12 Gejala Klinis Pasien Pasca Stroke

ilustrasi | heart & stroke foundation of canada

Stroke menjadi penyakit penyebab kecacatan nomor satu dan penyebab kematian paling banyak terjadi dunia. Stroke adalah penyakit pada sistem neurologis utama yang paling banyak menyerang orang dewasa hingga lansia. Stroke adalah penyakit defisit neurologis yang disebabkan adanya sumbatan atau perdarahan yang ditandai dengan gejala khas pada bagian otak yang terkena yang dapat menimbulkan kecacatan dan kematian.

Orang yang mengalami stroke memiliki gejala klinis atau keluhan yang biasanya muncul terdiri dari defisit neurologis fokal dengan onset mendadak. Penurunan tingkat kesadaran, muntah, sakit kepala, kejang dan tekanan darah yang sangat tinggi mungkin menunjukan adanya penyakit stroke.



Manifestasi stroke dapat berhubungan dengan penyebabnya dan bagian otak yang bagian perfusinya terganggu. Gangguan yang terjadi pada klien juga bermacam-macam, bergantung pada bagian otak yang terkena adalah bagian dominan atau non-dominan, diantaranya

  1. Hemiparesis dan Hemiplegia: Penurunan kemampuan pada satu atau lebih bagian tubuh yang disebabkan oleh stroke arteri serebral anterior atau media yang dapat menyebabkan infark pada bagian otak yang mengontrol gerakan saraf motorik dari korteks depan. Hemiplegia menyeluruh dapat terjadi pada setengah bagian dari wajah dan lidah, juga pada lengan dan tungkai pada sisi bagian tubuh yang sama.
  2. Afasia: Penurunan kemampuan berkomunikasi termasuk berbicara, membaca, menulis dan memahami pembicaraan. Pusat primer bahasa biasanya terletak di bagian kiri belahan otak dan dipengaruhi oleh stroke dibagian kiri tengah arteri serebral.
  3. Disartria: Kondisi artikulasi yang diucapkan tidak sempurna yang menyebabkan kesulitan dalam berbicara namun pasien masih bisa memhami bahasa yang diucapkan seseorang tetapi sulit dalam melafalkan kata dan tidak jelas dalam pengucapannya.
  4. Apraksia: Klien dengan apraksia tidak dapat melakukan beberapa keterampilan seperti berpakaian hal ini dipengaruhi integrasi motroik kompleks. Penderita dengan apraksia dapat merasakan isi pesan yang dikirim ke otot namun pola motorik untuk mengantarkan pesan impuls tidak dapat diperbaiki sehingga menyebabkan akurasi dari instruksi dari otak tidak sampai ke bagian tangan dan kaki yang menyebabkan gerakan yang diinginkan tidak terjadi.
  5. Perubahan Penglihatan: Stroke pada lobus parietal atau temporal dapat menganggu jaringan penglihatan dari saluran optik ke korteks oksipital dan menganggu ketajaman penglihatan. Persepsi kedalaman dan penglihatan pada garis horizontal dan vertical dapat juga terganggu.
  6. Hemianopia Homonimus: kehilangan penglihatan pada setengah bagian yang sama dari lapang pandang dari setiap mata. Jadi, klien hanya bisa melihat setengah dari penglihatan normal.
  7. Sindrom Horner: paralisis pada saraf simpatik ke mata yang menyebabkan tenggelamnya bola mata, ptosis bagian atas kelopak mata, bagian bawah kelopak mata sedikit terangkat, pupil mengecil dan air mata berkurang.
  8. Agnosia: Terjadi sumbatan pada arteri serebral tengah atau posterior yang menyuplai lobus temporal atau oksipital yang menyebabkan klien mengalami ganggguan mengenali benda melalui indera penglihatan dan pendengaran.
  9. Neglesi Unilateral: kegagalan dalam memberikan perhatian pada satu sisi bagian tubuh, melaporkan atau merespon stimulus pada satu sisi bagian tubuh, menggunakan salah satu ekstremitas dan mengarahkan kepala atau mata kea rah satu sisi.
  10. Penurunan Sensorik: Perubahan sensoris pada bagian sisi atau hemiparesis
  11. Perubahan Perilaku: klien dengan stroke pada belahan otak bagian serebral kanan atau nondominan, biasanya implusif, estimasi terlalu tinggi pada kemampuan mereka dan mengalami penurunan rentang perhatian yang akan meningkatkan terjadinya risiko cedera.
  12. Inkontinensia: Stroke dapat menyebabkan disfungsi pada sistem urinari/perkemihan. Pada keadaan normal seseorang dapat mengontrol proses berkemih namun pada penderita stroke proses ini dapat mengalami gangguan diakibatkan kondisi saraf tidak mampu melakukan stimulus sehingga terjadi pengeluaran urine tanpa disadari.

Adanya kondisi klinis pasca stroke tersebut, tentunya pasien dan dukungan keluarga dapat menjalani terapi pasca stroke diantaranya melakukan fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi bicara agar pasien stroke tetap bisa menjalani aktivitas keseharian dengan baik.


Referensi: