Kabar gembira datang dari Universitas Airlangga khususnya pada Fakultas Keperawatan (FKp), pada bulan ini telah dikukuhkan Guru Besar (Profesor) dalam bidang keperawatan yakni Prof. Dr. Ah Yusuf, S.Kp., M.Kes dan Prof. Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes yang merupakan guru besar aktif yang dimiliki Fakultas Keperawatan Unair saat ini, dengan demikian FKp Unair telah memiliki 3 orang Guru Besar.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar (8/10/20), Prof. Ah Yusuf menyampaikan pentingnya peran perawat dalam merawat pasien gangguan jiwa yang dikembangkan dalam penelitiannya yang berjudul “Model Holistik Dalam Merawat Pasien Gangguan Jiwa”.



“Gangguan jiwa yang paling menonjol adalah pada perilaku, pikiran, dan perasaan. Kemudian diikuti oleh gejala fisik misalnya gangguan tidur, makan, pusing, tegang dan sebagainya. Kalau itu sampai menyebabkan gangguan pekerjaan, maka disitu akan menyebabkan gangguan jiwa. rata-rata orang mengalami gangguan jiwa, setelah mengalami gangguan fungsi pekerjaan.” ujar Prof. Ah Yusuf.

Prof. Yusuf juga menyampaikan bahwa orang yang mengalami gangguan mental emosional, tidak pernah menyadari bahwa dia mengalami gangguan jiwa, “cemas” biasa dialami oleh setiap orang, tapi ketika cemas itu berlebihan maka ia masuk dalam kategori gangguan, dampaknya kualitas kerja terganggu, kualitas hidup terganggu dan produktifitas terganggu yang secara langsung juga akan mengganggu ekonomi.

Prof. Ah. Yusuf sedang menyampaikan orasi ilmiah guru besar, (Unair).

Selanjutnya, Prof. Ah Yusuf menyampaikan untuk mengatasi keadaan tersebut maka perlu dilakukan menguatkan meaning of life (memaknai hidup) agar orang tidak cemas, tidak sakit hati, tidak marah dan dapat mengambil hikmah. Kemudian dikembangkan lagi dengan penguatan spiritual care (syukur, sabar, dan ikhlas).

Baca juga: Mengenal Prof. Ah Yusuf Guru Besar Keperawatan Ke-11 di Indonesia

Di waktu yang berbeda (14/10/20) dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar, Prof. Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes menyampaikan judul ilmiah “Paradigma Baru: Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Mellitus Berbasis Resiliensi”.

“Pada masa pandemi Covid-19 ini, Diabete melitus merupakan salah satu komorbid terbanyak penyebab covid-19 dan masuk top three setelah hipertensi dan obesitas […]. Kondisi ini jika tidak ditangani dengan serius dapat berdampak pada aspek fisik, psikologis, sosial dan spiritual sehingga dapat menurunkan kualitas hidup dari diabete melitus” ujar Prof. Kusnanto.

“Perawat sebagai tenaga profesional dapat memfasilitasi penderita didalam melakukan perawatan diri secara mandiri untuk mencapai kondisi resiliensi penderita diabetes melitus. Paradigma baru pengelolaan diabetes melitus dari perspektif keperawatan bertujuan meningkatkan kualitas hidup penderita agar morbiditas dan mortalitas bisa diturunkan […]. Resiliensi diabetes adalah suatu kondisi yang berkaitan dengan kemampuan untuk bertahan hidup dan bangkit kembali dari keterpurukan” sambung Prof. Kusnanto.

Prof. Kusnanto sedang menyampaikan orasi ilmiah, (Unair).

Dalam pemaparan orasi ilmiah Prof. Kusnanto menjelaskan bahwa ada empat tahap dalam membangun resiliensi penderita diabetes yakni (1) Determination: membangun tekad menjadi dasar seseorang untuk menjadi resilien, penderita harus memiliki niat dan tekad untuk dapat berhasil dan bertahan didalam menjalani kondisi diabetesnya. (2) Intention: penderita harus memiliki daya tahan yang baik agar penderita dapat bertahan dalam situasi yang baik dan menyenangkan maupun situasi yang tidak menyenangkan. (3) Adaptability: kapasitas untuk menjadi fleksibel dan banyak ide yang diharapkan dari diri penderita untuk mengatasi lingkungan yang merugikan dan bisa menyelesaikan diri sendiri agar sesuai kondisi yang berubah. (4) Recoverability: kemampuan untuk pulih secara fisik maupun kognitif. Penderita diharapkan dapat memahami kebutuhanya, sehingga penderita dapat melakukan penyembuhan secara mandiri untuk pencapaian perawatan diri yang lebih baik.

Baca juga: Mengenal Prof. Kusnanto Guru Besar Keperawatan Ke-12 di Indonesia


Sumber:

  • Youtube Universitas Airlangga