Esai oleh: IRMAHARDIYANTI (Semester 7B)

Era Revolusi Industri bukan lagi fenomena yang baru dalam perkembangan zaman. Era ini sudah terjadi pada abad-abad sebelumnya dimana teknologi semakin canggih dan terus berkembang. Revolusi industri ini pertama kali terjadi pada abad ke-18 di Britania Raya (Inggris). Saat itu terjadi perubahan besar dan cepat dibidang pertanian, manufaktur, tranportasi dan teknologi yang berdampak pada kondisi sosial, budaya, dan ekonomi dunia. Salah satu perubahannya ditandai dengan penemuan mesin uap. European Parliamentary Research Service (Davies 2015) menyampaikan bahwa revolusi industri terjadi empat kali dan saat ini dunia memasuki era revolusi industri 4.0.

Istilah Industri 4.0 pertama kali dikenalkan di Jerman pada saat Hannover Fair pada tahun 2011. Jerman mengganggap industri 4.0 penting karena merupakan bagian kebijakan High-Tech Strategy 2020 yang bertujuan untuk menjadikan Jerman selalu terdepan dalam dunia manufaktur (Heng, 2013). Tidak hanya Jerman beberapa negera lain juga ikut mewujudkan isitilah Industri 4.0 dengan menggunakan isitilah yang berbeda seperti Smart Factories, Smart Industry, atau Advance Manufacturing. Kemajuan dan perkembangan teknologi Revolusi Industri 4.0 ini menjadi disrupsi yang memberikan tantangan dan peluang bagi kita.



Angela Markel pada tahun 2015 mengenalkan gagasan Industri 4.0 di acara World Economic Forum (WEF) berpendapat bahwa Industri 4.0 adalah tranformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Tranformasi komprehensif ini menerapkan konsep inovasi automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia untuk pengaplikasiannya, dalam waktu yang cukup singkat dan tepat. Ada beberapa inovasi baru Industri 4.0, diantaranya Internet of Things and Services (Iot dan Ios), percetakan 3D, Big Data, Artifical Intellegence (AI), rekayasa genetika, mesin pintar dan robot. Inovasi-inovasi Revolusi Industri 4.0 ini berdampak pada berbagai sektor bidang yaitu sosial, budaya, ekonomi, politik maupun kesehatan dan sektor bidang lainnya.

Dampak Revolusi Industri 4.0 dalam bidang keperawatan

Dampak industri 4.0 pada bidang pelayanan kesehatan khususnya bidang keperawatan salah satunya adalah teknologi robot perawat atau robot nurse. Negara Jepang mengalami penurunan sumber daya perawat dan terjadi pertumbuhan cepat pada populasi usia lanjut, sehingga Jepang mengembangkan teknologi robot perawat atau robot nurse yang diberi nama RIBA (Robot for Interactive Body Assitance). RIBA adalah robot yang mampu mengangkat pasien dari dan ke tempat tidur, toilet dan kursi roda serta mampu mengenal wajah dan suara.

RIBA berkembang menjadi RIBA II yang memiliki fungsi yang sama (Wong, 2011). Contoh robot nurse lainya adalah robot Cody yang berfungsi untuk membersihkan tubuh pasien yang dilengkapi kamera dan laser sehingga dapat memberitahu secara tepat bagian tubuh mana yang butuh dibersihkan. Ketika ada bagian yang terindentifikasi melalui kamera dan laser, maka Cody segera bekerja untuk membersihkannya. Robot Cody ini digunakam untuk memandikan pasien. Adanya inovasi teknologi robot nurse ini bukan merupakan suatu kekhawatiran, namun merupakan suatu tantangan bagi perawat apakah mampu beradaptasi dengan kecanggihan teknologi Industri 4.0? Jika tidak maka akan tertinggal. Perawat harus memiliki solusi untuk bisa menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.

Profesionalitas perawat padukan IMTAQ & IPTEK

Profesionalitas dengan memadukan IMTAQ dan IPTEK adalah solusi bagi perawat untuk menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 ini. Menurut Kusnandar (2007) Profesionalitas adalah sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya dengan mengembangkan strategi-strategi dalam melakukan pekerjaannya. Profesionalitas seorang perawat dilihat dari bagaimana seorang perawat memiliki kemauan dan kemampuan untuk terus meningkatkan kualitas dan kompetensi dirinya dengan melakukan inovasi-inovasi dalam memberikan pelayanan biologis, psikologi sosial, dan spiritual untuk individu, keluarga dan masyarakat.

Profesionalitas seorang perawat yaitu mencakup peningkatkan sumber daya baik itu  kompetensi, berpikir kritis, soft skill, memiliki etika yang baik dan sikap dasar seorang perawat yaitu caring dalam memberikan asuhan keperawatan. Pakar Spiritual Mindfullness Universitas Diponegoro Semarang, Dr Meidiana Dwidiyanti, SKp MSc, mengatakan “perawat profesional hendaknya memiliki karakter rendah hati, lemah lembut, mudah diakrabi dan senang memudahkan urusan orang lain”. Ia juga menilai, teori Jean Watson tentang Human Caring menjadi esensi penting dalam menghadapi revolusi industri 4.0, yang tak kalah penting juga implementasi spiritual mindfulness perlu untuk dilakukan dalam berbagai intervensi keperawatan. “Sudah menjadi hal yang dimaklumi, tidak hanya aspek fisik saja yang perlu diperhatikan dalam proses penyembuhan pasien, namun asspek spiritual juga turut menjadi faktor pendukung untuk akselerasi kesembuhan pasien”, katanya dalam kuliah umum Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, Minggu (20/1/2019) dikutip dari suaramerdeka.com.

Caring perawat tidak bisa digantikan oleh robotik

Caring dan sentuhan terapeutik dalam pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual pasien adalah hal yang tidak bisa dilakukan oleh robot secanggih apapun. Maka dari itu perawat tetaplah menjadi pemegang keputusan dalam memberikan asuhan keperawatan. Menurut Henneman (2010) Segala data dan informasi dari pasien akan menjadi pertimbangan perawat dalam mengambil keputusan. Jadi, robot nurse hanya berfungsi sebagai mesin pembantu untuk memudahkan kerja perawat namun bukan untuk menggantikan peran perawat.

Perawat juga harus mampu menjadi advokat memberikan informasi, membela dan melindungi hak-hak pasien, memberikan edukasi, menjadi seorang konselor dan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya. Perawat juga harus melek dan menguasai teknologi, membangun jaringan yang luas,  menguasai bahasa asing dengan menjadikan Industri 4.0 sebagai peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mempunyai daya saing yang tinggi. Wakil Rektor 1 Universitas Airlangga, Prof. Djoko Santoso dalam acara Seminar Nasional Revolusi Industri 4.0 (12/11/2019) dikutip dari Liputan6.com  berpendapat bahwa “majunya dunia kesehatan melalui digitalisasi membuat perawat harus mampu beradaptasi, perawat harus lebih inovatif dan kolaboratif untuk merespons bisnis yang cepat berubah”.

Majunya dunia kesehatan berkaitan erat dengan mutu pelayanan yang berhubungan dengan profesionalitas kerja tenaga kesehatan termasuk perawat. Apriyatmoko & Sukarno (2013) mengatakan bahwa dalam menjamin kualitas pelayanan dalam memberikan asuhan keperawatan diperlukan adanya sikap profesioanlisme perawat. Hal ini didukung berdasarkan hasil penelitian Hubungan Profesionalisme Perawat Terhadap Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap Utama oleh Yetty Hardianty (2015) terdapat hubungan antara profesionalisme perawat terhadap kepuasan pasien dengan hasil responden yang menilai perawat profesional dan merasa puas terhadap pelayanan keperawatan adalah 58 orang (88,0%) dan responden yang menilai sikap perawat kurang profesional dan merasa kurang puas terhadap pelayanan keperawatan sebanyak 18 orang responden (21,4%). Profesionalitas kerja inilah yang sekarang kurang diterapkan oleh perawat padahal itu dapat menjadi suatu nilai lebih (daya saing yang tinggi)  bagi perawat dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0.

Perawat yang profesional akan selalu memadukan IMTAK dan IPTEK dan memaksimalkan perannya sebagai pemberi asuhan keperawata untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Perawat yang memiliki profesionalitas tidak akan tertinggal atau bahkan tergantikan dengan teknologi mesin, secanggih apapun teknologi itu, bahkan akan terus digunakan karya dan jasanya dalam dunia keperawatan. Marilah jadi perawat yang profesional.


Sumber:

  • Anonim. 2017. Tinjauan Tentang Profesionalitas (http://digilib.unila.ac.id/932/9/BAB%20II.pdf), diakses pada tanggal 11 Desember 2019
  • Agustien. 2018. Robot Perawat (Robot Nurse) (http://pkko.fik.ui.ac.id/files/UTS%20SIM.pdf), diakses pada tanggal 11 Desember 2019
  • Hardanty Yetty. 2015. Hubungan Profesionlime Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Di Ruang Rawat Inap Utama (https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMPSIK/article/download/19286/18639), diakses pada tanggal 11 Desember 2019
  • Kurniawan Dian. 2019. Pelaku Industri Kesehatan Bakal Dapat Manfaat Revolusi Industri 4.0 (https://m.liputan6.com/surabaya/read/4109376/pelaku-industri-kesehatan-bakal-dapat-manfaat-revolusi-industri-40), diakses pada tanggal 12 Desember 2019
  • Kusnandar Adit. 2015. (https://files.osf.io/v1/resources/6hsz7/providers/osfstorage/5c9ee8cf08f52b001b585043?action=download&version=1&direct), diakses pada tanggal 11 Desember 2019
  • Prasetyo Hoedi. 2018. Industri 4.0 : Telaa Klasifikasi Aspek Dan Arah Perkembangan Riset (https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgti/article/viewFile/18369/12865), diakses pada tanggal 11 Desember 2019
  • Prihantoro, 2019. Pakar : Perawat Profesional Hendaknya Rendah hati dan Lemah Lembut (https://www.suaramerdeka.com/index.php/news/baca/161605/pakar-perawat-profesional-hendaknya-rendah-hati-dan-lemah-lembut), diakses pada tanggal 12 Desember 2019.

15 Comments