Manajemen Stres Pada Keluarga Pasien di Perawatan Kritis

Gambar: Bloginwi

Gustinerz.com | Perawatan intensive merupakan komponen inti dari perawatan yang komprehensif untuk pasien menghadapi penyakit kritis, tanpa memandang usia, diagnosis, atau prognosis. Domain utama dari unit perawatan intensif diantaranya menghilangkan gejala yang dirasakan, komunikasi yang efektif tentang tujuan perawatan,pasien atau keluarga yang berfokus pengambilan keputusan, dukungan oarang terdekat, dan kontinuitas perawatan (Noome et al., 2016).

Stress keluarga pasien intensive telah menjadi tema utama dari berbagai penelitian di bidang psikologi kesehatan dalam beberapa tahun ekahir, insiden stress keluarga dari berbagai penelitian seluruah dunia sangat bervariasi antara 25% dan 87 % (Jongerden et al., 2013).

Perawat adalah tenaga kesehatan yang memiliki waktu interaksi paling banyak dengan keluarga pasien, perawat mengetahui dengan pasti stress yang dialami keluarga pasien sehingga perawat jugalah yang dapat memberikan dukungan pada keluarga pasien (Jongerden et al., 2013).

Hasil tinjauan literatur review menemukan ada 4 faktor dominan yang mempengaruhi terjadinya stress pada keluarga pasien intensive care yaitu pengambilan keputusan yang cepat, biaya dan lama perawatan, risiko kematian yang mengancam, dan perubahan kondisi yang mendadak.

Perawat sebagai pemberi layanan holistik pada pasien termasuk pada keluarga, stressor keluarga merupakan masalah tersendiri yang harus diatasi, dari literatur review yang dilakukan didapatkan beberapa metode yang dapat digunakan dalam manajeman stress keluarga pasien intensive.

Skill yang dimiliki perawat merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan atau menurunkan kecemasan keluarga pasien (Anderson, Arnold and Angus, 2009). Ketrampilan perawat yang mumpuni dan baik akan menumbuhkan kepercayaan keluarga pada perawat dan meyakinkan keluarga bahwa pasien berada ditangan yang tepat.

Komunikasi yang baik dengan cara penyampaian yang benar akan membuat respon keluarga lebih baik dan menurunkan kecemasan kondisi pasien (Schubart et al., 2015). Keluarga pasien menginginkan informasi sebanyak mungkin mengenai kondisi dan proses perawatan yang diberikan kepada pasien, sedangkan pada pelayanan intensive akses mendapatkan informasi tidak terlalu baik dikarenakan kebutuhan pasien yang membutuhkan pemantauan yang sangat ketat (Azoulay, Chaize and Kentish-Barnes, 2014).

Dukungan dan empati yang diberikan perawat dapat meningkatkan optimisme dan ketenangan bagi keluarga pasien, keluarga merasakan bahwa pasien akan dilakukan pearwatan dengan baik karena perawat tau pasti apa yang dibutuhkan pasien (Wetzig and Mitchell, 2017).

Perawatan intensive merupakan unit dengan kompleksitas yang tinggi, kondisi yang tidak stabil dan teknologi yang canggih. Kondisi yang butuh pemantauan yang ketat tidak hanya menimbulkan stressor bagi pasien, namun menjadi stressor tersendiri bagi keluarga pasien. < Beranda

Sumber:

  • Dihimpun dari tugas Literature Review mata kuliah Managemen Stres tahun 2017.