Gambar: Negxy Concept Limited

Gustinerz.com | Peran perawat adalah untuk membantu individu baik sakit maupun sehat. Dalam menjalankan praktiknya perawat berkewajiban memberikan asuhan keperawatan. Untuk menjalankan tugasnya tersebut perawat harus mampu untuk berpikir kritis dalam upaya mencegah masalah dan menemukan jalan keluar yang terbaik untuk kebutuhan klien.

Berpikir kritis adalah suatu proses yang menantang seorang individu untuk mengintepretasi dan mengevaluasi informasi untuk membuat penilaian. Kemampuan berpikir secara kritis adalah bagian inti dari praktik keperawatan.



Perawat harus mampu menggunakan pengetahuan keperawatan dan disiplin ilmu lain, berpikir secara cepat dan kreatif, dan membuat keputusan yang masuk akal untuk memastikan kesejahteraan/kesehatan klien. Perawat tidak bisa memandang sepele masalah kesehatan yang dihadapi oleh klien.

Kriteria kemampuan berpikir kritis perawat

  • Berpikir secara aktif dengan menggunakan inteligensia, pengetahuan, dan keterampilan diri untuk menjawab pertanyaan.
  • Dengan cermat menggali situasi dengan mengajukan dan menjawab pertanyaan yang relevan
  • Berpikir untuk diri sendiri dan secara cermat menelaah berbagai ide dan mencapai kesimpulan yang berguna.
  • Meninjau situasi perspektif yang berbeda untuk mengembangkan suatu pemahaman yang mendalam dan menyeluruh.
  • Mendiskusikan ide dalam suatu cara yang terorganisasi untuk pertukaran dan menggali ide dengan orang lain.

Komponen berpikir kritis dalam keperawatan (Kataoka-Yahiro & Saylor, 1994)

  1. Dasar pengetahuan khusus: mencakup informasi dan teori dari ilmu pengetahuan alam, humaniora, dan keperawatan yang diperlukan untuk memikirkan masalah keperawatan.
  2. Pengalaman dalam keperawatan: pengalaman klinis memberikan suatu sarana laboratorium untuk menguji pengetahuan keperawatan. Perawat akan mengetahui bahwa pendekatan “buku ajar” mempunyai landasan kerja yang penting untuk praktik, tetapi bahwa harus dibuat modifikasi untuk merangkul lingkungan praktik, kualitas keunikan klien yang ada, dan pengalaman perawat yang didapatkan dari klien-klien sebelumnya.
  3. Kompetensi: proses kognitif yang digunakan perawat membuat penilaian keperawatan. Terdiri dari tiga tipe kompetensi (umum, khusus dalam situasi klinis dan khusus dalam keperawatan). Kompetensi umum mencakup metode ilmiah, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Kompetensi khusus dalam situasi klinis mencakup pertimbangan diagnostik, kesimpulan klinis dan pembuatan keputusan klinis. Kompetensi khusus dalam keperawatan berhubungan dengan proses keperawatan yang merupakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk secara kritis bertahap mulai pengkajian, menetapkan diagnosis, merencanakan tindakan, melakukan tindakan, dan megevaluasi tindakan tersebut.
  4. Sikap berpikir kritis: nilai yang harus ditunjukan keberhasilannya oleh pemikir kritis. Contoh sikap berpikir kritis adalah tanggung gugat, berpikir mandiri, mengambil risiko, kerendahan hati, integritas, ketekunan dan kreativitas.
  5. Standar untuk berpikir kritis: standar intelektual (standar universal untuk berpikir kritis) dan profesional. Standar profesional untuk berpikir kritis mengacu kriteria etik untuk penilaian keperawatan dan kriteria untuk tanggung jawab dan tanggung gugat profesional.

Kompenen diatas mengajarkan perawat berpikir kritis membantu memperlihatkan kompleksitas dari proses pembuatan keputusan dalam keperawatan.

Baca juga: Pentingnya Proses Keperawatan


Sumber:

  • Potter & Perry, 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik Ed. 4. Jakarta: EGC