Waspada Difteri!, Kenali Gejala dan Pencegahannya

Gambar: Tinystep

Gustinerz.com | Kementrian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan masalah difteri sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB/laporan dari satu wilayah, early warning). Laporan kasus Difteri, sejak 1 Januari s.d November 2017 menunjukkan ditemukan sebanyak 591 kasus Dfteri dengan 32 kematian di 95 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia (Depkes, 2017).

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi yang berpotensi mengancam jiwa. Difteri adalah penyakit yang menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah (terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri). Berikut cara penyebaran udara

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita.

Gejala-gejala Difteri

  • Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala dari difteri adalah
  • Demam dan mengigil
  • Sakit tenggorokan dan suara serek
  • Ada lapisan tipis berwarna abu-bau yang menutupi tenggorokan dan amandel
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher
  • Lemas dan lelah
  • Pilek. Mula-mula cair, lama kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
  • Gangguan jantung dan sistem syaraf

Pencegahan Difteri

Imunisasi untuk mencegah Difteri sudah termasuk ke dalam program nasional imunisasi dasar lengkap, meliputi: (1) Tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis-B dan Haemofilus influensa tipe b) pada usia 2, 3 dan 4 bulan, (2) Satu dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan, (3) Satu dosis imunisasi lanjutan DT (Difteri Tetanus) bagi anak kelas 1 SD/sederajat, (4) Satu dosis imunisasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas 2 SD/sederajat, dan (5) Satu dosis imunisasi lanjutan Td bagi anak kelas 5 SD/sederajat.

Imunisasi adalah upaya preventif yang spesifik terhadap penyakit. Imunisasi Difteri dimulai sejak anak usia 2, 3, dan 4 bulan. Lalu untuk meningkatkan antibodinya harus diulang di usia 2 tahun, 5 tahun dan usia sekolah dasar.

Penatalaksanaan Difteri

Jika kamu menemukan gejala diatas, maka sebaiknya segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat, untuk memeriksakan diri.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri. Dokter akan menganjurkan pengobatan 2 jenis obat yaitu antibiotik dan antitoksin. Antibiotik diberikan untuk membunuh bakteri dan menyebuhkan infeksi. Antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Untuk masalah pengobatan mengikuti anjuran dokter. < Beranda

Sumber:

  • http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html
  • http://www.alodokter.com/difteri
  • http://regional.kompas.com/read/2017/12/14/15232851/menkes-tegaskan-difteri-klb-bukan-wabah