Pergesekan (friction)
Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang berlawanan. Pergesakan dapat menyebabkan abrasi dan merusakan permukaan epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada pergantian sprei pasien yang tidak berhati-hati.
Nutrisi
Malnutrisi, hipoalbumin, dan kehilangan berat badan diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya dekubitus.
Usia
Pasien yang sudah tua memiliki risiko tinggi terkena dekubitus hal ini karena fisiologis dari kulit dan jaringan berubah seiring dengan penuaan. Penuaan mengakibatkan kehilangan kekuatan otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan respon inflamatori, penuruna elastisitas kulit dan penurunan kohesi antara dermis dan dermis. Hal ini dapat mengakibatkan toleransi kulit terhadap tekanan dan pergesakan menjadi berkurang.
Tekanan arteriolar yang rendah
Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit terhadap tekanan. Hasil studi dari Bergstrom (1992) didapatkan bahwa tekanan sistolik dan diastolik yang rendah berkontribusi pada perkembangan dekubitus.
Stres emosional
Depresi dan stress emosional pada pasien psikiatrik juga merupakan faktor risiko terjadinya dekubitus.
Merokok
Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan memiliki efek toksik terhadap endothelium pembuluh darah. Suriadi (2002) menemukan ada hubungan antara merokok dengan perkembangan terhadap luka tekan (dekubitus)
Temperatur kulit
Sugama (1992) menemukan bahwa peningkatan temperature merupakan faktor yang signifikan dengan risiko terjadinya dekubitus.
Sumber:
- Keseluruhan artikel diatas diolah dari buku: Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika