Terapi Belatung Pada Luka Kronis DM

Gustinerz.com | Luka kronik adalah luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali (rekuren) atau terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang biasanya disebabkan oleh masalah multi faktor dari penderita. Pada luka kronik luka gagal sembuh pada waktu yang diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi dan punya tendensi untuk timbul kembali. Contohnya adalah ulkus tungkai, ulkus vena, ulkus arteri (iskemi), penyakit vaskular perifer ulkus dekubitus, neuropati perifer ulkus dekubitus (Bryant, 2007)

Penderita diabetes mempunyai resiko 15% terjadinya ulkus kaki diabetik pada masa hidupnya dan resiko terjadinya kekambuhan dalam 5 tahun sebesar 70%. Penderita diabetes meningkat setiap tahunnya. Di Indonesia dilaporkan sebanyak 8,4 juta jiwa pada tahun 2001, meningkat menjadi 14 juta pada tahun 2006 dan diperkirakan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2020 (Depkes, 2010).

Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lender dan ulkusadalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati perifer, (Andyagreeni, 2010).

Upaya yang dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat diperlukan intervensi perawatan luka yang efektif dan efisien. Isu terkini yang berkait dengan manajemen perawatan luka berkaitan dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolik semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai kompleksitas suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan optimal (Carol, 2005)

Maggot Debridement Therapy (MDT) atau yang lebih dikenal sebagai terapi belatung, biodebridement, atau terapi larva. Dalam MDT, belatung hidup diterapkan pada luka pasien untuk melakukan debridement, disinfeksi, dan, akhirnya, penyembuhan luka. MDT diindikasikan untuk luka terbuka dan borok (ulcer) yang mengandung jaringan gangren atau nekrotik dengan atau tanpa infeksi (Sherman, 2009).

Maggot adalah lalat yang belum dewasa, tampangnya memang jelek dan menjijikan tapi merupakan antibakteri alami, maggot memakan daging busuk/mati, para dokter mengetahui sejak dulu bahwa maggot cenderung menyantap kulit mati, dapat membantu orang yang lukanya mengalami infeksi. tapi dengan ditemukannya antibiotik modern, therapy maggot mungkin tak akan dilirik lagi.

Terapi larva adalah /MDT menaruh dengan sengaja belatung pembasmi kuman atau larva lalat ke kulit yang luka atau jaringan pada luka manusia atau binatang. Praktek ini digunakan secara luas sebelum ditemukannya antibiotik, untuk membersihkan jaringan mati di luka guna mempercepat penyembuhan. Menaruh belatung pada luka terbuka ternyata membersihkan luka jauh lebih cepat dibandingkan dengan perawatan normal, Meskipun itu tidak mengarah pada kesembuhan yang lebih cepat.

Menurut M Shivshankar, et al, (2016), terdapat 2 metode aplikasi maggot debridement therapy (MDT), yaitu

  1. Maggot diabarkan merayap bebas ke dasar luka dan ditutupi oleh nilon bersih. Kemudian ditempatkan perban untuk menajaga maggot tetap pada luka. Biasanya digunakan sebanyak 10 maggot / cm2 permukaan luka selama 3 hari secara terus menerus. Setelah itu maggot dibuang dengan cara mencuci luka dengan garam.
  2. Metode tidak langsung, maggot di tangkap dan dimasukkan ke dalam bio bag khusus yang mengandung alkohol polivinil spacer. Bio bag memiliki pori-pori dan memungkinkan maggot bermigrasi (eksresi/sekresi) pada luka. Bio bag ini memfasilitasi penerapan MDT dan juga pemeriksaan dasar luka selama perawatan setiap saat.

Prosedur Terapi Belatung pada luka DM

  1. Larva yang akan digunakan untuk terapi larva harus steril (bebas bakteri) untuk mencegah terjadinya kontaminasi saat diaplikasikan pada luka.
  2. Larva diperlihara pada lingkungan yang lembab dan steril untuk mendapatkan larva yang medical grade (Chan DCW, et al, 2007).
  3. Telur dicuci dengan larutan antiseptik dan ditempatkan di dalam wadah steril yang berisi brewer’s yeast dan kedelai sebagai sumber makanan agar larva tetap bertahan hidup sampai dapat ditranspor dalam wadah steril untuk kebutuhan terapi larva.
  4. Pada terapi larva, sekitar 5-10 ekor larva diaplikasikan per cm2 luka (Rafter, L, et al, 2013).
  5. Larva yang digunakan ialah instar 1 ber-ukuran panjang sekitar 2 mm (1-3 mm) dan dapat berkembang menjadi 8-10 mm setelah 5-7 hari.
  6. Luka dan larva kemudian ditutup dan diamkan selama 2 sampai 3 hari. Selama 48-72 jam larva bergerak pada permukaan luka sambil menyekresi sekret yang berpotensi memecahkan dan mencairkan jaringan nekrotik (Rafter, L, et al, 2013).
  7. Larva dapat digunakan bersama antibiotik sistemik, dan juga tidak memperlihatkan efek merugikan pada X-ray sehingga larva dapat dibiarkan pada tempatnya saat dilakukan tindakan tersebut
  8. Jika luka masih belum terlihat baik maka dapat diulangi hingga nantinya terlihat luka yang bersih dan tampak jaringan sehat.

Indikasi Terapi Belatung

Indikasi untuk terapi larva ialah luka kronis yang tidak menyembuh disertai jaringan nekrotik. Sebagai contoh: ulkus akibat tekanan, ulkus venosa, ulkus diabetik, ulkus neuropatik (non-diabetes), ulkus iskemik/arterial, luka traumatik, luka bedah, tromboangitis obliterans, luka/ulkus pasca trauma, necrotizing fasciitis, pioderma gangrenosum, abses pada maleolus, osteomielitis sinus pilonidal, luka infeksi pasca bedah, luka akibat proses keganasan, luka bakar disertai infeksi MRSA, dan mastoiditis subakut (Chan DCW, et al, 2007)

Kontra Indikasi

Menurut Chan DCW, et al (2007) terdapat kontraindikasi relatif dan kontraindikasi absolut untuk terapi larva. Yang termasuk kontraindikasi relatif yaitu:

  1. Luka yang kering, karena larva memerlukan lingkungan yang lembab
  2. Pasien yang tidak memahami penggunaan terapi larva
  3. Luka yang membutuhkan inspeksi yang sering

Yang termasuk kontraindikasi absolut yaitu:

  1. Luka terbuka yang berhubungan dengan kavitas tubuh atau organ dalam.
  2. Luka yang dekat dengan pembuluh darah besar
  3. Luka yang mudah berdarah
  4. Tulang atau tendon yang nekrotik
  5. Gangguan perdarahan (herediter atau farmakologik)
  6. Luka yang kurang vaskularisasi (peripheral vascular disease)
  7. Alas luka yang ditutupi kerak keras
  8. Fistula yg belum dilakukan tindakan pembedahan
  9. Alergi terhadap telur, kedelai, brewer’s yeast, dan larva
  10. Semua keadaan dimana debridemen merupakan kontraindikasi

Kesimpulan

Terapi dengan menggunakan belatung berhasil karena belatung hanya memakan jaringan yang mati dan membusuk, sehingga luka jadi bersih. Belatung ini tidak memakan lebih jauh jaringan yang sehat dan memilih untuk saling memangsa ketika mereka kehabisan makanan. Belatung ini terbukti mampu menyembuhkan luka pasien diabetes secara total yang tak bisa dokter lakukan dengan cara menaruh beberapa ekor belatung hydrogel pada luka yang nekrotik kemudian ditutup. Setelah beberapa lama kemudian dibuka, terbukti jaringan sel yang mati telah dimakan oleh belatung dan uniknya mereka tidak memakan jaringan yg masìh hidup. Fakta lain membuktikan bila cadangan makanan belatung telah habis mereka akan memakan satu sama lain dan terapi maggot ini besar potensinya mencegah infeksi berbahaya.

Belatung diketahui dapat membunuh bakteri dari luka dengan berbagai macam mekanisme yang mereka miliki. Mereka mengeluarkan berbagai macam sekret yang memiliki sifat antibiotik atau tinggal memakan bakteri yang ada dengan enzim-enzim pencernaan. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik juga dapat diatasi oleh belatung. Jika belatung berhasil membuang jaringan yang mati, secara otomatis sumber infeksi telah dihilangkan.Selain memakan jaringan yang mati dan disinfeksi, belatung juga dapat mengsekresikan faktor-faktor pertumbuhan yang berguna dalam mempercepat penyembuhan luka.

Belatung pada terapi ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama didalam luka, karena belatung yang tumbuh besar dan terlalu lama di dalam luka juga dapat memakan jaringan yang hidup. Inilah alasan mengapa terapi ini dibatasi hingga 2 hari saja. Jadi perlu kehati-hatian yang besar dalam melakukan terapi belatung. < Beranda

Referensi:

Laporan SGD (Small Group Discussion) “Efektivitas Maggot Debridement Therapy (MDT) Pada Luka Kronis Ulkus Diabetikum oleh Salim, Indrawati, Rozi, Lestari, 2017