Peran Perawat Dalam Penanganan Syok Anafilatik

Gustinerz.com | Keadaan seseorang dikatakan syok bila terdapat ketidakcukupan perfusi oksigen dan zat gizi ke sel-sel tubuh. Kegagal memperbaiki perfusi menyebabkan kematian sel yang profssif, gangguan fungsi organ dan akhirnya kematian. Berdasarkan penyebabnya syok dapat diklasifikasikan menjadi;

  1. Syok hipovolemik atau oligemik: perdarahan dan kehilangan cairan yang banyak akibat sekuder dari muntah, luka bakar, diare, atau dehidrasi yang menyebabkan pengisian ventrikel tidak adekuat.
  2. Syok kardiogenik: keadaan ini diakibatkan depresi berat kerja jantung sistolik. Tekanan arteri sistolik < 80 mmHg, indek jantung berkurang di bawah 1,8 L/m/m2 dan tekanan pengisian ventrikel kiri meningkat.
  3. Syok distributif: bentuk syok septic, syok neurogenik, syok anafilaktik yang menyebabkan penurunan tajam pada resistensi vaskuler perifer.

Reaksi anafilaktik adalah respon imunologi yang berlebihan terhadap suatu bahan dimana seorang individu pernah tersentisasi oleh bahan tersebut. syok ini terjadi secara akut yang disebabkan reaksi alergi. Anafilasis terjadi baik melalui mekanisme IgE maupun melalui non-IgE.

Alergen adalah apapun benda yang menjadi penyebab terjadinya syok anafilaktik. Beberapa alergen yang dapat menyebabkan terjadinya syok anafilaktif adalah

  • Makanan (hidangan laut, telur, susu atau buah-buahan)
  • Sengatan (lebah)
  • Kacang-kacangan (kacang tanah, kacan mede, almond, dll)
  • Obat-obatan tertentu (seperti antibiotik)

Syok anafilatik terjadi setelah pajanan antigen terhadap sistem imun yang menghasilkan reganulasi sel mast dan pelepasan mediator. Aktivasi sel mast dapat terjadi baik oleh jalur yang dimediasi umunoglobulin E (IgE) (anafilaktif maupun yang tidak dimediasi IgE (anafilaktoid). Antigen masuk kedalam tubuh dapat melalui bermacam cara (melalui kulit, inhalasi, saluran cerna dan melalui tusukan/suntikan). Pada kasus syok anafilaksis kejadian masuknya antigen yang paling sering adalah melalui tusukan/suntikan. Diperkirakan efek samping karena suntikan terjadi pada 6%-15% pasien yang dirawat di rumah sakit sedangkan alergi obat 6-19%. Tanda dan gejala terjadinya syok anafilaksis adalah

  • Gangguan sirkulasi perifer-pusat, ekstremitas dingin
  • Nadi cepat dan halus
  • Tekanan darah renda
  • Vena perifer kolaps
  • Pernapasan cepat dan dangkal
  • Stridor, weezing, dan gejala sumbatan nafas
  • Perubahan mental pasien syok, pasien gelisah hingga tidak sadarkan diri,
  • Produksi urin berkurang
  • Nauesea dan vomating

Berdasarkan derajat keluhan, anafilaksis dapat dibagi dalam derajat ringan (sering dengan keluhan kesemutan perifer, sensasi hangat, rasa sesak dimulut, dan tenggorok. Dapat juga terjadi kongesti hidung, pembekakan periorbital, pruritus/gatal seluruh atau sebagai tubuh, dan mata berair. Gejala ini terjadi biasanya 2 jam setelah terpajan). Derajat sedang (semua gejala ringan ditambah dengan bronkospasme dan edema saluran pernapasan atau laring denan dispnea, batuk dan mengi. Wajah kemerahan, hangat, dan ansietas). Derajat berat (sangat mendadak dengan tanda-tanda gejala pada derajat ringan dan sedang, bronkspasme, edema laring, dispnea berat, dan sianosis, difagia, keram pada abdomen, muntah, diare, dan kejang-kejang)

Perawat sebagai tenaga kesehatan yang bertanggung jawab dalam merawat pasien/klien selama 1×24 jam (sehari penuh) tentunya memiliki peran penting dalam mengatasi masalah syok anafilaktif yang terjadi pada pasien. Penatalaksanaan atua penanganan syok anafilaktif dilakukan berdasarkan algoritama penatalaksanaan reaksi anafilaksis. Berikut penanganan syok anafilaktif yang dikuti dari presentasi seminar & workshop emergency Ns. Jajuk (Kepala Ruangan IGD RS Soetomo Surabaya)

Terapi medikamentosa (obat-obat yang dibutuhkan): Adrenalin. Aminofilin, Anthistamin, dan Kortikosteroid. Adrenalin merupakan drug of choice dari syok anafilaktik. Adrenalin merupakan bronkodilator yang kuat, sehingga penderita dengan cepat terhindar dari hipoksia yang merupakan pembunuh utama. Adrenatil merupakan vaokonstriktor pembuluh darah dan intropik yang kuat sehingga tekanan darah dengan cepat naik kembali. Adrenalit adalah histamin bloker, melalui peningkatan produksi cyclic AMP sehingga produksi dan pelepasan mediator kimia dapat berkurang atau berhenti.

Terapi supportif:

  • Pemberian oksigen: jika laring atau brokospasme menyebabkan hipoksia pemberian oksigen 8-12 liter/menit harus dilakukan. Pada keadaan yang amat ekstrim tindakan trakeostomi atau krikotiroidektomi perlu dipertimbangkan.
  • Posisi trendelenburg: berbaring dengan kedua tungkai diangkat (diganjal dengan kursi) akan membantu menaikan venous return sehingga tekanan darah ikut meningkat.
  • Pemasangan infus: cairan plasma expander (Dextran) adalah pilihan utama guna dapat mengisi volume intravaskuler secepatnya. Jika cairan tersebut tak tersedia, RL atau NaCl fisiologis dapat dipakai sebaga cairan pengganti.
  • Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP): seandainya terjadi henti jantung (cardiac arrest).

Algoritma Penatalaksnaan Reaksi Anafilaksis

Referensi:

  • Jajuk Retnowati (Perawat IGD RS. Soetomo Surabaya). Syok Anafilaktik
  • Syamsul H. Salam (Baigan Ilmu Anastesis FK Unhas/RS dr. Wahidin S. Makasar). Penatalaksanaan Syok Anafilaksis.
  • http://www.alodokter.com/syok-anafilaktik