah satu alasan yang mendukung untuk  tidak ke fasilitas kesehatan. Hal ini terjadi karena dalam mindset masyarakat, seseorang yang datang ke fasilitas kesehatan sangat rentan untuk tertular covid-19.

Seiring berkembangnya zaman, terkhusus di era 4.0 ini, beriringan dengan semakin mudahnya akses terkait teknologi informasi, dimanfaatkan dalam lingkup kesehatan untuk membantu menjawab segala permasalahan kesehatan yang ada. Hal tersebut juga dipandang sebagai suatu peluang untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan meningkatkan jangkauan pelayanan keperawatan khususnya bagi masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk masyarakat di daerah terpencil dan jauh (rural area) (Scotia, 2014). Salah satu teknologi keperawatan yang terus berkembang adalah telehealth nursing atau telenursing. Diketahui bahwa telenursing saat ini sedang tumbuh di berbagai negara, dengan bukti yang kuat dan manfaat penggunaannya. Ini terbukti menjadi alat yang efisien untuk membantu negara mengatasi hambatan geografis dan memberikan informasi perawatan kesehatan kepada penduduk (Souza-Junior, Mendes, Mazzo, & Godoy, 2016).

Pertumbuhan telenursing saat ini dikategorikan sangat cepat di banyak negara karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu tercapainya biaya perawatan kesehatan yang lebih murah, peningkatan jumlah populasi lansia dan penyakit kronis, dan peningkatan cakupan perawatan kesehatan untuk jarak jauh seperti di pedesaan, wilayah kecil, atau berpenduduk jarang. Cakupan telenursing dalam perawatan yaitu melalui penggunaan telepon untuk layanan kesehatan dan orientasi (Souza et al., 2019).

World Health Organization (WHO) mendefinisikan telehealth sebagai pemberian layanan perawatan kesehatan, di mana pasien dan penyedia layanan dipisahkan oleh jarak. Telehealth menggunakan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) untuk pertukaran informasi untuk diagnosis dan perawatan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, dan untuk pendidikan berkelanjutan para profesional kesehatan. “Istilah telehealth umumnya digunakan bersama dengan” atau secara sinonim dengan telenursing, telemedicine, teleconsultation, telehomecare, e-health dan informatika.” Meskipun telehealth dimulai dengan telepon, telehealth sekarang menggabungkan beragam teknologi yang terus berkembang, termasuk konferensi video, pemantauan jarak jauh, pendidikan telehealth, perangkat digital dan bentuk lain dari komunikasi berbasis internet (Rawat, 2018).

Telenursing didefinisikan sebagai perpaduan layanan telekomunikasi dan keperawatan setiap kali ada jarak fisik yang substansial antara perawat atau antara pasien dan perawat (Amudha, Nalini, Alamelu, Badrinath, & Sharma, 2017).

Bentuk-bentuk telenursing dapat berupa triage telenursing, call-center services, konsultasi melalui secure email messaging system, konseling melalui hotline service, audio atau videoconferencing antara pasien dengan petugas kesehatan atau dengan sesama petugas kesehatan, discharge planning telenursing, home-visit telenursing dan pengembangan websites sebagai pusat informasi dan real-time counseling pada pasien (COACH, 2015).

Padila at all (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa dengan adanya perangkat telenursing maka masalah-masalah terkait penyediaan SDM perawat yang kurang memadai dibeberapa RS dapat teratasi, termasuk didalamnya jika terjadi hal- hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya kejadian luar biasa (KLB), yang tidak bisa meninggalkan ruangan karena pasien membludak, tetap bisa terkoordinir dengan baik dengan adanya sistem telenursing ini sebagai saran komunikasi dan monitoring tindakan keperawatan. Dengan digunakan SIM telenursing ini di RS, tidak menutup kemungkinan income RS meningkat tajam, lalu akan menambah peningkatan gaji perawat dan tim medis lainnya sehingga akan meningkat pula produktivitas dalam bekerja.

Dalam hasil penelitian Yang, Jiang, & Li tahun 2019 mengenai ‘Peran Telenursing Dalam Manajemen Pasien Dengan Diabetes’ dihasilkan bahwa telenursing, sebagai alat yang berguna untuk pendidikan pasien dan intervensi perilaku, dapat membantu pasien diabetes untuk meningkatkan kontrol glikemik mereka. Amudha at all (2017) dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa praktik telehealth di India berlangsung lebih dari satu dekade dengan bantuan komunikasi satelit. Empat ratus node telemedicine didirikan di India oleh Indian Space Research Organisation (ISRO)Teleconsultation, tele-education dan observasi penyakit adalah area utama yang dicakup oleh ISRO. Kemajuan teknologi informasi perawatan kesehatan membantu mengatasi kekurangan dalam infrastruktur kesehatan dan kekurangan tenaga profesional medis.

Sektor perawatan kesehatan harus memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas hidup, meminimalkan human-error, mengurangi biaya, meningkatkan waktu respons dan untuk mencapai sistem perawatan kesehatan yang berpusat pada pasien. Pemerintah India juga harus berkonsentrasi dalam mendirikan perguruan tinggi medis, lembaga pelatihan untuk menawarkan dokter yang dibutuhkan, perawat dan profesional paramedis lainnya (Amudha, Nalini, Alamelu, Badrinath, & Sharma, 2017).

Hasil penelitian dari Rawat (2018) menyatakan bahwa manfaat dari penggunaan telenursing dibagi menjadi 2 lingkup yaitu untuk perawat dan pasien. Untuk perawat manfaat yang diperoleh antara lain jam kerja fleksibel, gaji meningkat, perjalanan kurang, efektivitas biaya, kepuasan kerja, peluang untuk pengembangan keterampilan, waktu respon cepat, dapat berbagi data, dan untuk pasien antara lain mendapat kemudahan dalam mengakses informasi, ekonomis, perawatan berkualitas tinggi, kepuasan pasien, layanan jarak jauh, perjalanan lebih sedikit, tidak ada antrian tunggu, nyaman, sederhana.

Salah satu tujuan telehealth atau home visit telenursing adalah untuk meningkatkan akses yang lebih komprehensif dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Dimana pasien dengan mudah memberikan kabar tentang kondisi kesehatannya setelah proses pemulihan ataupun saat mula terkena sakitnya kepada perawat, yang telah dipercaya dalam memberikan pelayanan kepada pasiennya. Selain itu telenursing juga membantu pasien dan keluarga untuk ikut berpartisipasi aktif dalam perawatan terutama self-management untuk penyakit kronis dan mengurangi lama perawatan (Length of Stay). Sistem ini memfasilitasi perawat memberikan informasi dan dukungan yang akurat secara online.
Adanya telenursing sebagai pembaharu di bidang teknologi informasi, komunikasi, memudahkan pemantauan yang memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk mengevaluasi status kesehatan secara jauh, memberikan intervensi pendidikan, atau memberikan perawatan kesehatan dan sosial kepada pasien di rumah. Hal ini dapat membantu menurunkan angka kesakitan dan meningkatnya derajat kesehatan di masyarakat sehingga semakin bertambahnya angka harapan hidup di Indonesia pada umumnya.



Di dalam penerapan telenursing, keterampilan interpersonal sangat penting untuk mengamati dan mengidentifikasi kondisi fisik dan mental pasien secara lebih jauh dan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga pihak RS harus selalu memberikan pelatihan secara berkala bagi tenaga medis yang terlibat. Layanan telenursing yang sukses memerlukan stabilitas teknis dan operasional harus memenuhi kebutuhan pasien. Tingkat kepercayaan yang diberikan terhadap telenursing oleh anggota keluarga yang menggunakan layanan telenursing menjadi faktor yang sangat penting.


Sumber:

  • Amudha, R., Nalini, R., Alamelu, R., Badrinath, V., & Sharma, M. N. (2017). Telehealth and Telenursing-Progression in Healthcare Practice. Research Journal of Pharmacy and Technology, 10(8), 2797-2800. doi:10.5958/0974-360X.2017.00495.4
  • COACH. (2015). 2015 CANADIAN TELEHEALTH REPORT. In. Canada: Canada’s Health Informatics Association.
  • Padila, P., Lina, L. F., Febriawati, H., Agustina, B., & Yanuarti, R. (2018). Home Visit Berbasis Sistem Informasi Manajemen Telenursing. JKS Jurnal Keperawatan Silampari, 2(1), 217-235.
  • Rawat, G. (2018). Tele Nursing. International Journal of Current Research, 10(3), 66185- 66187.
  • Souza, C. F. Q. d., Oliveira, D. G. d., Santana, A. D. d. S., Mulatinho, L. M., Cardoso, M. D., Pereira, E. B. F. e., & Aquino, J. M. d. (2019). Evaluation of nurses performance in telemedicine. Rev. Bras. Enferm. Revista Brasileira de Enfermagem, 72(4), 933-939.
  • Souza-Junior, V. D., Mendes, I. A. C., Mazzo, A., & Godoy, S. (2016). Application of telenursing in nursing practice: an integrative literature review. Applied Nursing Research, 29, 254-260. doi:10.1016/j.apnr.2015.05.005

2 tanggapan untuk “Telenursing Sebagai Media Pemberian Pelayanan Kesehatan Jarak Jauh Pada Masa Pandemi Covid-19

  • Ah mantap

  • Salah satu tujuan telehealth atau home visit telenursing adalah untuk meningkatkan akses yang lebih komprehensif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.