Kontribusi Mahasiswa Keperawatan Sebagai Bagian Dari Masyarakat Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19: Penonton atau Aktor?

ilustrasi | KCC Daily

Oleh: Sri Wahyu Ningsi Latif (Semester 3/A)

(tulisan ini dilombakan dalam kegiatan Dies Natalis Keperawatan UNG 2020)

Sudah hampir setahun belakangan  ini dunia digemparkan dengan munculnya jenis virus baru yang menyebabkan bumi kehilangan begitu banyak penduduknya. Dari data yang dihimpun oleh worldometers.info per 13/12/2020, pandemi Corona Virus Disease-19 setidaknya telah berhasil menyebar ke hampir 218 negara, menginfeksi kurang lebih 72.1 juta manusia dan menewaskan hampir 1.61 juta penduduk bumi. Sebelum munculnya pandemi Corona Virus Diseasa-19,  dunia juga pernah mengalami wabah penyakit yang meluas diberbagai wilayah dan merenggut jutaan korban.  Seperti wabah sampar atau pes di Eropa pada abad ke-14  telah menyebabkan kematian hampir 1/3 populasi. Kemudian persis seabad lalu, sekitar 102 tahun yang lalu dunia juga  ikut dihebohkan dengan mewabahnya epidemi flu Spanyol yang membunuh 20-100 juta manusia.



Dunia juga sudah pernah dibuat heboh oleh  penyakit-penyakit menular baru yang muncul diabad ke 19-20 ini, seperti Kolera, Flu Rusia, Chikungunya, Flu Asia, Ebola, AIDS, Flu Hongkong, dan terakhir Pandemi Corona virus disease-19 yang baru muncul di awal abad 21 ini (m.antaranews.com). Berdasarkan paparan data di atas, telah terbukti bahwa konsekuensi atau dampak dari penyakit menular ini tidak ada tandingannya.

Dampak yang dihasilkan oleh pandemi Corona Virus Disease-19 telah menghebohkan seluruh masyarakat dunia khususnya Indonesia. Bukan hanya berdampak pada persoalan kesehatan dan medis, dunia dan segenap masyarakatnya juga terpaksa harus ‘menelan pil pahit’, dikarenakan Pandemi Corona Virus Disease-19 ini telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari sektor ekonomi, politik, sosial, budaya hingga sektor pendidikan,  terutama  bagi kita para mahasiswa keperawatan. Pandemi Corona Virus Disease-19 ini juga memberikan dampak yang signifikan terhadap segi kehidupan.

Lalu, hal apa yang bisa kita kontribusikan? Tidakkah sebagai calon tenaga kesehatan, patut bagi kita mencari alternatif baru dalam menyikapi pandemi ini? padahal sudah hampir setahun anjuran pemerintah dilaksanakan, namun stay at home tidak cukup menjadi jalan ninja bagi kita untuk bertindak. Setidaknya kita harus memikirkan rencana apa kedepannya yang harus kita lakukan  untuk membantu pemerintah, tenaga kesehatan dan seluruh elemen masyarakat dalam memerangi Pandemi Corona Virus Disease-19 ini!

Pandemi Corona Virus Disease-19 vs Epidemi Sampar

Keberadaan pandemi Corona Virus Disease-19 memang berhasil membuat seluruh masyarakat merasa cemas, gelisah, dan ketakutan akan keberadaanya. Albert Camus menggambarkan bentuk ketakutan dan keresahan ini sebagai situasi absurditas atau keadaan yang tidak masuk akal. Siapa Albert Camus ? Albert Camus adalah seorang sastrawan sekaligus filsuf yang lahir pada 7 November 1913 di Mondovi, sebuah desa kecil di Alzajair. Dalam novelnya yang berjudul Le Peste (Sampar), Camus mencoba mengajak setiap manusia untuk mempertanyakan eksistensi dirinya ketika dihadapkan dengan situasi yang absurd.

Novel “Sampar” mengambil latar  tempat dan waktu pada tahun 1947 di Oran, sebuah kota di Aljazair, Perancis.  Situasi Oran yang tadinya damai tiba-tiba digemparkan oleh sebuah epidemi penyakit sampar  atau pes yang diakibatkan oleh tikus-tikus mati secara mendadak. Hal ini membuat seluruh masyarakat Oran menjadi takut dan kalut. Melalui penokohan yang kuat, Albert Camus mencoba mengajak para pembaca untuk melihat berbagai potret serta sikap manusia atas reaksi mereka terhadap keadaan tersebut. Berbagai macam karakter bermunculan. Seperti tokoh dr. Bernard Rieux yang penuh pengorbanan dalam menangani kasus epidemi sampar tersebut, para mayarakat Oran yang penuh kekhawatiran, ketakutan dan malah  menyalahkan pemerintah yang dinilai lamban dalam memberikan intervensi, media massa yang melebih-lebihkan pemberitaan kasus sampar di Oran tanpa memberikan sudut pandang pemberitaan yang jelas dan justru membuat masyarakat menjadi panik dan gelisah, ada juga tokoh Raymond Rambert yang bersifat egois dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri (mencoba keluar dari Oran yang sedang dilockdown hanya karena ingin bertemu dengan kekasihnya) tanpa memperdulikan  keselamatan orang banyak, kemudian Pastor Paneloux seorang imam Yesuit, yang menurutnya  bahwa penyakit tersebut adalah kutukan dan azab dari Allah karena umat-Nya terlalu banyak berbuat  dosa, serta Cottard yang mencoba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari penjualan harga barang-barang yang melambung tinggi.

Dengan setting cerita seperti di atas, Albert Camus mencoba untuk mengajak  para pembacanya  memikirkan ulang langkah dan keputusan yang dapat diambil. Di tengah kegamangan, kebimbangan, kekhawatiran, ketakutan  dan kecemasan masyarakat, pilihan yang bisa diambil  tidak banyak dan sangat terbatas. Pilihan tersebut hanya 2: mementingkan kepentingan diri sendiri atau mementingkan kepentingan seluruh penduduk.

Situasi dunia di tengah pandemi Corona Virus Disease-19 sekarang  kiranya relevan dengan novel “Sampar” karya Albert Camus ini. Totalitas pengabdian serta pelayanan dari  Dr. Rieux dapat kita lihat dalam diri para tenaga medis yang sungguh-sungguh mengorbankan diri untuk menangani para penderita Corona Virus Disease-19 tanpa memperdulikan segala risiko yang ada. Kemudian kegelisahan dan ketidakteraturan diri penduduk Oran dapat kita lihat dalam diri hampir seluruh masyarakat Indonesia yang cenderung lebih menyalahkan tindakan pemerintah tanpa berusaha berbuat banyak untuk membantu meringankan orang-orang yang terkena dampak pandemi Corona Virus Disease-19. Kemudian peran media yang memberitakan kasus epidemi sampar di Oran, dapat kita lihat dalam aneka macam pemberitaan media sosial tentang Corona Virus Disease-19  sekarang yang cenderung diisi oleh berita palsu (hoax) yang memicu kegelisahan dan ketakutan rakyat, daripada sebuah kenyataan dan harapan. Lalu sikap  egoisme Rambert dapat kita lihat korelasinya dengan situasi sekarang, terutama dalam diri beberapa orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan keselamatan orang banyak (misalnya nongkrong dengan teman-teman di ruang publik, serta tetap mengadakan hajatan walaupun ada larangan dari pemerintah untuk tidak berkerumun karena dapat berpotensi ‘ambil bagian’ dalam mata rantai penyebaran Corona Virus Disease-19).

Pandangan Pastor Paneloux yang melihat penyakit sebagai kutukan dan azab  dari Allah dapat kita lihat dalam diri beberapa pemuka agama yang menggunakan pandemi Corona Virus Disease-19 untuk mempolitisir agama tanpa memberikan solusi  apapun terhadap pencegahan atau penanganan Corona Virus Disease-19.  Kemudian tokoh Cottard yang berusaha  meraup keuntungan melimpah dari harga penjualan barang-barang yang melambung tinggi, dapat kita lihat dalam diri sekelompok oknum pedagang yang justru menggunakan pandemi Corona Virus Disease-19 untuk menimbun barang dan menjualnya dengan harga yang sangat tinggi, sehingga tidak mudah dijangkau oleh kalangan menengah kebawah yang justru lebih rentan terkena Corona Virus Disease-19.

Kontribusi Mahasiswa Keperawatan di Tengah Pandemi Corona Virus Disease-19
Sedikit mengulas novel “Sampar” tadi dan mencoba membaca keadaan masyarakat Indonesia di tengah pandemi Corona Virus Disease-19 ini, apakah sudah terpikirkan oleh kita kontribusi apa yang layak untuk diberikan ?, bukankah sebagai calon perawat milenial, kita terlalu kaku untuk bertindak dengan berdiam diri di rumah?

Dengan melihat gambaran situasi negara yang chaos diatas tentunya peran dan eksistensi mahasiswa keperawatan patut dipertanyakan. Berikut menurut penulis adalah beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk aksi nyata mahasiswa dalam melawan pandemi Corona Virus Disease-19:

Mahasiswa keperawatan sebagai Social of Control

Sejak awal pemberitaan kemunculan Pandemi Corona Virus Disease-19 di tanah air, tentu saja membuat hampir seluruh masyarakat Indonesia panik dan gelagapan. Dari hasil survey yang dilakukan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) bekerjasama dengan lembaga survey Indo-Barometer ditemukan bahwa tingginya tingkat kekhawatiran mayarakat soal pemberitaan pandemi Corona Virus Disease-19  sebanyak 68% (kompas.com).

Salah satu penyebabnya adalah pemberitaan media khususnya media sosial yang terkesan menakut-nakuti, memberikan informasi hoax, dan tidak bersifat mengedukasi masyarakat sehingga justru menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan ditengah masyarakat. Disinilah peran mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan sebagai social of control sangat diperlukan.

Mahasiswa yang dinilai oleh masyarakat sebagai kaum intelektual dan cendekiawan kiranya dapat berpikir kritis terhadap pemberitaan pandemi Corona Virus Disease-19 serta mampu merubah paradigma yang berkembang ditengah masyarakat mejadi lebih terarah sesuai kepentingan bersama. Salah satu aksi nyata mahasiswa keperawatan sebagai social of control adalah dengan mencoba melaporkan segala bentuk pemberitaan yang bersifat hoax melalui aplikasi Hoax Buster Tools.

Hoax Buster Tools adalah sebuah aplikasi penangkal hoax yang dicetuskan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan diresmikan oleh MENKOMINFO pada januari 2018 silam. Aplikasi yang bisa diunduh melalui Google Store ini dilengkapi dengan fitur  Lapor hoax, alat cek gambar, dan video yang memungkinkan setiap pengguna memerangi hoax.

Mahasiswa keperawatan sebagai agen promotif dan preventif

Kurangnya pemahaman serta pegetahuan mengenai pandemi Corona Virus Disease-19 dapat berisiko menimbulkan sifat ketidakteraturan dalam diri setiap masyarakat Indonesia. Seperti cenderung menyalahkan pemerintah, menstigmatisasi korban Covid19, dan yang lebih parah adalah bersikap abai terhadap protokol kesehatan yang telah dibuat guna memutus mata rantai penyebaran pandemi Corona Virus Disease-19.

Mahasiswa keperawatan sebagai calon tenaga medis yang nantinya akan bergelud dalam dunia kesehatan tentunya harus ambil andil dalam menyikapi masalah tersebut. Salah satu kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh mahasiswa keperawatan adalah dengan mengikutsertakan diri dalam kegiatan-kegiatan kerelawanan yang bersifat edukatif dan humanis. Contohnya dengan mencoba menjadi bagian dari RECON (Relawan Covid-19 Nasional) yang difasilitasi langsung oleh KEMDIKBUD.

Anggota dari RECON KEMDIKBUD adalah seluruh mahasiswa kesehatan dan nonkesehatan dari berbagai penjuru Indonesia yang siap membantu masyarakat dan negara dalam menanggulangi ancaman Covid-19 di masing-masing wilayah yang ada di tanah air. Seluruh anggota relawan difasilitasi dengan pelatihan materi edukasi, promotif dan preventif serta program-program yang dinilai dapat membantu masyarakat di era Pandemi Corona Virus Disease-19. Program-program tersebut  misalnya perealisasian gerakan masyarakat hidup sehat, 31 Hari Tantangan #SiapAdaptasi di era new normal, serta penyediaan layanan berbasis web (relawan.kemdikbud.go.id) yang berfungsi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pendampingan/ komunikasi mengenai pandemi Corona Virus Disease-19.

Membuat dan mewujudkan desa/dusun Binaan tanggap Covid-19

Setidaknya di desa sendiri dengan harapan mengurangi risiko penyebaran pandemi dan bisa menjadi acuan bagi desa-desa lainnya. Rencana penerapan kegiatan ini kiranya mahasiswa keperawatan dapat berkolaborasi dengan beberapa rekan mahasiswa kesmas, karangtaruna desa terkait, dan dibawah pengawasan langsung oleh gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Provinsi atau Kabupaten/Kota Gorontalo.



“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”

Pandemi Corona Virus Disease-19 tentu saja berhasil menghadapkan manusia pada kekacauan dan situasi yang absurd. Namun dengan begitu, keadaan ini juga menuntut setiap individu untuk menunjukan jati dirinya. Menjadi makhluk yang berpasrah atas keadaan atau berusaha melawan keabsurdan tersebut.

Mahasiswa sebagai generasi penerus dan aset bangsa tentu saja harus menjadi pihak yang memberikan aksi nyata dalam membantu masyarakat. Tindakan-tindakan kreatif dan inovatif kiranya dapat diaplikasikan guna memutus penyebaran pandemi di tanah air. Dengan aksi nyata tersebut, kiranya dapat membuktikan bahwa kita sebagai mahasiswa tidak diam saja atas penderitaan, melainkan memilih menggunakan kesempatan besar ini untuk menunjukan jati diri serta kebermanfaatan kita bagi masyarakat Indonesia. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita kapan lagi?


Sumber:

  • Camus, Albert. 1985. Sampar (terjemahan Nh. Dini). Jakarta.2013: Yayasan Penerbit Obor (https://bakasuracendekia.blogspot.com/2018/11/ebook-sampar-albert-camus-free-download.html)  pada 7 Desember 2020 pukul 09.12 wita
  • ( https://www.worldometers.info/coronavirus/?utm_campaign=homeAdUOA?Si ) pada 13 Desember 2020 pukul 13:05 wita
  • ( https://www.antaranews.com/infografik/1397630/pandemi-pada-abad-19-20 ) pada 13 Desember 2020 pukul 13:24 wita
  • ( https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/20/13185191/survei-rri-indo-barometer-tingginya-kekhawatiran-warga-atas-wabah-covid-19 ) pada 16 December 2020 pukul 19:37 wita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.